Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Meluruhkan Fitnah

a
Penulis: admin❯
CERPEN: Muhamad Yusuf
CERPEN: Muhamad Yusuf

Advertisement

 

Kematian istriku membawa kepedihan yang tak terkira. Hingga hari ini, bayang-bayang penderitaannya masih melekat dalam ingatanku. Ia menderita lahir dan batin ketika aku difitnah menjual mobil milik ayahnya. Tuduhan itu datang dari berbagai arah, seolah-olah aku sengaja menghilangkan amanah yang telah dipercayakan kepadaku. Padahal kenyataannya tidak demikian. Mobil itu dicuri orang saat kuparkir di halaman rumahku. Peristiwa itu terjadi pada hari ketika ayah mertuaku meminta diantar berobat ke rumah sakit. Karena jadwal pemeriksaan berlangsung cukup lama, beliau menginap di rumahku. Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku bahwa musibah besar itu akan terjadi.

Sejak kabar kehilangan mobil itu tersebar, hidup kami berubah. Penjelasan yang kusampaikan tidak mampu meredakan kecurigaan kedua mertuaku dan ipar-iparku. Istriku menjadi orang yang paling merasakan beban dari semua tuduhan itu. Ia harus mendengar bisik-bisik yang menyakitkan dan menanggung malu yang bukan berasal dari kesalahannya. Melihat keadaannya, hatiku hancur. Aku sadar bahwa kehilangan sebuah mobil telah menyeret keluargaku ke dalam penderitaan yang panjang. Karena itulah aku berjanji kepada ayah mertuaku bahwa aku akan mengganti mobil tersebut. Sejak saat itu, aku mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, berusaha memenuhi janji yang telah kuucapkan meskipun jalan yang harus kutempuh terasa begitu berat.

Advertisement

Akan tetapi, fitnah itu tak pernah benar-benar berhenti. Bahkan setelah istriku meninggal dunia, tuduhan demi tuduhan justru semakin menjadi. Kepergian Atika yang seharusnya menyatukan kami dalam duka malah memperbesar jurang permusuhan. Ibu mertuaku dan ipar-iparku tetap memupuk kebencian kepadaku.

Mereka juga menuduhku menikahi Atika hanya karena ingin mengincar harta keluarganya. Tuduhan itu begitu menyakitkan karena sama sekali tidak berlandaskan kebenaran. Memang benar aku berasal dari keluarga yang sederhana, sedangkan Atika lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang kaya serta terpandang. Perbedaan latar belakang itulah yang kemudian dijadikan alasan untuk menguatkan prasangka mereka. Bagiku, Atika adalah perempuan yang kucintai dengan tulus. Namun, di mata keluarga besarnya, cintaku tak pernah dianggap lebih besar daripada bayang-bayang kemiskinan yang selalu mereka lekatkan pada diriku.

Kini aku pun harus pergi meninggalkan rumah yang kutempati bersama Atika selama kurang lebih tiga tahun. Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan itu memang bukan milik kami, melainkan rumah orang tua Atika. Setelah kepergiannya, aku tak lagi memiliki tempat untuk bertahan. Tatapan sinis dan penolakan yang kuterima setiap hari membuatku mengerti bahwa kehadiranku sudah tidak diinginkan. Dengan hati yang berat, aku memutuskan melangkah pergi, meninggalkan semua kenangan.

Advertisement

Aku keluar dari rumah itu sambil menggendong buah hati kami yang baru berusia dua tahun. Di pundakku bukan hanya bertumpu tas berisi pakaian seadanya, tetapi juga tanggung jawab untuk membesarkan anak kami seorang diri. Tanpa tujuan yang pasti, aku berkeliling mencari sebuah rumah kontrakan yang sanggup kubayar dengan kemampuan yang kumiliki.

Aku bersyukur karena akhirnya menemukan sebuah rumah kontrakan yang bersih, nyaman, dan memiliki fasilitas yang cukup baik, meskipun biaya sewanya sangat terjangkau. Rumah sederhana itu menjadi harapan baru bagi kami setelah melewati hari-hari yang penuh kepedihan. Setidaknya, Damar memiliki tempat yang layak untuk beristirahat, sementara aku bisa mulai menata kembali kehidupan yang terasa porak-poranda sejak kepergian Atika. Meski belum memiliki banyak barang, kehadiran tempat tinggal itu sudah cukup membuatku merasa sedikit tenang.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pada malam pertama kami menempati rumah kontrakan tersebut, tubuh Damar yang baru berusia dua tahun mendadak diserang demam tinggi. Aku panik karena tidak mengenal lingkungan sekitar dan belum memiliki cukup uang untuk membawanya ke rumah sakit. Syukurlah, pemilik rumah kontrakan yang juga seorang dokter mengetahui keadaan kami. Dengan penuh kepedulian, beliau segera memeriksa dan memberikan pengobatan kepada Damar hingga panasnya berangsur turun. Kebaikannya menjadi pertolongan yang tak akan pernah kulupakan.

Keesokan paginya, setelah kondisi Damar membaik, aku mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi kompleks perumahan. Udara yang sejuk membuatnya kembali ceria setelah semalaman terbaring karena demam. Saat melintasi salah satu rumah, pandanganku tiba-tiba tertuju ke arah sebuah garasi yang pintunya terbuka. Sebuah mobil yang terparkir di dalamnya membuat langkahku terhenti. Seketika jantungku berdegup semakin kencang. Aku merasa sangat mengenal mobil itu. Dengan rasa penasaran, aku mendekat untuk memastikan. Setelah memperhatikan beberapa bagian yang begitu kukenal, aku yakin bahwa mobil itu adalah mobil milik ayah mertuaku yang selama ini dinyatakan hilang.

Advertisement
Editor : Muhammad Rizky

Artikel Terkait

Sebelum Ombak Berlabuh

Sebelum Ombak Berlabuh

Kirana menatap Arga dengan tatapan tajam, matanya memerah menahan badai amarah yang telah lama menumpuk. Bibirnya bergetar hebat, ia berjuan

Jerebu Menerbangkan Cintaku 

Jerebu Menerbangkan Cintaku 

Subuh yang dingin serta kabut tipis menyergap tubuhku. Biasanya ini pertanda musim kemarau. Musim di mana tanah menjadi gersang, tanaman lay

Kujadikan Dia Anakku

Kujadikan Dia Anakku

Sudah dua tahun aku belum punya anak. Kami merindukan anak-anak yang lucu, wajah yang gemas, mata yang memancarkan cinta. Tinggal di kota me

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer