
Oleh: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga,
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga
Perguruan tinggi sering dipandang sebagai pabrik talenta: tempat di mana kecerdasan diasah, keterampilan diasah, dan gelar disematkan. Namun, jika kita berhenti pada definisi itu saja, kita berisiko menghasilkan sarjana yang pintar tetapi kosong arah moralnya. Di tengah arus globalisasi, persaingan kerja, dan tekanan performa, kampus harus berani menegaskan tujuan yang lebih luas: membentuk generasi yang unggul bukan hanya dalam prestasi, tetapi juga dalam moralitas. Excellence with morality bukan sekadar slogan akademik; ia adalah kebutuhan sosial dan investasi jangka panjang bagi peradaban.
Filosofi Kawah Candradimuka melambangkan proses penggemblengan dan pembentukan karakter. Dalam pewayangan, kawah ini adalah tempat sakral tempat Gatotkaca digodok hingga memiliki otot kawat tulang besi. Filosofinya mengajarkan bahwa untuk menjadi pribadi yang tangguh, kuat, dan luar biasa, seseorang harus siap melewati ujian, penderitaan, dan tempaan yang keras.
Pertama-tama, penting untuk memahami mengapa moralitas tetap relevan di era yang sangat mengagungkan kompetensi teknis. Kompetensi memungkinkan manusia berbuat efektif; moralitas memberi batasan untuk memastikan efektivitas itu diarahkan kepada kebaikan bersama. Seorang insinyur hebat yang mengabaikan etika keselamatan, seorang ekonom andal yang mengejar keuntungan tanpa memperhatikan ketimpangan, atau seorang peneliti berbakat yang mengorbankan integritas demi publikasi, semua contoh ini menunjukkan bahaya ketika excellence dipisahkan dari moralitas. Perguruan tinggi sebagai institusi sosial memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kedua aspek itu sekaligus: kemampuan dan nurani.
Lalu, bagaimana wujud konkret pendidikan yang menggabungkan excellence dan morality? Tidak cukup hanya menjejalkan mata kuliah etika di kurikulum sebagai formalitas. Pembelajaran moral harus hidup dalam praktik sehari-hari kampus. Artinya, kebijakan akademik, budaya belajar, struktur penilaian, serta interaksi antar civitas harus merefleksikan nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Dosen bukan hanya pemberi materi; mereka juga teladan. Ketika dosen menunjukkan integritas, keadilan dalam penilaian, dan rasa empati terhadap mahasiswa, mereka memberi pelajaran yang jauh lebih mendalam daripada sekadar teori. Begitu pula kebijakan kampus misalnya mekanisme penanganan plagiarisme, perlindungan whistleblower, dan kebijakan kampus ramah lingkungan akan membentuk lingkungan di mana moralitas dipraktikkan, bukan hanya diajarkan.
Selain itu, metode pembelajaran perlu diarahkan untuk melatih karakter. Proses diskusi, kerja kelompok, serta tugas berbasis proyek memberi ruang bagi mahasiswa untuk menghadapi dilema nyata misalnya memutuskan antara jalan pintas untuk lulus atau bekerja keras meski hasilnya belum pasti; memilih mitra penelitian yang etis; atau menyusun strategi bisnis yang tidak mengeksploitasi. Situasi-situasi ini menjadi laboratorium moral yang efektif. Pendidikan berbasis pengalaman (experiential learning), pembelajaran layanan masyarakat (service learning), dan pendidikan berbasis masalah (problem-based learning) menjadi kanal penting untuk menggabungkan pembelajaran kognitif dan afektif. Mahasiswa yang terbiasa mengambil keputusan dalam konteks etis akan lebih siap menghadapi kompleksitas dunia nyata.
Peran mahasiswa sendiri tidak boleh dikesampingkan. Pendidikan moral tidak bisa berjalan hanya dari atas ke bawah; harus ada partisipasi aktif mahasiswa. Diskursus kritis, organisasi kemahasiswaan yang sehat, serta komunitas ilmiah yang memupuk budaya pluralitas dan respek merupakan modal sosial yang berharga. Di sini penting pula menumbuhkan keberanian intelektual: kemampuan untuk mempertanyakan status quo tanpa mencederai martabat orang lain, untuk mengakui kesalahan, dan untuk berkolaborasi lintas perbedaan. Generasi unggul bermoral adalah mereka yang tidak hanya mengejar prestasi personal, tetapi juga memahami tanggung jawab sosial dari prestasinya.
Konteks Indonesia memberi nuansa tersendiri. Nilai-nilai gotong royong, musyawarah, rasa saling menghormati, dan kearifan lokal bisa menjadi fondasi moral yang kuat bila diintegrasikan dalam kehidupan kampus. Namun integrasi ini harus dilakukan secara kritis bukan romantisasi masa lalu, melainkan adaptasi nilai-nilai luhur ke dalam praktik modern. Misalnya, kegiatan pengabdian masyarakat yang melibatkan mahasiswa tidak boleh menjadi sekadar formalitas pengumpul SKS; ia harus memberi peluang bagi dialog antar generasi, penghargaan terhadap pengetahuan lokal, dan solusi yang berkelanjutan bagi komunitas mitra. Dengan begitu, mahasiswa belajar melihat ilmu bukan sebagai komoditas, tetapi sebagai alat tanggung jawab sosial.
Tidak kalah penting adalah peran teknologi. Era digital membuka akses pengetahuan yang luar biasa, namun juga menimbulkan tantangan etis baru: misinformasi, cyberbullying, manipulasi data, dan ketidakamanan privasi. Perguruan tinggi harus menyiapkan literasi digital yang beretika. Membekali mahasiswa dengan kemampuan kritis terhadap informasi, keterampilan menjaga integritas data penelitian, serta pemahaman tentang dampak sosial teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum masa kini. Selain itu, penggunaan platform digital di kampus harus mencontoh prinsip transparansi dan keadilan misalnya dalam penilaian berbasis platform atau akses materi pembelajaran.
Reformasi penilaian akademik juga merupakan aspek yang tidak bisa diabaikan. Sistem yang mendikotomi antara nilai angka semata dan pembentukan karakter cenderung menghasilkan perfeksionisme destruktif. Sebaliknya, penilaian yang holistik mengombinasikan kompetensi kognitif, keterampilan sosial, dan sikap etis memberi sinyal kepada mahasiswa tentang apa yang benar-benar penting. Penilaian formatif yang memberi umpan balik konstruktif, pengakuan atas kontribusi non-akademik seperti pengabdian masyarakat, serta penghargaan bagi inisiatif yang berorientasi pada keadilan sosial menjadi instrumen penting untuk menumbuhkan budaya excellence with morality.



