
Oleh: Ahmad Barjie B
Penulis buku “DR KH Idham Chalid Ulama Politisi Banjar di Kancah Nasional”
Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas Islam Indonesia terbesar yang sering menjadi sasaran kritik, tidak saja oleh tokoh dan ormas di luar NU, tetapi juga kalangan internalnya. Di rumah besar NU terkesan ada NU garis lurus sebagai lawan NU mainstream, ada NU politik, bahkan ada yang tidak mau tahu lagi NU itu seperti apa dan mau jadi apa.
Kegelisahan sebagian orang NU disebabkan banyak faktor. NU dianggap terlalu akomodatif dan liberal, pernyataan para petingginya sering nyleneh dan kontroversial, terlalu memperjuangkan Islam Nusantara yang masih multitafsir, manajemen organisasi kurang rapi, kemampuan finansial lemah, dan masalah khilafiyah dianggap bukan zamannya lagi dipersoalkan.
Alasan paling mendasar tentu NU terlalu mendukung dan akomodatif terhadap kekuasaan, sehingga fungsinya sebagai organisasi keagamaan yang juga harus proaktif melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar menjadi agak tumpul. NU cenderung menjadi vote getter pemilu dan alat legitimasi kekuasaan.
Bagi NU sendiri, sikap akomodatif tersebut merupakan pilihan sulit. Di satu sisi NU belum mampu mandiri secara ekonomi. Banyak madrasah dan pesantren butuh bantuan, sementara donasi masyarakat menurun. Belum lagi banyak orang NU yang hidup dari NU, bukan menghidupkan NU. Bantuan pemerintah dan swasta masih dibutuhkan.
Selain itu NU memiliki alasan normatif. Sebagai jam’iyah diniyah, NU sejak lama menggunakan pendekatan ushul-fiqhiyah dalam sikap politiknya. Jika ada dua risiko, NU memilih risiko paling ringan. Kalau beroposisi terhadap pemerintah akan menimbulkan perpecahan lebih fatal, NU tidak akan melakukannya. Dengan tetap mendukung pemerintah, NU akan melakukan perbaikan dari dalam. Pemerintah wajib ditaati sepanjang kebijakannya berisi kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat. Konstruksi idealnya seperti itu.
Karena itu NU akan mencari dan melihat sisi baik kebijakan pemerintah. Ada saatnya cooling down dan saat lain melakukan perbaikan lebih mendasar. KH Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang pendiri NU, meminta warga NU menjadi ikan laut: sekian lama hidup di laut tetapi rasanya tetap tawar, tidak ikut asin. Yang penting semangat warga NU tetap hidup, jangan ikut larut dan mati.
Sikap Alami
Pakar politik era 1980-an Dr Alfian (alm) menyebut sikap akomodatif NU sebagai “politik gelang karet”. NU membedakan dirinya dengan organisasi politik, cendekiawan, LSM, pembaharu, oposisi dan sejenisnya. Karena itu NU mengembangkan moderasi dalam berpolitik dan beragama dengan sikap akomodatif dan toleran.
Menurut politisi asal Kalsel Syamsul Muarif (alm), NU selalu lentur dan luwes menyikapi perkembangan sosial politik. Seperti gelang karet, ia dapat mengeras dan mengembang, mengecil dan melentur, tergantung perkembangan zaman dan tantangan yang dihadapi. Sikap ini terlihat pada tokoh-tokoh NU seperti KH Bisri Sansuri, DR KH Idham Chalid, KH Ali Yafie, KH Sahal Mahfuzh, KH Hasyim Muzadi, KH Abdurrahman Wahid hingga KH Yahya Cholil Staquf.
Ada kalanya NU bersuara kritis, tetapi tidak sampai mengarah pada perubahan drastis-revolutif. NU lebih senang melakukan perubahan secara kultural-evolutif. Perubahan tanpa pertimbangan dan persiapan matang malah kontraproduktif.



