
Oleh: Nor Hasanah, S.Ag., M.I.Kom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Pada 28 Oktober 1928, sekelompok pemuda di Batavia mengikrarkan tiga kalimat yang menjadi fondasi bangsa: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Sembilan puluh delapan tahun kemudian, kita memperingati Sumpah Pemuda ke-98 dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Namun jika para pemuda 1928 berdiri di hadapan kita hari ini dan bertanya, “Apa yang kalian perjuangkan sekarang?”, apakah kita bisa menjawabnya dengan jelas?
Medan perjuangan telah berubah, tetapi banyak pemuda hari ini berjuang untuk hal-hal berbeda dari generasi 1928.
Pada awal 2026, Komisi X DPR RI menggelar kunjungan kerja dan mendengar aspirasi berbagai organisasi kepemudaan. Kesimpulannya: kecemasan terbesar pemuda terkonsentrasi pada dua hal—akses pendidikan dan ketidakpastian kerja. Wakil Ketua Komisi X DPR RI My Esti Wijayati menyebut anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun ini sekitar Rp1,1 triliun, dengan 90 persen dialokasikan untuk olahraga, sementara porsi pembangunan kepemudaan sangat minim. Di sisi lain, tingkat pengangguran pemuda mencapai 11,78 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Kecemasan itu nyata: setelah lulus, apakah bisa mendapat pekerjaan? Apakah gelar bisa ditukar dengan masa depan?
Pada saat yang sama, di Kalimantan dan Sumatra, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti. Hingga 21 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), 75.172 di antaranya menimpa anak di bawah usia lima tahun. Bagi mereka, prioritas pertama adalah apakah bisa bernapas dengan lancar hari ini.
Dua kecemasan ini terlihat tidak berhubungan: yang satu tentang masa depan, yang lain tentang bertahan hidup. Namun ketika sebagian mencemaskan pekerjaan dan sebagian lainnya mencemaskan pernapasan, persatuan macam apa yang sebenarnya kita bicarakan?
Tema peringatan tahun ini menyebut “Gigih”, dan logo resmi menjelaskan: “Gigih bukan sekadar bertahan, tapi terus menyala ketika yang lain padam”. Tetapi kegigihan seperti apa yang dibutuhkan pemuda hari ini?
Sebuah laporan Kompas.com awal tahun ini mencatat sebagian Gen Z dan milenial mulai enggan mengejar promosi jabatan. Seorang karyawan berusia 27 tahun mengatakan ia melihat senior yang naik jabatan hidup semakin kacau, pulang larut malam, stres, dan pekerjaan tak ada habisnya. Ia memilih gaji yang cukup dan hidup lebih tenang ketimbang naik jabatan dengan sedikit kenaikan gaji tetapi beban kerja membesar. Fenomena ini disebut “hukuman bagi yang rajin”—semakin rajin, semakin banyak pekerjaan, tetapi imbalan tidak sebanding.



