Cerpen Oleh: Heri Haliling
Uhuweekkk..!!
Keluar lagi kunyahan ramsum yang Deruma telan. Tumpah meluber di lantai besi. Sementara perempuan lain yang melihatnya hanya berpaling muka. Memang tiada yang bisa diharap selain bertahan saat amuk ombak begini. Penyekapan! Inilah yang mereka alami. Deruma dan lainnya adalah gadis Jawa yang diculik dan dikurung dalam ruang redup pengap. Dua hari mereka terkunci. Terkapung-kapung! Dan hantaman gelombang kemudian beriring sorak para Kaigun1 kapal.
"Heiho!!"
Deruma berpikir dengan keyakinan bahwa penjara apung ini pasti mendekati daratan.
Benar saja firasatnya. Tak lama derak pintu besi berbunyi diputar seseorang dari luar.
Klekk!!
Cahaya masuk lebih terang. Udara luar tercium aroma garam. Lalu derap langkah terdengar bersama lolongan bahasa Jepang. Kasar. Tarik, jambak, dan dorong menjelma perintah, termasuk Deruma yang terangguk-angguk lemah. Ia bersiap menuruni tangga kapal. Paling tidak sinar yang ia rengkuh kali ini lebih ramah. Jauh berbeda dengan campuran muntah di ruang sebelumnya. Terus kakinya meliuk-liuk menyusuri ruang palka hingga sampai pada mulut kapal.
Sebuah pelabuhan. Ada plakat besar di sekitar dermaga bertuliskan "Pelabuhan Telawang Borneo 1942". Deruma mulai memahami di mana dia. Satu kisah dari para gerilya mengatakan bahwa pasukan Rikugan di tanah kelahirannya akan menculik para wanita untuk dibawa ke Pulau Borneo. Kiranya inilah yang mereka maksudkan, batin Deruma.
Turunan tangga dipautkan ke kapal. Komando dengan hentakan pentungan ke pipa pagar terdengar. Di bawah, menunggu sekompi pasukan dengan bedil dan bayonet. Wajah mereka sipit, angkuh, dan dingin. Deruma membayang, rona itu tak berbeda dengan yang lalu-lalu. Segerombolan binatang buas yang gemar merampas!
Tepi dermaga, satu komandan Rikugan2, Tanaka. Pria tegap berseragam khaki lengkap bintang pada baretnya itu tajam. Ada katana terselip di antara ikat pinggang, salah satu khas jabatan. Kaigun menyambut dan bersikap hormat ala tentara Jepang. Sambutan itu tentunya untuk sang Komandan
Mereka berdua berbicara tegas. Dan tak perlu waktu lama, hentakan senjata beriring sikut dan hamburan bacin memerintah.
"Kalian! Para sundal turun!"
Sedikit kaget, Deruma mengingat komandan itu. Dia cukup paham bahasa Indonesia. Pijakan pertama di tanah Borneo, semua Jugun Ianfu3 digiring menuju truk militer.
*
"Cukuplah ibuku yang menjadi Nyai! Berani para bedebah itu mengangkangiku, niscaya kutetak batang jahanam yang diagung-agungkannya," desis Deruma dalam bahasa Jawa.
"Itu jika kau punya pisau," timpal Lastri yang tampak terpapar dehidrasi. Sejak suaminya tewas ditikam bayonet, tangisan menjelma badai hingga haus itu pupus di laut. Tersisa kini hanya serak kering dalam jasad dan ruhnya.
"Sederet gigi manusia bisa tajam serupa serigala!"
Lastri tersenyum mendengar jawaban itu. Ia mengangguk pelan.
"Binasakan," suaranya menyusut bersama tipis kesadaran yang berangsur pudar. Pandangan mata dan anggukan ke arah Deruma itu berarti pesan. Dan tiada isak. Para Jugun Ianfu hanya diam melepasnya.
Truk berderak sampai pada sebuah barak. Semua Jugun Ianfu turun dan diarak. Deruma menengok ke belakang. Jasad Lastri ditarik seperti barang. Nanar membingkai dari mata Deruma. Kemudian memuai uap dari panas dendam.
