
Oleh: Marliani, S.Pd.SD
Guru SD Negeri Tamiyang
Di lingkungan sekolah, kita kerap menjumpai seorang anak yang terus menangis dan menolak masuk kelas apabila tidak ditemani orang tuanya. Kondisi ini terkadang bukan lagi persoalan hari pertama atau minggu pertama sekolah, melainkan dapat bertahan hingga berbulan-bulan.
Bagi orang dewasa, sekolah sering kali dipandang sebagai ruang yang semestinya menyenangkan untuk belajar dan berinteraksi. Namun, cara pandang orang dewasa tidak bisa disamakan dengan pengalaman anak.
Bagi sebagian anak, langkah pertama memasuki ruang kelas bukanlah sekadar rutinitas harian, melainkan sebuah lompatan besar ke dalam dunia asing yang belum mereka kenal.
Keengganan anak berpisah dengan orang tuanya selama berbulan-bulan dapat menandakan kesulitan beradaptasi yang perlu dipahami lebih lanjut. Ketika lingkungan sekolah belum terasa aman dan akrab, kehadiran orang tua menjadi pegangan emosional bagi mereka.
Jika kita hanya menuntut anak untuk langsung patuh tanpa memahami ketakutannya, kita berisiko mengabaikan kesulitan yang mereka hadapi. Ruang kelas yang bagi orang lain tampak biasa saja, bagi anak tersebut mungkin terasa seperti lingkungan asing yang penuh ketidakpastian.
Menghadapi situasi ini membutuhkan upaya membangun rasa aman secara perlahan. Sekolah dan orang tua perlu bekerja sama membantu anak mengenal lingkungan barunya, membangun kedekatan dengan guru, dan memahami kegiatan yang akan dijalaninya.
Dengan demikian, lingkungan yang semula terasa asing dapat menjadi ruang yang lebih ramah dan dapat diprediksi oleh anak. Rasa percaya yang tumbuh menjadi bekal bagi mereka untuk belajar berpisah dari orang tua dan mengikuti kegiatan kelas secara bertahap.
Pada akhirnya, keberhasilan anak melangkah ke dalam kelas tanpa orang tuanya perlu didukung dengan kesabaran dalam menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa aman di lingkungan yang baru. (*)



