
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Bayangkan sebuah kandang ayam ras yang dulunya riuh oleh suara unggas dan berbau tajam, perlahan menjadi sunyi. Kandang itu bahkan sempat kosong tanpa aktivitas.
****
Harga pakan yang terus merangkak naik, sementara harga jual ayam justru anjlok, pernah membuat usaha Andi Ariyanto terpuruk. Ia harus menerima kenyataan pahit ketika usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga tak lagi mampu bertahan.
Namun, Andi tak ingin berlama-lama larut dalam keadaan. Kebutuhan keluarga membuatnya harus mencari jalan lain. Bekas kandang ayam di Rumah Limbah Bonsai Kelapa (Bonkla), Jalan Jolali, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru, itu kemudian disulap menjadi kumbung atau rumah budi daya jamur.
Kini, suasananya jauh berbeda. Udara lembap menyelimuti ruangan seluas 200 meter persegi tersebut. Ratusan baglog atau media tanam berbentuk silinder tersusun rapi di rak-rak kayu.
Dari lubang-lubang baglog, jamur tiram tumbuh dengan tudung putih menyerupai payung kecil. Komoditas inilah yang kini menjadi sumber penghasilan baru bagi Andi. “Dulu sempat pusing memikirkan harga ayam yang labil. Tapi hidup kan harus terus berjalan, dapur harus tetap mengepul,” kenangnya.
Keputusan beralih membudidayakan jamur tiram sejak 2022 ternyata menjadi titik balik usahanya. Dari yang semula mengurus ternak unggas, kini Andi lebih banyak berkutat dengan serbuk kayu sebagai bahan utama media tanam.
Ia memilih serbuk kayu sengon karena dinilai cocok untuk pertumbuhan jamur. Sebaliknya, kayu yang terlalu keras dan mengandung getah kurang baik karena dapat menghambat pertumbuhan.
Serbuk kayu itu kemudian dicampur dengan kapur, dedak, nutrisi, dan air. Adonan didiamkan semalaman agar proses fermentasi berlangsung dan tingkat keasamannya lebih stabil.
Setelah tercampur merata, adonan dimasukkan ke dalam plastik tahan panas untuk dijadikan baglog. Tahap berikutnya adalah sterilisasi dengan cara dikukus selama 10 hingga 11 jam pada suhu sekitar 100 derajat Celsius.



