Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Paradigma Bobrok Cederai Pemerataan Pendidikan

a
Penulis: admin❯
Muhammad Firliadi Noor Salim, S.S., M.H
Muhammad Firliadi Noor Salim, S.S., M.H

Advertisement

Oleh: Muhammad Firliadi Noor Salim, S.S., M.H
Dosen Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan
Mahasiswa S3 Ilmu Syariah UIN Antasari Banjarmasin

Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap artikel opini berjudul Paradigma Baru Menuju Pemerataan Pendidikan karya Sri Supadmi, S.Pd. Artikel tersebut menekankan pentingnya pemerataan pendidikan, perubahan cara pandang masyarakat terhadap sekolah favorit, serta pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang adil. Gagasan itu patut diapresiasi. Namun, pemerataan pendidikan tidak cukup hanya dipandang dari kepatuhan masyarakat terhadap aturan. Pemerataan juga menuntut keberanian semua pihak menolak praktik jalur koneksi, titipan, intervensi, dan perlakuan khusus yang merusak keadilan dalam penerimaan murid baru.

Advertisement

Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, bukan hadiah bagi mereka yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan. Pendidikan semestinya menjadi jalan pembebasan, bukan ruang tawar-menawar kepentingan. Ketika proses penerimaan murid baru dicemari praktik titipan atau tekanan, yang dirusak bukan hanya aturan, tetapi juga martabat pendidikan.

Dalam pelaksanaan SPMB, masyarakat diminta percaya kepada sistem, orang tua diminta menaati prosedur, dan pemerintah menyatakan seluruh proses berjalan berdasarkan prinsip keadilan, transparansi, serta akuntabilitas. Namun, kepercayaan itu akan runtuh apabila masyarakat melihat atau menduga ada kursi yang dapat diperoleh bukan melalui jalur resmi, melainkan melalui pengaruh, jabatan, atau koneksi.

Di sinilah persoalan utamanya. SPMB tidak boleh sekadar tampak tertib di atas kertas, tetapi rapuh dalam praktik. Jalur domisili, prestasi, afirmasi, dan perpindahan tugas orang tua tidak boleh menjadi formalitas apabila di belakang layar masih tersedia ruang bagi mereka yang memiliki akses khusus. Jika itu terjadi, SPMB kehilangan roh keadilannya.

Advertisement

Zonasi bukan sekadar hitungan jarak. Kebijakan ini merupakan janji negara untuk memberikan akses pendidikan yang adil bagi anak-anak di sekitar sekolah, mengurangi ketimpangan, dan mencegah sekolah negeri menjadi ruang perebutan oleh mereka yang memiliki kuasa, uang, atau jaringan.

Tidak semua pilihan terhadap sekolah favorit lahir dari ambisi mengejar gengsi. Dalam banyak kasus, sekolah yang disebut favorit justru merupakan sekolah negeri terdekat dari tempat tinggal anak. Karena itu, menyederhanakan persoalan seolah-olah semua orang tua hanya mengejar sekolah favorit merupakan pandangan yang kurang tepat. Persoalan sebenarnya muncul ketika sekolah terdekat yang semestinya menjadi akses paling logis justru terasa sulit dijangkau karena proses penerimaan diduga tidak berjalan bersih.

Di situlah letak luka keadilan: anak yang dekat secara jarak dapat tersisih, sementara pihak lain yang memiliki akses memperoleh jalan masuk lebih mudah. Jika sekolah terdekat sekaligus merupakan sekolah favorit, hal itu tidak boleh mengaburkan hak anak-anak di sekitarnya. Integritas sistem justru diuji pada kemampuan menjaga hak mereka.

Bagi sebagian orang, penolakan di sekolah tertentu mungkin tampak sebagai persoalan biasa. Namun, bagi anak dan orang tua yang merasa haknya terabaikan, pengalaman itu tidak hanya berarti kehilangan kesempatan bersekolah di tempat yang dekat dengan rumah, tetapi juga hilangnya kepercayaan terhadap sistem.

Praktik jalur koneksi tidak sekadar mengambil satu kursi di ruang kelas. Praktik itu merampas hak anak lain, menghancurkan harapan keluarga, dan mengajarkan bahwa aturan dapat dikalahkan oleh kedekatan. Pendidikan yang seharusnya menanamkan kejujuran justru berisiko menjadi tempat pertama anak belajar bahwa kecurangan dapat menang.

Advertisement
Editor : Arief M

Artikel Terkait

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan lingkungan yang tidak bisa dianggap sebagai kejadian musiman biasa. Kebakaran hutan dan lahan

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Kinerja industri manufaktur Indonesia kembali naik daun. Berdasarkan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) S&P Global,

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

Ngopi di warung kecil pinggir jalan sekarang punya nuansa yang berbeda dibandingkan lima tahun lalu. Anda tidak perlu lagi merogoh kantong u

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer