Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengapa Harga Pangan Sulit Stabil?

a
Penulis: admin❯
Haris Zaky Mubarak, MA
Haris Zaky Mubarak, MA

Advertisement

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA
Analis dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia,
Anggota Pengurus Cabang Muhammadiyah Yogyakarta

            Tidak ada isu ekonomi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat selain persoalan harga pangan. Ketika harga cabai naik, ketika beras melonjak, atau ketika harga minyak goreng bergejolak, dampaknya langsung terasa di dapur rumah tangga. Karena itu, fluktuasi harga pangan sering kali menjadi indikator yang mudah dibaca masyarakat untuk menilai kondisi ekonomi suatu negara. Namun, di balik perubahan harga yang terlihat di pasar, terdapat proses panjang yang melibatkan faktor produksi, distribusi, kebijakan pemerintah, perubahan iklim, dinamika perdagangan global, hingga pada perilaku konsumsi masyarakat.

            Perjalanan panjang pangan dari sawah ke meja makan sesungguhnya merupakan cermin dari kompleksitas sistem ekonomi yang menopang kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai komoditas pangan strategis di Indonesia faktanya kembali mengalami gejolak harga.Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang mendasar, mengapa harga pangan terus berfluktuasi, bahkan di negara agraris seperti Indonesia?

Advertisement

Membaca Ulang Sejarah

            Untuk memahami persoalan harga pangan, kita perlu melihat kembali dari perspektif sejarah. Sejarawan pangan Indonesia, Fadly Rahman pernah menuliskan jika pangan tak pernah semata-mata memahami persoalan konsumsi. Persoalan pangan akan selalu berkaitan dengan relasi kekuasaan, perdagangan, budaya, dan struktur sosial masyarakat (Rahman, 2016).Dalam sejarah pangan Nusantara, Fadly Rahman menunjukkan jika sejak masa kolonial, komoditas pangan telah menjadi bagian dari sistem ekonomi yang dipengaruhi oleh kepentingan politik dan perdagangan global. Produksi pangan lokal sering mengalami tekanan akibat orientasi ekspor komoditas perkebunan yang lebih menguntungkan pemerintah kolonial.

            Akibatnya, ketahanan pangan masyarakat menjadi rentan terhadap perubahan harga dan distribusi.Pelajaran ini kemudian menunjukkan evidensi rasional jika fluktuasi harga pangan bukanlah fenomena baru. Ia  masih merupakan bagian dari proses dinamika panjang yang telah berlangsung selama berabad-abad. Dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara (2016), Fadly Rahman masih menegaskan jika sistem pangan Indonesia sejak lama berada dalam persimpangan antara kebutuhan lokal dan tekanan pasar yang lebih luas. Artinya jika keseimbangan ini terganggu, maka harga pangan menjadi salah satu indikator pertama yang mengalami gejolak.

Advertisement

            Secara teoritis,fluktuasi harga pangan dapat terjadi karena adanya perubahan hubungan antara permintaan dan penawaran. Ekonom Alfred Marshall menyebut jika setiap harga akan terbentuk melalui interaksi jumlah barang yang tersedia dan kebutuhan masyarakat terhadap barang tersebut (Marshall, 1890). Pada saat terjadi penurunan pasokan permintaan tetap atau meningkat,maka harga akan terus menaik. Sebaliknya, jika produksi melimpah dan permintaan relatif stabil, harga akan cendrung turun.

             Masalahnya kemudian, sektor pangan selalu memiliki karakteristik yang sangat berbeda jika dibandingkan pada sektor ekonomi lainnya. Karena itu faktanya, permintaan pangan relatif tidak elastis. Masyarakat tetap harus makan meskipun harga menjadi naik. Berbeda dengan barang elektronik atau produk gaya hidup yang dapat ditunda pembeliannya, maka kebutuhan pangan tidak dapat dihilangkan. Karena itu, jika sedikit ada gangguan pada pasokan sering kali ia akan menghasilkan lonjakan harga yang cukup besar.

            Salah satu faktor utama yang memengaruhi harga pangan saat ini adalah perubahan iklim. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2022) menunjukkan bahwa peningkatan suhu global telah mengubah pola curah hujan, memperpanjang musim kemarau, dan meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem. Dampaknya langsung dirasakan sektor pertanian. Fenomena El Nino misalnya, sering menyebabkan penurunan produksi padi, cabai, bawang merah, dan berbagai komoditas hortikultura lainnya. Ketika hasil panen menurun, pasokan berkurang dan harga meningkat.

            Dalam sejarah Indonesia, gejolak harga pangan akibat faktor iklim bukan hal baru. El Nino 1997–1998 setidaknya menjadi satu contoh manakala produksi pertanian terjadi penurunan maka secara bersamaan terjadi krisis ekonomi sehingga kondisional ini mendorong terjadinya inflasi pangan secara signifikan (Booth, 1998).

            Perubahan iklim juga membuat risiko semakin sering terjadi. Artinya, stabilitas harga pangan tidak lagi hanya bergantung pada kebijakan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan lingkungan. Persoalan berikutnya terletak pada rantai distribusi. Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Kondisi geografis ini menyebabkan biaya logistik menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Menurut kajian Bank Dunia (2023), biaya distribusi pangan di Indonesia masih menjadi faktor penting yang memengaruhi harga akhir yang dibayar konsumen. Selisih harga antara tingkat petani dan pasar sering kali sangat besar karena adanya biaya transportasi, penyimpanan, dan perantara perdagangan. Akibatnya muncul paradoks yang sering terjadi. Ketika harga di tingkat petani rendah, harga di tingkat konsumen justru tinggi .Fenomena ini menunjukkan jika setiap persoalan harga pangan tidak selalu berasal dari kekurangan produksi. Dalam banyak kasus, masalah utama justru berada pada sistem distribusi yang belum efisien.

Advertisement
Editor : Arief M

Artikel Terkait

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

Ngopi di warung kecil pinggir jalan sekarang punya nuansa yang berbeda dibandingkan lima tahun lalu. Anda tidak perlu lagi merogoh kantong u

Menagih Janji Indonesia Emas 2045

Menagih Janji Indonesia Emas 2045

Setiap 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda dengan upacara, pidato, dan seruan persatuan. Namun, di tengah gegap gempita peringatan i

Siswa Tinggal Kelas, Ready or Not?

Siswa Tinggal Kelas, Ready or Not?

Ungkapan tinggal kelas memberi kesan horor tersendiri bagi siswa-siswa milenial terdahulu ketika tidak mampu mencapai ketuntasan belajar di

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer