
Oleh: Prima Trisna Aji
Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang
Ada musisi yang dikenang karena suaranya. Ada yang dikagumi karena karya-karyanya. Namun, ada pula yang meninggalkan kesan mendalam justru karena caranya memperlakukan orang lain. Bagi saya, sosok terakhir itu adalah Carlo, drummer grup musik Jikustik.
Perjumpaan singkat di sebuah hotel di Yogyakarta membuat saya memahami bahwa kebesaran seorang musisi tidak selalu tercermin dari gemerlap panggung, riuh tepuk tangan, atau banyaknya penggemar. Terkadang, kebesaran itu justru terlihat dari keramahan, kesediaan menyapa, dan cara memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan.
Saya termasuk generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu Jikustik. Lagu seperti Setia, Maaf, Tak Ada yang Abadi, Puisi, Selamat Malam Dunia, hingga Bagai Elang menjadi bagian dari kenangan masa kecil dan masa muda.
Ada sesuatu yang khas dari Jikustik. Melodinya sederhana tetapi membekas, liriknya romantis tanpa kehilangan kedalaman, dan musiknya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perjalanan Jikustik memang tidak selalu mulus. Pergantian vokalis dari era Pongki Barata, Brian Prasetyoadi, hingga kehadiran kembali Icha menghadirkan warna berbeda, tetapi tidak menghilangkan identitas musikal Jikustik.
Di tengah perjalanan itu, perhatian publik sering tertuju kepada vokalis. Hal tersebut wajar karena penyanyi berada di garis depan pertunjukan. Akan tetapi, sebuah grup musik tidak pernah dibangun oleh satu orang saja. Di balik dentuman drum yang menjaga irama, ada Carlo, sosok yang menurut saya layak mendapat perhatian bukan hanya karena kemampuan bermusiknya, melainkan juga kualitas kemanusiaannya.
Suatu ketika, saya bersama keluarga berlibur di Yogyakarta. Kami menginap di sebuah hotel dan secara tidak terduga bertemu Carlo Jikustik. Bagi seseorang yang telah lama menikmati karya Jikustik, pertemuan itu menyenangkan. Namun, yang paling membekas justru sikap Carlo.
Ia menyambut percakapan dengan hangat. Tidak tampak keinginan menciptakan jarak antara dirinya sebagai figur publik dan saya sebagai orang yang baru ditemuinya. Obrolan berlangsung alami. Keramahan itu juga terlihat ketika ia berhadapan dengan resepsionis dan pengunjung hotel lainnya.
Dari pengamatan sederhana tersebut, saya menangkap sesuatu yang semakin berharga di tengah kehidupan modern: kemampuan menghargai orang lain tanpa memandang status sosial. Belakangan, melalui komunikasi WhatsApp, saya mengetahui bahwa Carlo baru saja tampil dalam kegiatan di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA). Namun, kesan hangat dari perjumpaan itu tetap paling melekat dalam ingatan saya.
Pertemuan itu mungkin tampak biasa. Namun, bagi saya, pengalaman tersebut menghadirkan pelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam ruang kuliah ataupun buku pengembangan diri: seseorang dapat memiliki nama besar tanpa merasa perlu membesarkan dirinya di hadapan orang lain.



