
Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Setiap 7 Juli, Indonesia memperingati Hari Pustakawan. Penetapan tanggal ini melalui Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 81/M/2025 merupakan pengakuan resmi atas peran strategis profesi ini . Namun, di balik seremoni peringatan, ada ironi yang menganga: profesi yang dihormati satu hari dalam setahun itu, di 364 hari lainnya kerap dipandang sebelah mata.
"Aku pustakawan, bukan tukang sapu buku!" Mungkin itulah jeritan hati yang tak terdengar dari para penjaga literasi di seluruh Indonesia. Sebuah protes terhadap stigmatisasi yang sudah terlalu lama membelenggu martabat profesi ini. Sayangnya, jeritan itu sering kali tenggelam dalam tumpukan buku yang harus dirapikan dan deretan rak yang harus dibersihkan.
Mengapa Stigma "Penjaga Buku" Begitu Melekat?
Paradigma masyarakat tentang pustakawan masih sangat sempit dan kuno. Banyak orang membayangkan pustakawan sebagai sosok berkacamata tebal yang kerjanya hanya mengatur buku di rak, duduk di meja pelayanan mengurus peminjaman, dan memarahi orang yang berisik di perpustakaan. Bahkan, dalam kasus yang lebih ekstrem, mereka hanya diingat saat dibutuhkan, misalnya saat akreditasi perpustakaan tiba.
Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz, secara terbuka menolak stigma ini. Menurutnya, pustakawan bukanlah penjaga buku pasif, melainkan "fasilitator informasi, mediator pembelajaran, kreator digital, dan agen transformasi sosial yang visioner". Profesi ini telah berevolusi jauh melampaui tugas-tugas teknis yang dibayangkan masyarakat awam.
Namun, perubahan persepsi tak semudah membalik telapak tangan. Stigma terbentuk dari kegagalan sistemik: minimnya sosialisasi tentang peran pustakawan modern, belum optimalnya implementasi regulasi perpustakaan, dan yang paling menyakitkan—kondisi kesejahteraan pustakawan sendiri yang masih memprihatinkan.
Antara Pengakuan dan Realitas Pahit
Seorang pustakawan di Sigi, Sulawesi Tengah, bernama Mega (25), mengungkapkan keprihatinan yang menggambarkan nasib banyak rekannya: "Selama ini pustakawan dipandang rendah. Beda dengan guru, lebih diperhatikan, diberi sertifikasi, dapat tunjangan. Kalau pustakawan, gaji begitu-begitu saja, jenjang karier belum tentu ada".
Kata-kata itu menggambarkan ironi mendalam. Pustakawan adalah garda terdepan literasi, penjaga pintu gerbang pengetahuan, dan pemandu informasi di tengah banjir data . Namun, mereka justru diperlakukan sebagai warga kelas dua dalam ekosistem pendidikan. Sementara guru mendapat perhatian dan tunjangan, pustakawan dibiarkan merawat peradaban dengan gaji yang tak layak.
Regulasi yang ada pun seringkali pincang. Di banyak institusi, pustakawan dialihfungsikan ke posisi lain, seolah-olah keahlian mereka tak lagi relevan . Peta jabatan yang membelenggu membuat karier pustakawan mentok, padahal usia pensiun masih jauh . Tidak heran jika profesi ini kehilangan daya tarik bagi generasi muda.
Pustakawan Modern: Jauh dari Stereotip
Di balik stigma yang melekat, faktanya pustakawan modern adalah sosok yang sangat berbeda. Di Cilegon, pustakawan dilatih mengelola media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk menyebarluaskan informasi literasi . Mereka juga berperan sebagai pendongeng keliling yang memadukan teknologi dengan pendekatan storytelling untuk menarik minat baca.



