Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

AI Bantu UMKM Lebih Tepat Sasaran

a
Penulis: admin❯
Herry Pradana, MBA
Herry Pradana, MBA

Advertisement

Oleh: Herry Pradana, MBA
Konsultan bisnis dan pengelola program inkubasi usaha dengan pengalaman lebih dari 15 tahun mendampingi UMKM dan startup 

Banyak pelaku usaha kecil sering mendengar soal kecerdasan buatan, tapi belum tahu mana yang benar-benar berguna. Masalahnya bukan di teknologinya, tapi di cara kita memilihnya.

Bayangkan seorang pemilik usaha Sasirangan di Banjarmasin dengan 7 karyawan; Setiap hari ia dan tim mengurus produksi, negosiasi dengan supplier untuk pewarna, bikin konten untuk pemasaran, dan melakukan pembukuan usaha, dan  disaat yang sama juga memikirkan kenapa bulan lalu laba usaha tipis padahal omzetnya naik. Di sela-sela itu semua, ia mendengar bahwa "AI dapat mengubah bisnis Anda."

Advertisement

Ia mencoba beberapa aplikasi. Satu terlalu rumit. Satu lagi terasa seperti versi mewah dari sesuatu yang sudah ia lakukan manual. Yang lain memerlukan data yang bahkan belum ia punya. Akhirnya, ia menyerah dan kembali ke cara lama.

Cerita ini bukalah dongeng, inilah yang terjadi pada mayoritas pelaku UMKM saat berhadapan dengan teknologi AI saat ini.

Pertanyaannya bukan "apakah AI berguna?", jawabannya sudah jelas: Ya. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “AI mana yang memang dirancang untuk kondisi nyata pelaku UMKM kita?”

Advertisement

Terus dimana letak masalahnya?
Dalam dunia inkubasi bisnis dan pengembangan ekonomi regional, kita sering memetakan efektivitas sebuah inovasi berdasarkan dua poros: dampak bisnis dan kompleksitas implementasi. Sayangnya, banyak pengembang teknologi terjebak di kuadran yang salah: biaya pengembangan tinggi namun dampaknya terhadap kelangsungan hidup harian UMKM sangat minim.

Selama ini kita juga terlalu sering menyederhanakan masalah adopsi teknologi di UMKM sebagai soal literasi digital atau ketakutan terhadap hal baru. Namun kenyataannya hal tersebut tidaklah akurat.

Pelaku usaha UMKM yang bertahan bertahun-tahun di tengah persaingan ketat, fluktuasi harga bahan baku, dan keterbatasan modal adalah justru orang-orang yang sangat adaptif. Mereka tidak anti-teknologi. Mereka anti-buang waktu dan anti-buang uang untuk sesuatu yang tidak jelas hasilnya.

Dan itulah masalah utama AI yang beredar saat ini: Sebagian besar teknologi AI yang dipasarkan saat ini sebenarnya adalah produk "kelas korporat" yang dipoles ulang. Teknologi AI ini dirancang untuk mereka yang memiliki anggaran besar, dengan dukungan tim IT, dan sistem data yang sudah rapi. Namun, ketika label "Ramah UMKM" ditempelkan pada strategi pemasarannya, hasilnya sering kali mengecewakan. Pemilik usaha akhirnya menghabiskan modal untuk teknologi yang tidak bisa mereka gunakan, tidak mereka pahami, atau sederhananya, tidak menyelesaikan masalah nyata mereka.

Advertisement
Editor : Arief M

Artikel Terkait

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Jangan Tunggu Banjir Setelah Karhutla

Indonesia kembali dihadapkan pada persoalan lingkungan yang tidak bisa dianggap sebagai kejadian musiman biasa. Kebakaran hutan dan lahan

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Di Balik Ekspansi Industri Manufaktur

Kinerja industri manufaktur Indonesia kembali naik daun. Berdasarkan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) S&P Global,

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

QRIS dan Kekuatan Finansial di Era Digital

Ngopi di warung kecil pinggir jalan sekarang punya nuansa yang berbeda dibandingkan lima tahun lalu. Anda tidak perlu lagi merogoh kantong u

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer