
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Tidak ada tanda sakit. Tidak ada pesan terakhir. Kepergian suami secara mendadak membuat Misnawati harus menghadapi duka sekaligus tanggung jawab membesarkan lima anak seorang diri.
****
Tidak ada tanda sakit. Tidak ada pula pesan terakhir. Siang itu, suami Misnawati masih duduk santai di rumah, makan seperti biasa, lalu tiba-tiba kejang dan pingsan. Ia tak pernah bangun lagi.
“Tidak sakit sama sekali. Duduk di rumah, makan, lalu kejang atau pingsan langsung hilang,” kenang Misnawati.
Menjelang 100 hari kepergian suaminya pada 3 November, perempuan 35 tahun itu masih menata duka. Namun, lima anak yang harus dibesarkan membuatnya tak punya pilihan selain bangkit.
Anak tertuanya baru berusia 15 tahun. Dua anak belajar di Pondok Pesantren Al-Falah putra dan putri. Tiga lainnya masih duduk di MI kelas 3, TK, dan PAUD.
“Sedih pasti ada. Tapi demi lima anak, harus bangkit lagi,” katanya.
Di tengah beban itu, Misnawati menerima santunan jaminan sosial senilai Rp247.207.920 yang mencakup Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kecelakaan Kerja.
Dana tersebut menjadi penopang penting bagi pendidikan anak-anaknya karena pencairannya diatur bertahap setiap tahun.
“Paling tidak ada napas lega. Sekolah anak-anak bisa terbayar,” ujarnya.



