
CERPEN: Wardiman, S.Pd., M.Pd
Kirana menatap Arga dengan tatapan tajam, matanya memerah menahan badai amarah yang telah lama menumpuk. Bibirnya bergetar hebat, ia berjuang meredam gejolak kekecewaan yang kini mencapai puncaknya. Di genggaman tangan kanannya, melingkar sebuah cincin emas berdiameter 2 cm. Sebuah simbol janji manis yang kini terasa bagai kebohongan besar. Tanpa peduli di mana benda itu akan berlabuh, Kirana menghempaskannya keras-keras tepat ke dada Arga. Cincin itu memantul, lalu jatuh berdenting dan tenggelam ke dasar pantai.
"Biadab kau, Arga!" teriak Kirana dengan suaranya yang melengking, kesunyian hari pecah dengan kepedihan yang telanjang. Arga membeku. Wajahnya pucat pasi saat menatap cincin yang kini tenggelam menyentuh palung. Lidahnya mendadak kelu, tak sanggup menyusun kata demi menjelaskan semuanya.
"Cintamu hanyalah ilusi yang kau ciptakan sendiri!" lanjut Kirana, napasnya tersengal-sengal, diiringi air mata yang akhirnya runtuh membasahi pipi. "Bagaimana mungkin kau menuliskan nama wanita lain di saat bersamaku? Cantika... nama itu yang kubaca jelas di surat yang kau sembunyikan!" Setiap kata yang diucapkannya bagai belati yang menusuk udara. Ruangan sempit itu mendadak penuh dengan serpihan kebenaran yang menyakitkan. Kirana melangkah mundur, menolak tatapan memohon yang mulai terpancar dari mata Arga. Bagi Kirana, tak ada lagi ruang untuk penjelasan. Janji yang diukir indah itu telah hancur, menyisakan bayang-bayang nama wanita lain yang tak akan pernah bisa ia hapus dalam hidupnya.
“Kirana, dengarkan aku dulu. Kau tidak memahami apa yang telah terjadi. Kau hanya melihat sekilas selembar kertas tanpa mengerti dan tahu apa alasan dibaliknya.” Arga menarik napas panjang. Matanya terlihat lelah, bukan oleh rasa bersalah yang dicari Kirana, tapi oleh keputusasaan yang teramat dalam.
"Memahami alasan dan membenarkan pengkhianatan ini?" tangis Kirana pecah dengan pipi yang bersimbah air mata. "Lima tahun lalu, kita berdiri di tempat yang sama. Dermaga ini menjadi ikatan ketika dua sepadang bibir mengucapkan janji setia dalam suka dan duka. Namun, hari ini, kau menampakkan kepahitan yang amat dalam bahwa aku hanya alat bagimu Arga.” Dermaga itu adalah saksi bisu dari seluruh perjalanan mereka. Di sinilah Arga pertama kali menyatakan cintanya, di papan kayu yang sama tempat mereka berdua bermimpi membangun masa depan bersama. Namun, kini papan kayu yang sama terasa begitu rapuh, siap runtuh dan menelan seluruh kenangan indah yang pernah ada. Kirana membalikkan badan, melangkah pergi dengan napas memburu, enggan mendengar satu patah kata pun yang keluar dari mulut pria yang dulu sangat dipujanya. Namun, Arga tidak tinggal diam. Ia mengejar kekasihnya, mencengkeram jemari wanita itu dengan erat.
“Kirana, kau akan menyesal seumur hidup jika langkahmu semakin jauh tanpa mendengarkan penjelasanku. Cantika bukan serpihan kasihku, tapi Cantika adalah takdir yang harus kutunaikan!” Pernyataan itu menghentikan langkah Kirana. Ia menatap Arga dengan tatapan penuh kebencian sekaligus kebingungan. "Takdir kau bilang? Jangan gunakan kata-kata demikian untuk menutupi kebohonganmu!"
“Pak Yusuf, Kirana apakah kau ingat nama itu? Cantika adalah putri dari almarhum Pak Yusuf,” bisik Arga, suaranya bergetar hebat ketika ia akhirnya membuka rahasia yang selama ini terpendam begitu lama.
"Ingatkah kau lima tahun lalu saat perusahaan kita hampir bangkrut dan kita hampir kehilangan segalanya? Saat itu ada seorang investor anonim yang menyuntikkan dana tanpa syarat, menyelamatkan kita dari kehancuran total?" Kirana tertegun dalam diamnya. Ia ingat betul momen itu. Momen ajaib yang menyelamatkan bisnis mereka dan memberi mereka kesempatan kedua.
"Lalu? Apa hubungannya dengan surat itu?" Tanya Kirana yang masih diselimuti rasa penasaran dan amarah.



