Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sarjana Menganggur dan Pendidikan Tinggi Bermutu

a
Penulis: admin❯
Prof. Dr. Mukhamad Najib
Prof. Dr. Mukhamad Najib

Advertisement

Oleh: Prof. Dr. Mukhamad Najib
Direktur Kelembagaan Kemendiktisaintek
Guru Besar IPB University

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan jumlah pengangguran sarjana yang tembus 1 juta (BPS, 2026). Meski hal ini bukan tanggung jawab tunggal perguruan tinggi (PT), namun PT tetap memiliki andil. Salah satu parameter PT bermutu adalah keterserapan lulusan di dunia kerja dengan gaji yang layak. Ketika lapangan kerja domestik semakin menyempit, maka orientasi memasuki pasar kerja di luar negeri perlu disiapkan. Pada titik inilah sarjana menganggur sedianya bisa diatasi dengan PT bermutu.

PT yang bermutu selalu membekali mahasiswanya dengan keterampilan yang relevan (Skill Alignment), kesiapan kerja (Employability), serta kemampuan inovasi dan kewirausahaan. Dengan begitu, lulusan menjadi kompetitif tidak hanya di pasar kerja dalam negeri, tapi juga luar negeri. Saat ini terdapat 4.416 PT di Indonesia dengan keragaman mutu yang tinggi. Harus diakui bahwa ada beberapa PT Indonesia yang masuk dalam parankingan top dunia. Namun Sebagian besar masih berjuang untuk meningkatkan mutu.

Advertisement

Dengan jumlah PT yang sangat besar dan keragaman mutu yang tinggi, mutu PT tidak bisa diserahkan semata kepada masing-masing PT secara individual. Dibutuhkan penguatan dalam sebuah ekosistem mutu yang terintegrasi. Pertanyaannya adalah bagaimana membangun ekosistem yang memungkinkan PT Indonesia selalu berorientasi pada penguatan mutu berkelanjutan?

Persoalan mutu PT semakin penting ketika Indonesia memasuki era persaingan global yang bertumpu pada pengetahuan, inovasi, dan mutu talentanya. Kecerdasan artifisial, transformasi digital, transisi energi, dan ekonomi hijau sedang mengubah cara negara membangun daya saingnya. Dalam situasi seperti itu, pendidikan tinggi tidak lagi sekadar menjadi penyelenggara pendidikan, melainkan salah satu infrastruktur strategis pembangunan nasional.

Transformasi mutu

Advertisement

Selama beberapa dekade, kebijakan peningkatan mutu lebih banyak diarahkan pada penguatan institusi. Akreditasi, peningkatan kualifikasi dosen, pembangunan sarana prasarana, serta berbagai indikator kinerja telah mendorong perguruan tinggi terus berkembang. Pendekatan tersebut tetap penting dan perlu dilanjutkan. Namun, kompleksitas tantangan yang dihadapi pendidikan tinggi saat ini menunjukkan bahwa penguatan institusi saja tidak lagi memadai. PT memerlukan lingkungan yang memungkinkan kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan inovasi berkembang secara berkelanjutan.

Clark (1998) dalam bukunya “Creating Entrepreneurial Universities” menunjukkan bahwa transformasi perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada perubahan internal, tetapi juga pada kemampuan membangun hubungan dengan lingkungan eksternal. Sementara Etzkowitz (2008) menjelaskan bahwa interaksi antara universitas, pemerintah, dan dunia usaha merupakan salah satu penggerak utama inovasi. Literatur mutakhir memperluas perspektif tersebut dengan melibatkan masyarakat dan lingkungan sebagai bagian dari ekosistem inovasi.

Pelajaran dari berbagai negara juga menunjukkan pola serupa. Amerika Serikat membangun kekuatan universitas melalui kolaborasi erat perguruan tinggi, industri, dan lembaga penelitian. Finlandia mengembangkan pendidikan tinggi melalui tata kelola berbasis kepercayaan, otonomi, dan mutu. Singapura memperlihatkan bagaimana konsistensi kebijakan jangka panjang mampu menyelaraskan investasi pendidikan tinggi dengan strategi pembangunan nasional.

Meskipun setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda, terdapat satu pelajaran yang sama: PT berkembang lebih cepat ketika menjadi bagian dari ekosistem yang saling menguatkan. Oleh karenanya, salah satu agenda transformasi mutu PT yang tengah dilakukan pemerintah adalah bagaimana menggeser pandangan yang bersifat individualistik menjadi pandangan yang bersifat kolektif dalam satu ekosistem mutu. Pembentukan konsorsium antar PT dengan pemerintah daerah dalam penyelesaian masalah kewilayahan yang saat ini tengah digencarkan merupakan salah satu contoh upaya dalam membangun eksositem mutu yang bersifat kolektif tersebut.

Ekosistem Mutu

Yang dimaksud dengan ekosistem dalam konteks ini adalah sistem yang menghubungkan PT, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, lembaga riset, dan jejaring internasional. Selanjutnya seluruh pelaku dalam sistem berkolaborasi menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan mutu, relevansi, inovasi, dan dampak pendidikan tinggi secara berkelanjutan.

Advertisement
Editor : Arief M

Artikel Terkait

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan lingkungan yang tidak bisa dianggap sebagai kejadian musiman biasa. Kebakaran hutan dan lahan

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Kinerja industri manufaktur Indonesia kembali naik daun. Berdasarkan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) S&P Global,

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

Ngopi di warung kecil pinggir jalan sekarang punya nuansa yang berbeda dibandingkan lima tahun lalu. Anda tidak perlu lagi merogoh kantong u

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer