CERPEN oleh: Amin Triyono
Pagi yang Kehilangan Warna
Dulu, caraku menyambut pagi adalah dengan menghirup aroma pagi yang penuh dengan nuansa tenang dedaunan. Aku biasa terbangun oleh simfoni oleh cuitan buung-burung dan nyanyian murai batu yang bersahut-sahutan merayakan taburan cahaya pagi. Tubuhku yang sewarna dengan tanah gambut basah dan ditumbuhi rambut-rambut halus pelindung, selalu ringkih terhadap dingin, namun hutan ini selalu punya cara untuk memelukku hangat. Kami berjalan tanpa alas kaki di atas hamparan lumut, memanggil tempat ini sebagai rumah. Sebuah rumah tanpa dinding, tanpa atap, dan tempat napas kami berbaur dengan napas dedaunan.
Pagi ini, pagi yang kau sebut itu tidak pernah dating lagi. Aku terbangun dengan dada yang terasa sesak saat coba kuhirup udara. Rasanya seperti ada kain yang menutup rapat hidungku. Paru-paruku terasa seperti menyempit, memompa udara yang mendadak terasa berat dan beracun. Saat kupaksa kelopak mataku seperti lengket dan perih untuk terbuka, hijau rumahku telah lenyap. Semua keindahan tentang hijau itu lenyap begitu saja. Dunia yang kukenal selama ratusan tahun telah berubah menjadi kepungan dinding kuning tembaga yang pekat. Jarak pandangku terpotong, menyisakan jarak tak lebih dari beberapa langkah saja.
Tidak ada matahari. Yang ada hanya lingkaran pudar tertutup sesuatu seperti awan, tetapi bukan awan, itu hanya jelmaan asap. Aku mencoba memanggil kawan-kawanku, melontarkan lengkingan yang biasanya akan dibalas bersahutan oleh puluhan suara dari seberang sungai. Namun, suara yang keluar dari mulutku hanyalah bisikan parau yang seperti tertahan oleh kesunyian yang mencekam. Hutan mendadak menjadi kuburan yang bisu. Hanya ada suara ranting-ranting patah dari kejauhan dan hembusan angin yang tidak lagi membawa kesegaran, melainkan hawa panas yang sangat terasa di kulit.
Aku meraba dahan tempatku berpijak. Pohon meranti tua ini, yang telah menjadi tempatku bernaung sejak badai besar puluhan musim lalu, terasa bergetar. Kulit kayunya yang tebal kini terasa hangat, seolah-olah menyembunyikan suhu yang tak biasa dari dalam tubuhnya. Di sela-sela akar yang mencuat dari permukaan tanah, asap-asap putih tipis mulai keluar, meliuk-liuk seperti goresan kuas yang muncul dari dasar inti bumi.
“Pergilah, carilah rumah baru yang lebih aman dari sini” sebuah bisikan tanpa suara seakan bergema dari dalam batang meranti. Itu bukan suara manusia, bukan pula suara binatang. Itu adalah suara jiwa dari hutan yang sedang sekarat. “Jangan bertahan di sini. Mereka telah menyalakan tungku di bawah rumah kita.”
Aku tahu apa yang dimaksud dengan ‘mereka’. Mereka adalah makhluk-makhluk berkulit mulus yang berjalan dengan dua kaki di batas hutan, yang membawa besi-besi raksasa bergemuruh, dan yang selalu memandang pohon-pohon kami dengan tatapan lapar. Kini, kelaparan mereka telah berubah menjadi api yang memakan segalanya.
Tungku Bawah Tanah
Aku memutuskan untuk segara turun. Bertahan di atas tajuk pohon sama saja dengan menyerahkan diri untuk dipanggang hidup-hidup oleh asap yang terus bergerak naik. Namun, begitu telapak kakiku menyentuh permukaan tanah gambut, aku langsung refleks menariknya kembali.
Inilah mengerikanya bencana yang mereka ciptakan. Kebakaran ini bukan sekadar api yang menari-nari di atas ranting maupun dedaunan, melainkan api yang menjalar di dalam kegelapan tanah. Gambut yang selama bertahun-tahun menyimpan air dan kesuburan, kini telah mengering karena kanal-kanal yang mereka gali di ujung sana, pohon-pohon yang sudah tidak dianggap penting, ditambah kemarau panjang yang semakin menambah lengkap. Gambut itu telah berubah menjadi batu bara muda, menjadi bahan bakar raksasa yang menyala sunyi di bawah tanah. Kamu tidak bisa melihat apinya, tetapi kamu bisa merasakan bagaimana suhu panas yang tercipta tersebut mampu melelehkan daging.
Dengan melompat dari satu perakaran pohon yang masih dingin ke perakaran lainnya, aku mulai berjalan menembus tirai-tirai kabut yang menyelimuti. Setiap tarikan napas membuat kepalaku pening luar biasa. Di mataku terus mengalirkan air mata yang mencoba membasuh abu-abu halus yang beterbangan dan menempel di kornea.
Di sinilah keajaiban magis tempat ini mulai menampakkan dukanya. Sepanjang perjalanan, aku tidak lagi melihat hewan-hewan dalam wujud fisiknya. Hutan ini terlalu magis untuk membiarkan kematian terjadi begitu saja tanpa penghormatan. Aku melihat sekelompok rusa jantan, namun tubuh mereka bukan lagi kulit dan daging, melainkan siluet asap hitam yang bergerak cepat. Mereka berlari melompati semak-semak, lalu perlahan-lahan melarut menjadi satu dengan kabut asap yang mengepungku.
Kulihat seekor beruang madu sedang memeluk pohon yang terbakar. Saat aku mendekat, wujud fisiknya memudar, semakin pudar, dan akhirnya jatuh ke tanah menjadi abu. Mereka bukan lagi melarikan diri, mereka sedang berpamitan. Roh-roh penjaga hutan, flora, dan fauna yang selama ini menjadi penjaga bagi keseimbangan pulau ini sedang melepaskan ikatan mereka dengan dunia material. Mereka memilih lenyap dari pada harus terus-terusan menghirup racun ini.
“Tunggu!” teriakku pada siluet-siluet asap itu. “Jangan tinggalkan aku sendiri di sini!”
Namun, tak ada jawaban. Angin yang bertiup hanya membawa sisa-sisa daun gosong yang sudah menjadi arang, beterbangan seperti kupu-kupu hitam kecil yang patah sayapnya. Hutan ini tampak sangat gosong, tak ada hijau, bahkan kicau. Rumah ini sedang dihancurkan oleh tangan-tangan serakah yang selalu kelaparan.
Benteng Api dan Monster Besi
Aku terus berjalan ke arah selatan, satu-satunya arah yang kupikir masih menyediakan jalan keluar menuju sungai besar. Namun, langkahku terhenti ketika terdengar suara gemuruh. Itu bukan suara pohon yang tumbang, melainkan suara raungan mesin yang cukup mengintimidasi.
Aku mengintip dari balik semak kantong semar yang telah mengering dan layu. Tatapanku tertuju pada dunia yang benar-benar jauh dari kata hijau. Hutan yang dulu begitu hijau telah berubah menjadi hamparan tanah luas gersang kehitaman dan menyisakan tunggul-tunggul pohon yang masih berasap. Di atas tanah gersang itu, monster-monster besi raksasa berwarna kuning menyala sedang bergerak lambat. Mereka meratakan tanah, membuat sekat-sekat baru untuk tanaman-tanaman seragam mereka.
Di batas antara hutan yang tersisa dan tanah gersang itu, manusia-manusia berdiri dengan masker menutupi wajah mereka. Mereka memegang selang-selang air, mencoba memadamkan api yang mendekati area konsesi sendiri. Lucu sekali. Mereka yang memicu api untuk membakar lahan di tempat lain agar menghemat biaya pembersihan. Namun, kini mereka ketakutan saat api itu mulai tak terkendali dan mengancam satu hal yang mereka sebut sebagai 'aset'.
Ya, kali ini aku terjebak. Di depanku adalah manusia dengan monster-monster besi yang menakutkan. Di belakangku, dinding api setinggi pohon tegak berdiri, merah bergelora, dan siap menelan apa saja yang dilewatinya. Rambut-rambut ditubuhku mulai hangus. Ternyata suhu yang begitu panas tidak terasa sudah sampai menjilat punggungku.
Keputusasaan mulai merangsek dalam pikiranku. Tempat untukku kembali sudah tak ada lagi dan ke mana aku harus terus melangkah lagi. Aku segera berbalik. Mana mungkin kubiarkan diriku ditangkap oleh manusia-manusia biadab itu. Mereka hanya akan menjadikanku tontonan atau dianggap sebagai hama yang mengganggu perluasan lahan mereka. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke dalam pelukan tempat tinggalku, walau itu mungkin akan sangat menyakitkan.
Aku mulai mendekati sebuah pohon ulin tua yang berada dalam kepungan api. Ini adalah pohon kayu besi karena kekuatannya. Perlu berhari-hari untuk merobohkannya dengan gergaji mesin. Namun di hadapan amukan api, ulin tua ini mulai menunjukkan tanda-tanda retak. Batang ulin ini terasa begitu panas. Aku terus memanjat menggunakan sisa-sisa tenaga dengan badan yang terus gemetar. Di dahan yang paling tinggi yang belum terjamah api, aku duduk bersila. Kupeluk batang ulin itu dengan sangat kuat. Kucoba satukan detak jantungku yang panik dengan getaran terakhir dari pohon ini.
“Kita akan terus Bersama dan bertahan sampai akhir,” bisikku pada pohon ulin ini, sementara asap kuning pekat mulai membungkus tubuhku sepenuhnya. Apa yang kurasakan di dalam paru-paruku seperti sudah tak tertahankan lagi. Aku kembali menarik napas dalam-dalam, membiarkan butiran-butiran arang halus dan hawa panas itu merangsek dan membakar bagian dalam tubuhku. Pandanganku perlahan menjadi gelap, berganti menjadi warna kuning kemerahan, sebelum akhirnya semuanya menjadi hitam dan begitu sunyi.
Menyatu ke dalam Diri Mereka
Kematian bukanlah akhir. Kami tidak serta merta membusuk lantas dilupakan. Fisikku telah terhenti, namun tidak dengan jiwaku. Jiwaku belum musnah. Jiwaku telah menyatu dengan kabut asap itu sendiri. Aku sudah tidak terikat pada satu tempat. Aku adalah partikel-partikel halus yang melayang ditiup angin. Aku terus bergerak meninggalkan hutan, melintasi sungai-sungai besar dan terbang menuju perkotaan.
Batas-batas pula telah kulalui. Aku terbang melintasi bangunan-bangunan beton, menembus celah-celah ventilasi rumah mewah, dan menyelimuti jalanan. Aku melihat manusia-manusia di kota sibuk mengeluhkan berbagai aktivitas mereka yang terganggu karena indeks standar indeks pencemaran udara yang sudah menyentuh level berbahaya.
Mereka hanya menganggap kabut asap ini sebagai gangguan, sebuah bencana tahunan. Mereka tidak sadar bahwa apa yang sedang mereka hirup adalah jeritan kami. Mereka tidak sadar bahwa alam begitu penting bagi kehidupan.
Masker-masker tipis mereka kenakan dengan sia-sia. Aku menyusup masuk ke dalam rongga hidung, mengalir melalui tenggorokan yang mulai meradang, dan bersarang di dalam paru-paru. Setiap kali seorang manusia terbatuk-batuk hingga dadanya terasa sesak, itu adalah aku. Itu adalah sisa-sisa pohon meranti yang hangus, itu adalah pohon ulin yang ditumbangkan oleh api mereka, itu adalah arwah makhluk-makhluk yang meleleh, dan itu adalah rasa sakit dari tanah gambut yang membara.
Manusia mungkin bisa mematikan api di permukaan hutan dengan peralatan yang canggih dan mahal. Namun, mereka tidak akan pernah bisa menghilangkanku dari paru-paru mereka. Aku menyatu bersama darah, menjadi memori yang abadi dan beracun. Aku akan terus mengingatkan mereka bahwa setiap jengkal tanah yang ubah menjadi uang akan menjadi bentuk napas yang mencekik.
Di atas langit Kalimantan yang tak lagi biru, yang seperti mendung tapi bukan mendung, aku terus melayang sebagai memori sunyi. Memori abadi yang puitis namun cukup tragis, berusaha mengawasi dan mengingatkan akan dunia yang perlahan rusak bahkan semakin sesak. (*)
Tentang Penulis:
Amin Triyono, Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin