
Oleh: Syaifullah, MPd
Dosen FKIP Bahasa Indonesia Universitas Lambung Mangkurat
Dalam setahun terakhir, wajah perguruan tinggi Indonesia tampak sedang mengalami perubahan drastis. Rektorat dan senat universitas di berbagai daerah kini tengah disibukkan dengan satu agenda krusial. Melakukan audit besar-besaran terhadap program studi.
Jurusan-jurusan yang dianggap tidak lagi memiliki peminat, atau lebih krusial lagi, dianggap “tidak relevan” dengan kebutuhan pasar kerja, satu per satu mulai dikurangi, digabung, hingga ditutup.
Keputusan ini sering kali dibalut dengan terminologi efisiensi, responsivitas terhadap disrupsi, dan adaptasi terhadap masa depan. Namun, di balik narasi efisiensi yang terdengar pragmatis tersebut, ada perdebatan yang jauh lebih mendalam mengenai hakikat pendidikan tinggi di Indonesia. Apakah universitas kini telah sepenuhnya berubah menjadi pabrik pencetak tenaga kerja siap pakai, ataukah ia masih memegang mandat sebagai penjara lentera ilmu pengetahuan dan peradaban?
Fenomena penutupan program studi sebenarnya bukan hal baru dalam lanskap pendidikan global. Di jepang, misalnya, kementerian pendidikan pernah memicu kontroversi hebat ketika mendorong penutupan departemen ilmu humaniora dan sosial demi menggenjot program-program yang dianggap lebih “praktis” dan berorientasi ekonomi, namun di Indonesia, urgensi ini memiliki warna dan kompleksitas yang berbeda. Kita tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi global yang menuntut keterampilan spesifik, tetapi kita juga sedang terjebak dalam krisis struktural yang kronis terkait minat, motivasi, dan kompetensi mahasiswa. kita sedang mencoba memperbaiki sistem dengan memotong ranting, padahal akar masalahnya mungkin justru terletak pada bagaimana kita mengenal (atau gagal mengenal) manusia yang kita didik.
Masalah utama yang mendasari kegelisahan universitas dalam menutup jurusan “tidak relevan” adalah cara pandang utilitarian yang kaku. Pendidikan tinggi sering kali dipaksa tunduk sepenuhnya pada dogma link and match sebuah konsep yang, meski mulia niatnya untuk menjembatani dunia kampus dan industri, terkadang justru membunuh sisi eksploratif pendidikan.
Ketika sebuah jurusan dianggap tidak lagi relevan, ukurannya sering kali hanya satu. Seberapa cepat lulusannya terserap pasar kerja? Berapa rata-rata gaji awal mereka? Apakah industri “membutuhkan” lulusan tersebut?
Padahal, mengukur relevansi jurusan hanya dari keterserapan pasar adalah bentuk reduksi intelektual yang berbahaya. Jika kita hanya mempertahankan jurusan yang “laku keras” di mata industri hari ini. Seperti informatika, bisnis digital, atau teknik tertentu kita sedang mengabaikan fakta bahwa ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan siklikal.
Apa yang dianggap tidak relevan hari ini, bisa jadi menjadi krusial di masa depan. Ilmu sejarah, filsafat, sastra, atau sosiologi murni mungkin terlihat “kering” dalam statistik lapangan kerja saat ini. Namun, ketika mereka dihapuskan atas nama efisiensi, kita sedang mengamputasi nalar kritis bangsa.
Universitas yang hanya menuruti selera pasar jangka pendek adalah universitas yang sedang menggali kuburannya sendiri sebagai pusat peradaban. Ia menjadi cermin yang hanya memantulkan keinginan industri, bukan menara gading yang mampu memandang jauh ke depan. Namun, di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas pahit di lapangan. Banyak mahasiswa yang terjebak dalam jurusan-jurusan yang memang sudah kehilangan napas inovasinya.



