Kematian istriku membawa kepedihan yang tak terkira. Hingga hari ini, bayang-bayang penderitaannya masih melekat dalam ingatanku. Ia menderita lahir dan batin ketika aku difitnah menjual mobil milik ayahnya. Tuduhan itu datang dari berbagai arah, seolah-olah aku sengaja menghilangkan amanah yang telah dipercayakan kepadaku. Padahal kenyataannya tidak demikian. Mobil itu dicuri orang saat kuparkir di halaman rumahku. Peristiwa itu terjadi pada hari ketika ayah mertuaku meminta diantar berobat ke rumah sakit. Karena jadwal pemeriksaan berlangsung cukup lama, beliau menginap di rumahku. Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku bahwa musibah besar itu akan terjadi.
Sejak kabar kehilangan mobil itu tersebar, hidup kami berubah. Penjelasan yang kusampaikan tidak mampu meredakan kecurigaan kedua mertuaku dan ipar-iparku. Istriku menjadi orang yang paling merasakan beban dari semua tuduhan itu. Ia harus mendengar bisik-bisik yang menyakitkan dan menanggung malu yang bukan berasal dari kesalahannya. Melihat keadaannya, hatiku hancur. Aku sadar bahwa kehilangan sebuah mobil telah menyeret keluargaku ke dalam penderitaan yang panjang. Karena itulah aku berjanji kepada ayah mertuaku bahwa aku akan mengganti mobil tersebut. Sejak saat itu, aku mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, berusaha memenuhi janji yang telah kuucapkan meskipun jalan yang harus kutempuh terasa begitu berat.
Akan tetapi, fitnah itu tak pernah benar-benar berhenti. Bahkan setelah istriku meninggal dunia, tuduhan demi tuduhan justru semakin menjadi. Kepergian Atika yang seharusnya menyatukan kami dalam duka malah memperbesar jurang permusuhan. Ibu mertuaku dan ipar-iparku tetap memupuk kebencian kepadaku.
Mereka juga menuduhku menikahi Atika hanya karena ingin mengincar harta keluarganya. Tuduhan itu begitu menyakitkan karena sama sekali tidak berlandaskan kebenaran. Memang benar aku berasal dari keluarga yang sederhana, sedangkan Atika lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang kaya serta terpandang. Perbedaan latar belakang itulah yang kemudian dijadikan alasan untuk menguatkan prasangka mereka. Bagiku, Atika adalah perempuan yang kucintai dengan tulus. Namun, di mata keluarga besarnya, cintaku tak pernah dianggap lebih besar daripada bayang-bayang kemiskinan yang selalu mereka lekatkan pada diriku.
Kini aku pun harus pergi meninggalkan rumah yang kutempati bersama Atika selama kurang lebih tiga tahun. Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan itu memang bukan milik kami, melainkan rumah orang tua Atika. Setelah kepergiannya, aku tak lagi memiliki tempat untuk bertahan. Tatapan sinis dan penolakan yang kuterima setiap hari membuatku mengerti bahwa kehadiranku sudah tidak diinginkan. Dengan hati yang berat, aku memutuskan melangkah pergi, meninggalkan semua kenangan.
Aku keluar dari rumah itu sambil menggendong buah hati kami yang baru berusia dua tahun. Di pundakku bukan hanya bertumpu tas berisi pakaian seadanya, tetapi juga tanggung jawab untuk membesarkan anak kami seorang diri. Tanpa tujuan yang pasti, aku berkeliling mencari sebuah rumah kontrakan yang sanggup kubayar dengan kemampuan yang kumiliki.
Aku bersyukur karena akhirnya menemukan sebuah rumah kontrakan yang bersih, nyaman, dan memiliki fasilitas yang cukup baik, meskipun biaya sewanya sangat terjangkau. Rumah sederhana itu menjadi harapan baru bagi kami setelah melewati hari-hari yang penuh kepedihan. Setidaknya, Damar memiliki tempat yang layak untuk beristirahat, sementara aku bisa mulai menata kembali kehidupan yang terasa porak-poranda sejak kepergian Atika. Meski belum memiliki banyak barang, kehadiran tempat tinggal itu sudah cukup membuatku merasa sedikit tenang.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pada malam pertama kami menempati rumah kontrakan tersebut, tubuh Damar yang baru berusia dua tahun mendadak diserang demam tinggi. Aku panik karena tidak mengenal lingkungan sekitar dan belum memiliki cukup uang untuk membawanya ke rumah sakit. Syukurlah, pemilik rumah kontrakan yang juga seorang dokter mengetahui keadaan kami. Dengan penuh kepedulian, beliau segera memeriksa dan memberikan pengobatan kepada Damar hingga panasnya berangsur turun. Kebaikannya menjadi pertolongan yang tak akan pernah kulupakan.
Keesokan paginya, setelah kondisi Damar membaik, aku mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi kompleks perumahan. Udara yang sejuk membuatnya kembali ceria setelah semalaman terbaring karena demam. Saat melintasi salah satu rumah, pandanganku tiba-tiba tertuju ke arah sebuah garasi yang pintunya terbuka. Sebuah mobil yang terparkir di dalamnya membuat langkahku terhenti. Seketika jantungku berdegup semakin kencang. Aku merasa sangat mengenal mobil itu. Dengan rasa penasaran, aku mendekat untuk memastikan. Setelah memperhatikan beberapa bagian yang begitu kukenal, aku yakin bahwa mobil itu adalah mobil milik ayah mertuaku yang selama ini dinyatakan hilang.
Seiring rasa penasaranku, aku memberanikan mengetuk pintu rumah itu. Seorang pria bertubuh tegap keluar dan menyambutku dengan wajah heran. Dengan hati-hati, aku memperkenalkan diri lalu menjelaskan bahwa mobil yang berada di garasinya adalah mobil milik ayah mertuaku yang hilang beberapa waktu lalu. Mendengar penjelasanku, raut wajah pria itu berubah terkejut. Ia mengatakan bahwa mobil tersebut dibelinya secara sah dari seseorang. Mendengar nama seseorang itu disebut, dadaku bergemuruh hebat.
***
Dengan hati tak karuan, aku bersegera menuju rumah mertuaku. Kebetulan siang ini seluruh keluarga besar telah berkumpul karena akan mengadakan arisan keluarga. Begitu aku melangkah masuk ke halaman, beberapa pasang mata langsung memandangku dengan tatapan dingin. Wajah ibu mertuaku mengeras, sementara ipar-iparku saling berpandangan dengan raut tidak senang. Suasana yang semula ramai mendadak menjadi hening. Aku berdiri sambil menggendong Damar yang tampak kebingungan melihat banyak orang menatap ayahnya.
"Kami tidak mengundangmu," ucap Yanti, salah seorang iparku.
"Pulang saja. Acara ini hanya untuk keluarga,” tambah ibu mertuaku ketus.
Aku menatap mereka satu per satu, lalu berkata dengan suara yang berusaha kutahan agar tetap tenang, "Saya datang bukan untuk acara keluarga ini. Saya datang untuk membersihkan nama saya dari fitnah yang selama ini ditujukan kepada saya. Saya ingin almarhum Atika tenang di alam kuburnya,” ungkapku lantang. “Selama saya masih dianggap menjual mobil Ayah, selama itu pula nama baik saya dan nama baik istri saya akan terus tercemar. Karena itulah hari ini saya datang untuk mengatakan kebenaran."
"Dasar pencuri, ya tetap pencuri!" suara Bayu terdengar lantang sambil menunjuk ke arahku.
Aku menatapnya tanpa gentar. "Kalau memang saya pencuri, mengapa saya yang datang ke sini membawa kabar tentang keberadaan mobil itu? Padahal kamu lebih tahu!”
"Jangan bersandiwara!" bentak Bayu. "Mobil itu sudah kau curi!"
Aku menarik napas panjang. "Aku tidak bersandiwara. Tadi pagi aku menemukan mobil Ayah di garasi salah seorang warga di kompleks tempat aku mengontrak. Aku sudah bertemu dengan pemilik rumah itu."
Semua orang saling berpandangan. Ayah mertuaku mengernyitkan dahi. "Apa yang dikatakan pemilik rumah itu?"
"Ia mengaku membeli mobil tersebut secara sah," jawabku tegas.
"Kalau begitu, dari siapa dia membelinya?" tanya ayah mertuaku.
Aku mengalihkan pandangan ke arah Bayu. "Dia pencurinya!"
Wajah Bayu seketika memucat. "Ini fitnah!"
Aku mengeluarkan telepon genggam dari saku celanaku. Dengan tetap berusaha tenang, kubuka beberapa foto yang kuambil beberapa saat sebelumnya. Kuperlihatkan gambar mobil milik ayah mertuaku yang terparkir di garasi, disusul foto rumah orang yang membelinya. "Ini mobil Ayah," kataku sambil menyerahkan ponsel itu kepada ayah mertuaku.
Semua orang bergantian melihat layar telepon genggamku. Tak ada seorang pun yang menyela. "Kalau Ayah masih meragukan ucapan saya, mari kita datang ke rumah itu sekarang juga. Biarkan pemilik rumah itu menjelaskan, siapa yang menjual mobil itu kepadanya."
Sesaat kemudian, aku berpaling tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkahku terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat pertama kali datang ke rumah itu. Beban yang selama ini menindih dadaku seakan runtuh satu per satu. Kupeluk Damar erat di dalam gendonganku. Entah mengapa, sejak tadi ia terus tersenyum, seolah mengerti bahwa ayahnya baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Air mataku menetes tanpa mampu kutahan. Di antara rasa lega dan haru, bayangan istriku kembali memenuhi benakku. Andai ia masih ada, tentu ia akan menjadi orang pertama yang memelukku. Kutengadahkan wajahku ke langit, lalu berbisik lirih, "Ma, Aku berhasil.” (*)
Penulis:
Muhamad Yusuf, Cerpenis yang mengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin. Beberapa penghargaan diraihnya dalam lomba penulisan cerpen, puisi, esai, dan opini, baik tingkat lokal maupun nasional.
Editor : Muhammad Rizky