Memasuki pintu utama, sepanjang langkah Deruma tak henti membebat hidung dengan kain. Barak militer, puluhan tentara bermata lapar menjilati mereka. Semuanya bercampur bersama bau disinfektan. Dan Deruma tak segan meludahi setiap lantainya.
Sikapnya yang bengal tak urung menarik perhatian. Satu perwira mendekat dan bicara dalam sikap.
Plakk!!
Deruma ambruk bersama pedas pipinya. Bicara cadel itu ia maknai sebagai hujatan. Dan tak lama, sebuah jambakan menyeretnya masuk ruangan.
Terseok! Deruma menjerit diseret untuk dimandikan paksa. Di kamar mandi berdinding seng, seorang tentara Jepang meletakkan sebuah kotak kayu. Deruma membukanya. Tampak di dalam ada sabun, botol cairan cuka putih, dan kondom. Lagi, cadel itu hanya Deruma pahami sebagai perintah. Ia lepas semua pakaiannya untuk mandi.
Selesai dengan itu, sebuah kimono dipasangkan. Deruma dibawa ke sebuah kamar. Kemudian ia didorong masuk! Pintu ditutup.
Sore menelusup dari jendela bertanda sinar kuning jingga. Di dalam, Komandan Tanaka menunggu. Segera ia lepas seragamnya. Perwira itu melemparkan upah ke wajah Deruma yang liar. Bentuknya uang kertas bergambar padi dan senjata dengan nilai 2,5 yen.
"Keparat!" pekik Deruma menerjang. Ia berniat merampas pisau yang tergantung di celana Komandan Tanaka. Namun refleks perwira perang itu licin terukur! Ia berkelit dan menyikut Deruma. Berbalik amukan, binatang itu berusaha menunggang.
Deruma meloncat ke depan. Enggan diberangus, ia mulai mengepalkan tangan. Maju dan siap hantam.
Bukk!
Sayangnya genggaman baretta Komandan Tanaka lebih dulu mencium hidung Deruma. Perempuan itu terjungkal. Darah mengucur, tapi Deruma segera berdiri. Meskipun semua sari pati hilang berhari-hari di kapal, entah kekuatan dari mana tubuhnya terasa mampu! Keributan dimulai lagi. Gemuruh perabotan berjatuhan. Deruma berhasil mencapai pintu. Tak terkunci, dia membukanya.
Dalam babak belur, Deruma tercekat. Bahkan ia menggigit bibirnya yang telah berdarah itu. Dari pintu yang terbuka, para binatang berseragam khaki terlihat antre panjang dengan karcis di tangan. Mereka tertawa! Lembaran tiket membuat kekejian ini mirip loket masuk pasar malam. Dan dengan teriakan, Deruma murka amuk semua.
Malam menyelimut melalui desah angin yang melilit. Di bawah tempat tidur, telanjang, dan beralas lantai ulin sekujur tubuh Deruma terasa beku. Ia tergolek lemah. Sekitaran, sobekan tiket, dua gigi geraham, dan kondom berhamburan aroma pandan.
"Jahanam!" teriak Deruma sebisanya. Sekujur tubuhnya perih ngilu. Dan akibat keadaan yang menyesakkan itu, semua hanya ia lampiaskan dengan memukuli lantai.
Tiba-tiba pintu terbuka. Dari mata samar Deruma, Komandan Tanaka mendekat. Ia berjongkok.
"Minasan4! Kamo sudah sadar he.."
Komandan Tanaka menyibak rambut Deruma. Cekung melubangi bagian mata bercampur lebam biru. Darah kering masih membekas di dua lubang hidungnya. Dan pada pipi-pipi Deruma juga tampak guratan merah benda tajam. Mendadak mata sayu itu berpijar lagi! Komandan Tanaka berdiri. Deruma berusaha merangkak mencengkeram baju guna memperoleh cekikannya. Komandan berkelit dengan mudah, membiarkan Deruma ambruk kembali.
"Pulangkan aku! Atau bunuh aku segera!"
Perwira itu tertawa.
"Minasan, kamo wanita kuat. Saya suka kamo punya prinsip. Usai tugas saya nanti, kamo akan pindah he. Ada tempat bagus, bukan tempat sampah ini."
"Pulangkan atau bunuh aku segera."
"Tetaplah hidup Minasan," ujarnya sambil melangkah pergi.
Tiga bulan berlalu, hidup Deruma menjelma yen. Tubuhnya menjadi mesin pembukuan komersial. Sejak itu pula Deruma menyaksikan langsung monopoli Jepang. Misalnya lokalisasi lain di Taman Kamboja dan belakang kantor wali kota yang kian berkembang. Semua berawal di Telawang.
Dan nasib teman-temannya? Tuhan, banyak yang tak langsung mati. Padahal mungkin bagus untuk para Jugun Ianfu itu bila mati sekalian. Mereka harus mengalami siksaan panjang: sifilis, radang rahim, dan kegilaan. Psikologi hancur melahirkan berontak tiada arah. Kabur sesaat yang harusnya digunakan untuk bunuh diri, malah tertangkap dan dipotong jari-jarinya. Lalu dilempar ke sel gelap! Di sanalah temannya dibiarkan mati kehabisan darah.
Akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Melalui mulut ke mulut, perwira itu akhirnya pulang perang. Dan cukup sadar Deruma bahwa mana mungkin penjajah sialan itu secara iba mendatanginya. Apalagi menunaikan janji yang dulu ia ucapkan? Karena itu dirinya tak tunggu hal yang muskil. Segera Deruma memakai kimono bagus corak kembang sakura yang sengaja ia simpan. Beberapa bulan di sini Deruma belajar berlenggok dan bertahan. Berusaha kemayu hanya untuk sebuah tujuan. Dan pimpinan di sana itu adalah target Deruma dalam ukiran dendam.
Semua perlu pengorbanan. Semisal kesempatan ini. Menjadi pelayan para Komandan Rikugan tak sembarangan. Telah ada yang dipilih. Deruma bukan pilihan. Dia terpaksa menyekap sahabatnya dan beralasan kepada petugas bahwa temannya itu sakit pes. Sebuah alasan yang akan membuat mereka jijik. Dan roman yang ia harapkan muncul. Saat itulah Deruma menawarkan diri.
Benar saja, Komandan Tanaka yang memang telah gatal dengan bijinya segera menambatkan mata ke Deruma. Perempuan berkimono itu tampil memesona dengan tatap mata goda sambil membawa nampan sake.
"Kamooo..?"
"Deruma, Tuan."
Ekspresi lapar itu berubah takjub. Dan memang ekspresi itu yang Deruma inginkan.
Komandan Tanaka berbicara dalam bahasa Jepang kepada kepala barak. Melalui gerak mempersilakan itu Deruma paham bahwa kepala barak itu setuju untuk membawanya.
Lalu satu pengawal yang sedari tadi berdiri di belakang kepala barak mendekat. Telah mengerti maksudnya, Deruma bangkit. Berjinjit, ia berlenggok memasuki kamar yang diarahkan pengawal. Komandan Tanaka mengikuti di belakang.
Mulut komandan ini menguar sake yang pekat. Pipinya makin merah dan bicaranya cadel cepat seperti mantra. Satu hal yang jadi pengkhasan Deruma atasnya, yaitu si brengsek ini paham bahasa Indonesia. Sambil mengikuti alur lilitan dan cekikan, Deruma menggoda. Dia ingatkan atas janji beberapa bulan yang lalu. Dan seiring malam yang meninggi, secara berangsur Komandan Tanaka setuju.
Pagi hari, bagai menyaksikan malaikat, melalui celah pintu-pintu kamar, banyak mata Jugun Ianfu menatap Deruma yang melenggang bersama Komandan Tanaka. Sorakan yang sebagian dukungan, Deruma dengar.
Sesampainya di pelataran barak, Deruma mampu mencium udara kebebasan. Sebuah mobil jip mendekatinya. Dua Rikugan satu Komandan, dan satu kursi kosong. Pria yang sedang dimabuk birahi itu mempersilakan Deruma. Perempuan itu dengan mantap segera naik. Deruma mengetahui ke mana akan dibawa. Sebuah rumah sakit. Namun segera ia tebak dan tancapkan sebagai keyakinan bahwa di sana pun tak mungkin dirinya hanya duduk dan mengangkang.
Kendaraan melaju memasuki jalanan bandar. Semakin ramai pada pinggir-pinggir jalan baliho besar bergambar bendera Jepang. Umbul-umbul pun sama. Lalu roda membelok pada cerukan jalan yang belum rata. Jalur itu mungkin pintasan untuk ringkas perjalanan. Di sana Deruma temui banyak pria kurus hitam memikul cangkul dan linggis. Mata cekung mereka mencoba mengimbangi gerak alat-alat kerja itu. Satu dua tumbang di atas tanah berbatu. Rikugan menghampiri. Dan tanpa ba-bi-bu langsung mencambuki. Tubuh pribumi itu berkerut! Mengerang sekarat, sebelum diam tanpa gerak.
Rumah Sakit Pusat Bandar, markas yang mempunyai dwifungsi. Satu sisi diperuntukkan sebagai pusat kesehatan tentara yang terluka, sedangkan sisi lainnya tak berbeda dari barak sebelumnya. Eksploitasi seakan lebih terhormat di sini. Para suster yang rata-rata pribumi mengenakan blazer putih lengkap dengan masker. Aroma alkohol lebih menyengat saat Deruma bersama Komandan Tanaka memijaki tangga atas. Melewati lorong berlantai keramik, pria pemilik kekuasaan itu menjelaskan setiap fungsi ruangan. Di dalamnya, banyak tentara dibebat perban, terlilit selang oksigen maupun infus pada setiap ruang. Sejatinya, seiblis apa pun manusia dalam menjajah antarsesama, di sini mereka adalah binatang lumpuh.
Dan semenjak hari itu hingga Agustus 1945, Deruma yang lebih akrab dipanggil Rikugan termasuk Komandan Tanaka kocar-kacir kusut. Minasan menghabiskan keseharian sebagai suster perawat dan pemuas birahi. Tiga tahun di tanah orang dengan simpanan api yang menunggu picu. Puncaknya adalah kabar bahwa Kota Hiroshima dan Nagasaki yang dibom Amerika. Seumpama martir yang terpantik dendam dalam kemerdekaan, perjuangan menjelma topan. Pasukan Peta5 yang telah terbentuk bersama pemuda lokal di sini membara berani. Perlawanan gerilya terjadi baik mengendap maupun terjang pukang. Dampaknya sungguh terasa sebagai hantaman pemberontakan.
Di lingkungan rumah sakit ini penjagaan diperketat. Pos area luar ditambah dan di dalam, tak sembarang suster diberikan kepercayaan. Untuk masa inilah, Deruma ikut ambil bagian. Berkat ketekunan dan keterampilannya, ialah yang dipilih mengepalai suster untuk penanganan khusus para komandan yang terluka. Dan bagi Deruma, peningkatan demikian dinilainya sebagai sebuah keterlambatan. Secara senyap ia telah lama berhasil terhubung dengan satu tentara Peta. Darinya juga Deruma memperoleh informasi bahwa satu hari tertentu akan diadakan pengepungan. Di sana Deruma diminta bersiap.
Penantian yang melelahkan tersembunyi di benteng rumah sakit yang seolah kokoh tanpa tembusan. Persekongkolan Deruma dengan para Jugun Ianfu yang lain telah melahirkan proyek terstruktur. Ia yang telah menjelma karat akhirnya sampai pada momen yang diharap-harap.
Kegaduhan di dalam rumah sakit dimulai, semua petinggi yang terbaring sakit diinjeksi bius bahkan diracuni perawat. Pembelotan meledak dari para Jugun Ianfu. Mereka melawan sekuat tenaga. Daripadanya juga tubuh mulai tumbang satu per satu dilubangi peluru.
Komandan Tanaka yang mengetahui pemberontakan ini dikoordinir suster kepercayaannya, Deruma, segera memerintahkan penangkapan. Dan pada satu petang, Deruma yang pucat terborgol dibawa menuruni tangga untuk menghadap Komandan Tanaka. Di lantai bawah berkumpul sekitar dua kompi Rikugan.
Mirip ketika pertama kakinya menginjak tanah Borneo di tepi pelabuhan, mata sipit mereka menatap angkuh dan marah. Berhadapan, Komandan Tanaka segera menodongkan baretta ke dahi Deruma.
"Kamoo perempuan sundal! Saya beri hidup kamo di sini, tapi apa yang kini kamo perbuat he!" hardiknya.
"Para anjing dari tanah Sakura! Di negerimu sana tak cukupkah tulang hingga mengerat dan menjilati di sini?"
Doaar!!
Satu letusan menghantam dengkul kiri Deruma. Ia terkulai dalam patahan. Pedih yang sekian kali ia rasakan membiaskan panas. Mendadak dia terkekeh.
Plakk!!
Tamparan keras mengibas pipi Deruma. Kecapan asin terasa kembali. Deruma terbahak!
Komandan Tanaka yang merasa bahwa Deruma telah gila menyungging hina. Namun segera Deruma meludahkan darah ke wajah pria itu.
"Bedebah! Sedari dulu kau ludahi kami dengan benih jahanam yang kalian miliki. Maka kini mampuslah kau oleh benih pes yang kutitipkan!"
Komandan Tanaka yang sadar bahwa ludah darah itu berisi bakteri mematikan langsung menampilkan raut garang kecemasan. Sementara Deruma yang mulai kehilangan rasa, menoleh ke atas. Lalu mengangguk dua kali. Pesannya terbaca para suster yang diam bersembunyi bersama tumpukan tabung oksigen dan tabung asetilena di gudang. Mereka langsung menyalakan korek api dan segera dentuman dahsyat menggelegar! Api menyambar memecah kaca jendela dan meruntuhkan dinding. Semuanya terpental keluar.
Balutan malam terarsir jilatan api. Banyak Rikugan tewas terbakar di halaman. Tentara yang menjaga pos tentunya kaget bukan kepalang. Mereka menghambur mendekati Komandan Tanaka yang terkapar. Perwira yang terluka itu melihat Deruma masih bernapas. Dan dalam kemurkaan muka, ia memerintahkan satu pasukan untuk menghabisinya!
Deruma yang tak mampu menggerakkan tubuh hanya pasrah menyaksikan derap tentara mendekat acungkan senjata.
Dor!! Dorr!! Dor!!
Dan kian ramai pada kerlip sudut jalan. Melalui pandangan yang makin kabur, Deruma saksikan satu per satu tubuh tentara termasuk Komandan Tanaka tumbang bergantian dihujani peluru.
****
CATATAN KAKI
- Kaigun adalah Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.
- Rikugan adalah Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.
- Jugun Ianfu adalah istilah Jepang untuk perempuan yang dipaksa menjadi budak seksual bagi tentara Kekaisaran Jepang.
- Minasan (minna-san) dalam bahasa Jepang berarti sapaan hormat.
- PETA (Pembela Tanah Air) adalah pasukan bentukan Jepang di Indonesia pada masa pendudukan tahun 1943.
Tentang Penulis:
Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Dia seorang guru di SMAN 2 Jorong. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif menulis. Beberapa karyanya meliputi novel, novelet, dan kumpulan cerpen telah terbit baik di media/majalah cetak atau online. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling, email heri.surahman17@gmail.com atau nomor WA/E Wallet 083104239389.No ATM Bank BPD Kalsel: 2002714321.
Editor : Arief M