Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jerebu Menerbangkan Cintaku 

a
Penulis: admin❯
ilustrasi
ilustrasi

Advertisement

Cerpen oleh: Fuji Hidjriyati

Subuh yang dingin serta kabut tipis menyergap tubuhku. Biasanya ini pertanda musim kemarau. Musim di mana tanah menjadi gersang, tanaman layu, sumber air mengering. Satu yang paling kutakutkan adalah kebakaran hutan dan lahan. Entahlah sejak banyak hutan dirambah, ekosistem rusak parah. Apalagi hampir semua lahan di Kalimantan merupakan tanah gambut. Tanah yang mudah terbakar jika matahati bersinat sangat terik. Tanah di mana aku dan suamiku dilahirkan. Tempat di mana alam menyediakan semua yang kami butuhkan. Buah-buahan dan sayuran hutan. Pampakin, limpasu, maritam, kelakai, rotan dan lainnya. Juga berbagai jenis ikan air tawar yang hidup di Sungai. Ada biawan, haruan, baung, kelabau. Bagiku, tanah Kalimantan Adalah surga. Apa yang ditanam bisa tumbuh jika kita merawatan menjaganya.

Sifat fisik tanah gambut memiliki kandungan organik tinggi karena terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan seperti kayu, akar dan serasah yang membusuk tidak sempurna. Kapasitas menyimpan airnya besar. Berfungsi seperti spons raksasa yang mampu menyerap dan menahan air dalam jumlah tinggi. Strukturnya lunak dan mudah amblas. Memiliki bobot isi yang ringan dan terasa longgar atau empuk saat dipijak. Warna air gelap dan cenderung berwarna cokelat kehitaman. Selain itu Tingkat keasaman tinggi. Tingkat pH tanah sangat masam, umumnya di bawah 4. Miskin unsur hara. Kandungan unsur hara makro dan mikro bagi tanaman relatif rendah. Air di sekitar lahan gambut seringkali merah kecokelatan atau seperti teh pekat akibat larutan asam organik dan tanin.

Advertisement

Apa pun itu, tanah Kalimantan adalah cinta pertamaku. Di sana ada kasih dan sayang sepanjang waktu.

***

“Ding, Kaka berangkat dulu, ya.” Suamiku selalu pamitan untuk berangkat kerja.

Advertisement

“Iya, Ka. Hati-hati di jalan! Bekalnya nanti dimakan, ya! Kaka tak boleh terlambat makan!” seperti biasa aku mengingatkan suamiku.

“Pastilah bekal yang disiapkan istriku akan kumakan. Kalau tidak, aku pasti kelaparan. Kamu juga baik- baik di rumah. Bawa hati dengan riang! Kamu bisa pergi ke rumah mama kalau kesepian. Atau pergi Bersama teman sekolahmu. Bahagiamu bahagiaku juga ” Sahut suamiku sambil mengecup keningku.

Kami berpelukan. Seperti itulah ritual mesra yang kami lakukan.

***

Advertisement
Editor : Arief M

Artikel Terkait

Sebelum Ombak Berlabuh

Sebelum Ombak Berlabuh

Kirana menatap Arga dengan tatapan tajam, matanya memerah menahan badai amarah yang telah lama menumpuk. Bibirnya bergetar hebat, ia berjuan

Kujadikan Dia Anakku

Kujadikan Dia Anakku

Sudah dua tahun aku belum punya anak. Kami merindukan anak-anak yang lucu, wajah yang gemas, mata yang memancarkan cinta. Tinggal di kota me

Jubah Sang Pengajar

Jubah Sang Pengajar

Seluruh isi kelas seketika mencekam. Tak ada lagi gesekan pena di atas hamparan buku yang terbuka, bahkan dengung angin yang berputar jemu s

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer