Carlo Jikustik dan Kerendahan Hati

admin • Dipublikasikan Rabu, 4 November 2026 | 18:31 WIB
Prima Trisna Aji
Prima Trisna Aji

Oleh: Prima Trisna Aji
Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

Ada musisi yang dikenang karena suaranya. Ada yang dikagumi karena karya-karyanya. Namun, ada pula yang meninggalkan kesan mendalam justru karena caranya memperlakukan orang lain. Bagi saya, sosok terakhir itu adalah Carlo, drummer grup musik Jikustik.

Perjumpaan singkat di sebuah hotel di Yogyakarta membuat saya memahami bahwa kebesaran seorang musisi tidak selalu tercermin dari gemerlap panggung, riuh tepuk tangan, atau banyaknya penggemar. Terkadang, kebesaran itu justru terlihat dari keramahan, kesediaan menyapa, dan cara memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan.

Saya termasuk generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu Jikustik. Lagu seperti Setia, Maaf, Tak Ada yang Abadi, Puisi, Selamat Malam Dunia, hingga Bagai Elang menjadi bagian dari kenangan masa kecil dan masa muda.

Ada sesuatu yang khas dari Jikustik. Melodinya sederhana tetapi membekas, liriknya romantis tanpa kehilangan kedalaman, dan musiknya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perjalanan Jikustik memang tidak selalu mulus. Pergantian vokalis dari era Pongki Barata, Brian Prasetyoadi, hingga kehadiran kembali Icha menghadirkan warna berbeda, tetapi tidak menghilangkan identitas musikal Jikustik.

Di tengah perjalanan itu, perhatian publik sering tertuju kepada vokalis. Hal tersebut wajar karena penyanyi berada di garis depan pertunjukan. Akan tetapi, sebuah grup musik tidak pernah dibangun oleh satu orang saja. Di balik dentuman drum yang menjaga irama, ada Carlo, sosok yang menurut saya layak mendapat perhatian bukan hanya karena kemampuan bermusiknya, melainkan juga kualitas kemanusiaannya.

Pertemuan Sederhana yang Membekas

Suatu ketika, saya bersama keluarga berlibur di Yogyakarta. Kami menginap di sebuah hotel dan secara tidak terduga bertemu Carlo Jikustik. Bagi seseorang yang telah lama menikmati karya Jikustik, pertemuan itu menyenangkan. Namun, yang paling membekas justru sikap Carlo.

Ia menyambut percakapan dengan hangat. Tidak tampak keinginan menciptakan jarak antara dirinya sebagai figur publik dan saya sebagai orang yang baru ditemuinya. Obrolan berlangsung alami. Keramahan itu juga terlihat ketika ia berhadapan dengan resepsionis dan pengunjung hotel lainnya.

Dari pengamatan sederhana tersebut, saya menangkap sesuatu yang semakin berharga di tengah kehidupan modern: kemampuan menghargai orang lain tanpa memandang status sosial. Belakangan, melalui komunikasi WhatsApp, saya mengetahui bahwa Carlo baru saja tampil dalam kegiatan di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA). Namun, kesan hangat dari perjumpaan itu tetap paling melekat dalam ingatan saya.

Pertemuan itu mungkin tampak biasa. Namun, bagi saya, pengalaman tersebut menghadirkan pelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam ruang kuliah ataupun buku pengembangan diri: seseorang dapat memiliki nama besar tanpa merasa perlu membesarkan dirinya di hadapan orang lain.

Di Balik Panggung, Ada Karakter

Dalam industri hiburan, popularitas sering diukur melalui jumlah penonton, pengikut media sosial, hingga seberapa sering seseorang menjadi perbincangan publik. Padahal, ada ukuran lain yang tidak kalah penting: bagaimana seseorang bersikap ketika sorotan kamera tidak lagi mengarah kepadanya.

Carlo telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Jikustik. Kiprahnya juga tidak berhenti pada grup tersebut. Pada Februari 2026, Carlo terlibat bersama Adhit Jikustik dalam Klaten Project melalui lagu religi Tuhan Itu Ada, yang turut menghadirkan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dan musisi lainnya. Kolaborasi itu menunjukkan bahwa pengalaman panjang di industri musik terus membuka ruang kreativitas baru.

Pengalaman bertemu Carlo mengingatkan saya bahwa prestasi dan karakter semestinya berjalan beriringan. Seorang musisi boleh dikenal karena teknik bermainnya, penyanyi boleh dipuja karena keindahan suaranya, tetapi penghormatan yang lebih mendalam sering tumbuh dari cara mereka memperlakukan sesama.

Pelajaran bagi Generasi Muda

Sebagai seorang dosen yang sehari-hari berinteraksi dengan mahasiswa, saya melihat pengalaman ini relevan dengan pendidikan karakter generasi muda. Anak muda membutuhkan figur inspiratif, bukan hanya mereka yang berhasil mencapai popularitas, tetapi juga yang mampu mempertahankan kesederhanaan setelah meraih keberhasilan.

Di era media sosial, ketika pencapaian sering dipamerkan dan pengakuan publik dikejar, kerendahan hati dapat terlihat kurang menarik dibandingkan kemewahan dan popularitas. Padahal, pendidikan karakter membutuhkan contoh nyata bahwa keberhasilan tidak harus diikuti sikap merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Kita dapat mengajarkan mahasiswa tentang etika, empati, dan komunikasi interpersonal melalui teori. Namun, keteladanan sehari-hari sering lebih mudah diingat. Dalam dunia kesehatan yang saya tekuni, sikap menghargai manusia menjadi bagian penting dari profesionalisme. Seorang tenaga kesehatan tidak cukup hanya memiliki kompetensi klinis. Ia harus mampu mendengarkan, menunjukkan empati, dan memperlakukan setiap pasien dengan bermartabat.

Prinsip itu berlaku dalam berbagai profesi. Keramahan tidak menghilangkan wibawa, dan kesederhanaan tidak mengurangi prestasi.

Popularitas Bisa Berlalu, Kebaikan Tinggal dalam Ingatan

Musik memiliki kekuatan menyimpan kenangan dan membawa seseorang kembali kepada masa sekolah, persahabatan, cinta pertama, atau perjalanan hidup yang telah berlalu. Jikustik menghadirkan pengalaman itu bagi banyak pendengarnya, termasuk saya.

Namun, setelah bertemu Carlo, saya memperoleh kenangan lain yang tidak berasal dari rekaman musik ataupun panggung konser. Kenangan itu lahir dari percakapan sederhana dan sikap ramah seorang musisi yang telah lama saya kagumi.

Saya kemudian menyadari bahwa pengaruh seorang figur publik tidak selalu muncul melalui pernyataan besar, kampanye sosial, atau pidato motivasi. Terkadang, pengaruh itu hadir melalui perilaku kecil: senyuman kepada orang yang baru dikenal, sapaan kepada petugas hotel, dan kesediaan berbincang tanpa menciptakan jarak sosial.

Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, kita memerlukan lebih banyak teladan tentang bagaimana menjadi berhasil tanpa kehilangan kehangatan sebagai manusia. Carlo Jikustik memberikan saya satu pengingat penting: kehebatan tidak selalu harus diumumkan, dan kerendahan hati tidak membutuhkan panggung untuk terlihat.

Barangkali suatu hari nanti, lagu-lagu Jikustik akan terus diputar oleh generasi yang bahkan belum lahir ketika Setia dan Puisi pertama kali dikenal masyarakat. Namun, bagi saya, setiap kali mendengarkan musik Jikustik akan selalu ada kenangan tentang seorang drummer yang tidak hanya piawai menjaga irama, tetapi juga menghadirkan kehangatan dalam perjumpaan sederhana.

Sebab, popularitas membuat seseorang dikenal banyak orang, tetapi kerendahan hati membuatnya dikenang dengan tulus. Dan Carlo telah memberikan saya alasan untuk mengenangnya dengan cara demikian. (*)

Editor : Arief M
Opini