Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Skripsi Menjadi Neraka Kecil di Kampus

a
Penulis: admin❯
Hery Purnobasuki
Hery Purnobasuki

Advertisement

Oleh: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga

Di banyak kampus, skripsi dipuja sebagai puncak kedewasaan akademik. Mahasiswa yang berhasil menuntaskannya dianggap telah melewati satu gerbang penting menuju gelar sarjana. Tetapi di balik narasi mulia itu, ada realitas yang sering disembunyikan: skripsi bisa berubah menjadi ruang penderitaan, tempat mahasiswa kehilangan rasa percaya diri, kesehatan mental, bahkan harapan.

Kasus mahasiswa yang berkali-kali gagal ujian skripsi bukan sekadar persoalan administrasi akademik. Ia adalah cermin dari wajah pendidikan tinggi yang kerap lupa bahwa mahasiswa bukan mesin produksi gelar. Ketika kegagalan terjadi berulang kali, apalagi sampai belasan kali, yang perlu dipertanyakan bukan hanya kualitas naskah mahasiswa, tetapi juga kualitas sistem yang membimbing dan menilai.

Advertisement

Skripsi seharusnya menjadi latihan ilmiah yang mendidik, bukan medan hukuman yang menakutkan. Namun di banyak tempat, mahasiswa justru dipaksa berjalan dalam lorong panjang penuh revisi, penolakan, dan ketidakpastian. Mereka datang dengan harapan, lalu pulang dengan perasaan gagal. Mereka berusaha patuh pada arahan, tetapi sering kali arahan itu berubah-ubah, tidak seragam, dan sulit dipahami. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin mahasiswa bisa berkembang dengan sehat?

Kegagalan yang Berulang Bukan Sekadar Urusan Mahasiswa

Ada kecenderungan untuk segera menyalahkan mahasiswa ketika skripsinya tak kunjung selesai. Label malas, tidak serius, atau kurang mampu begitu mudah dilekatkan. Padahal, realitas akademik jauh lebih rumit. Kegagalan berulang bisa lahir dari banyak faktor: bimbingan yang tidak konsisten, standar penilaian yang kabur, komunikasi yang buruk, hingga budaya akademik yang terlalu menekankan kekuasaan ketimbang pembelajaran.

Advertisement

Dalam situasi ideal, dosen penguji dan pembimbing seharusnya menjadi penunjuk jalan. Mereka bertugas memperjelas apa yang kurang, menunjukkan bagaimana memperbaikinya, dan memberi ruang bagi mahasiswa untuk tumbuh. Tetapi ketika yang muncul justru sikap menguji seolah-olah mahasiswa sedang diadili, maka proses akademik berubah menjadi pengalaman yang melelahkan secara psikologis.

Mahasiswa yang gagal berulang kali bukan hanya menghadapi tumpukan revisi. Mereka juga menghadapi rasa malu, tekanan keluarga, kecemasan soal masa depan, dan ketakutan bahwa dirinya memang tidak cukup pintar. Beban itu nyata. Dan saat kampus abai terhadap beban tersebut, yang terjadi bukan pembinaan, melainkan pelan-pelan penghancuran mental.

Dosen Harus Menjadi Pendidik, Bukan Penjaga Gerbang

Kita perlu mengatakan ini dengan tegas: dosen bukan sekadar penguji, melainkan pendidik. Dalam posisi itu, dosen memegang tanggung jawab moral yang besar. Ia tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga ikut membentuk cara mahasiswa memandang dirinya sendiri. Satu kalimat yang merendahkan bisa memadamkan semangat yang sudah susah payah dibangun selama bertahun-tahun.

Karena itu, dosen perlu lebih banyak menggunakan empati. Empati bukan berarti menurunkan standar akademik. Empati berarti memahami bahwa mahasiswa sedang belajar, sedang berproses, dan sedang berjuang. Empati berarti menyampaikan kritik dengan jelas tanpa mempermalukan. Empati berarti memberi ruang perbaikan, bukan sekadar menutup pintu lalu menyuruh mahasiswa datang lagi tanpa kepastian.

Sayangnya, dalam kultur akademik yang terlalu hierarkis, sebagian dosen masih memposisikan diri seperti penjaga gerbang yang paling berkuasa menentukan nasib mahasiswa. Akibatnya, hubungan dosen dan mahasiswa kerap dipenuhi jarak, ketegangan, dan rasa takut. Padahal pendidikan tinggi semestinya dibangun di atas kepercayaan, dialog, dan pembimbingan yang dewasa.

Advertisement

Artikel Terkait

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan lingkungan yang tidak bisa dianggap sebagai kejadian musiman biasa. Kebakaran hutan dan lahan

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Kinerja industri manufaktur Indonesia kembali naik daun. Berdasarkan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) S&P Global,

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

Ngopi di warung kecil pinggir jalan sekarang punya nuansa yang berbeda dibandingkan lima tahun lalu. Anda tidak perlu lagi merogoh kantong u

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer