Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Membentuk Karakter Anak Banua

a
Penulis: admin❯
Suryanto
Suryanto

Advertisement

 
Oleh: Suryanto
Guru Besar Psikologi Sosial
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 menjadi momentum penting untuk bertanya kembali: pendidikan seperti apa yang dibutuhkan anak-anak Banua hari ini? Apakah cukup membuat mereka pintar secara akademik, lulus ujian, masuk sekolah favorit, dan terampil memakai teknologi? Atau pendidikan harus bergerak lebih jauh: membentuk anak yang beriman, berakhlak, tangguh, santun, dan mampu hidup bermartabat di tengah perubahan zaman?

Pertanyaan itu penting karena anak-anak Banua tumbuh dalam dunia yang berbeda. Anak hidup di tengah derasnya arus informasi, media sosial, budaya instan, dan perubahan sosial yang cepat. Di sekolah, mereka diajari jujur, disiplin, hormat kepada orang tua dan guru. Namun, di luar sekolah, mereka juga menyaksikan banyak contoh nilai moral yang tidak selalu sejalan: ujaran kasar di media sosial, perdebatan publik yang kehilangan adab, korupsi menjadi tontonan, dan kekuasaan yang kadang lebih menghargai kedekatan daripada kecakapan dan kompetensi.

Advertisement

Dalam situasi seperti itu, pendidikan karakter tidak cukup diajarkan sebagai mata pelajaran. Pendidikan harus menjadi napas kehidupan bersama. Tema Hardiknas 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” mengingatkan bahwa pendidikan tidak bisa bekerja sendirian. Bagi Banua, partisipasi semesta berarti keluarga, sekolah, masyarakat, media, tokoh agama, tokoh adat, dan pemerintah daerah harus bergerak bersama membentuk karakter anak.

Dalam psikologi perkembangan, Urie Bronfenbrenner melalui teori ekologi menjelaskan bahwa anak tumbuh dalam berbagai lapisan lingkungan yang saling memengaruhi. Ada keluarga sebagai lingkungan terdekat, sekolah sebagai ruang belajar formal, teman sebaya, masyarakat, budaya lokal, media massa, media sosial, hingga kebijakan negara. Semua lapisan itu membentuk cara anak berpikir, merasa, dan bertindak.

Artinya, karakter anak Banua tidak hanya ditentukan oleh guru di kelas. Karakter mereka juga dibentuk oleh percakapan di rumah, cara orang tua menyelesaikan masalah, sikap masyarakat terhadap kejujuran, tontonan yang mereka konsumsi, dan teladan para pemimpin yang mereka lihat. Jika sekolah mengajarkan adab, tetapi media sosial membanjiri anak dengan caci maki, pesan pendidikan menjadi lemah. Jika guru mengajarkan kejujuran, tetapi ruang publik memberi panggung kepada kelicikan, anak menerima sinyal moral yang bertabrakan dan disonansi kognitif.

Advertisement

Teori Belajar Sosial Albert Bandura memperkuat hal itu. Anak belajar melalui pengamatan dan peniruan. Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantoro, anak belajar “Nontoni, Nirokke dan Nambahi”. Mereka meniru perilaku yang sering mereka lihat, apalagi jika perilaku itu tampak dihargai, dianggap berhasil, atau dibiarkan tanpa konsekuensi. Karena itu, teladan jauh lebih kuat daripada ceramah. Anak yang melihat kejujuran dihargai akan lebih mudah menjadi jujur. Anak yang melihat kekerasan verbal dianggap lucu atau hebat akan lebih mudah menirunya.

Banua sebenarnya memiliki sumber kearifan lokal yang kuat untuk membentuk karakter. Dalam tradisi Banjar dikenal nilai  baiman, bauntung, dan batuah. Tiga nilai ini menggambarkan manusia ideal dalam masyarakat Banjar. Baiman berarti memiliki dasar iman dan akhlak. Anak Banua perlu tumbuh sebagai pribadi yang sadar bahwa hidup bukan hanya mengejar nilai, uang, jabatan, atau popularitas, tetapi juga pertanggungjawaban moral di hadapan Tuhan dan sesama manusia. Baiman harus tampak dalam kejujuran, amanah, rendah hati, dan kepedulian.

Bauntung dapat dimaknai sebagai hidup yang membawa manfaat, memiliki keterampilan, dan mampu mandiri. Dalam konteks sekarang, anak Banua harus dibekali literasi, teknologi, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan etos kerja. Mereka perlu mampu bersaing tanpa kehilangan akar budaya. Pendidikan tidak boleh membuat anak tercerabut dari Banua, tetapi harus membuat mereka mampu membawa Banua masuk ke percakapan zaman.

Batuah berarti membawa tuah, kebaikan, dan keberkahan bagi lingkungan. Anak yang batuah bukan hanya pintar untuk dirinya sendiri. Kehadirannya memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan Banua. Ia tidak menggunakan ilmunya untuk menipu, merendahkan, atau merusak, tetapi untuk memperbaiki kehidupan bersama.

Advertisement
Editor : Arief M

Artikel Terkait

Siswa Tinggal Kelas, Ready or Not?

Siswa Tinggal Kelas, Ready or Not?

Ungkapan tinggal kelas memberi kesan horor tersendiri bagi siswa-siswa milenial terdahulu ketika tidak mampu mencapai ketuntasan belajar di

TKA Terkendala Jaringan, Kemendikdasmen Siapkan Sesi Khusus

TKA Terkendala Jaringan, Kemendikdasmen Siapkan Sesi Khusus

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK/MA/MAK sempat mengalami kendala jaringan, Selasa (27/10). Hal itu membuat pelaksana

Siswa Bekerja, Pendidikan Tetap Utama

Siswa Bekerja, Pendidikan Tetap Utama

Di ruang-ruang kelas SMKN 1 Tanjung, kita sering melihat wajah-wajah muda yang menyimpan cerita hidup yang luar biasa. Di balik seragam seko

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer