Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jangan Merdekakan Murid, Tapi Belenggu Gurunya

a
Penulis: admin❯
Rizky Aulia, S.Pd., Gr
Rizky Aulia, S.Pd., Gr

Advertisement

Oleh: Rizky Aulia, S.Pd., Gr
Pengurus Asosiasi Guru Ekonomi Indonesia (AGEI)
Guru Ekonomi SMA Negeri 4 Banjarmasin

Kemerdekaan Indonesia ternyata belum selesai diperjuangkan. Bukan karena bendera merah putih belum berkibar, bukan pula karena penjajah masih berdiri di depan pintu sekolah. Penjajahan hari ini bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: guru yang kehilangan ruang untuk berpikir, sekolah yang terlalu sibuk mengejar administrasi, dan pembelajaran yang berubah menjadi rutinitas mengejar angka.

Kita sering berteriak tentang Merdeka Belajar. Tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: sudahkah guru benar-benar merdeka untuk mengajar?

Advertisement

Pertanyaan ini penting karena di tangan guru masa depan bangsa dipertaruhkan. Portal Data Kemendikdasmen menunjukkan data pendidik dan tenaga kependidikan aktif Indonesia terus diperbarui secara harian; per 3 Agustus 2026, pemerintah menyediakan data nasional sebagai basis pengelolaan kebijakan pendidikan. Di sisi lain, Ruang GTK kini telah menjadi ekosistem besar dengan lebih dari 144.000 komunitas guru dan tenaga kependidikan yang berbagi praktik baik dan mengembangkan kompetensi. (Portal Data Kemendikdasmen)

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia menggambarkan betapa besar kekuatan manusia yang dimiliki Indonesia. Namun, kekuatan sebesar itu tidak akan berarti apabila guru hanya diposisikan sebagai pelaksana kebijakan.

Guru bukan operator kurikulum. Guru bukan mesin administrasi. Dan guru jelas bukan sekadar pengisi daftar hadir, jurnal mengajar, atau pengunggah dokumen.

Advertisement

Guru adalah manusia yang mendidik manusia.

Di sinilah gagasan kemerdekaan pendidikan harus dikembalikan kepada makna yang sesungguhnya. Ki Hadjar Dewantara sejak awal tidak membayangkan pendidikan sebagai proses memasukkan sebanyak mungkin pengetahuan ke kepala anak. Pendidikan adalah proses menuntun kekuatan kodrat anak agar tumbuh sebagai manusia yang merdeka.

Ironisnya, gagasan tersebut justru sering berhenti sebagai slogan di spanduk sekolah.

Pada Hardiknas 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti kembali menegaskan bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia melalui proses yang berlandaskan nilai, karakter, kasih sayang, serta prinsip asah, asih, asuh. Pemerintah bahkan menegaskan bahwa pendidikan harus menghidupkan kembali spirit pendidikan yang memerdekakan manusia lahir dan batin. (Kemendikdasmen)

Advertisement

Artikel Terkait

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan lingkungan yang tidak bisa dianggap sebagai kejadian musiman biasa. Kebakaran hutan dan lahan

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Kinerja industri manufaktur Indonesia kembali naik daun. Berdasarkan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) S&P Global,

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

Ngopi di warung kecil pinggir jalan sekarang punya nuansa yang berbeda dibandingkan lima tahun lalu. Anda tidak perlu lagi merogoh kantong u

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer