RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Berawal dari ketertarikan terhadap nilai sejarah mata uang, Fahruraji, warga Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, menekuni hobi mengoleksi uang kuno. Sejak 2010, ia mengumpulkan beragam uang kertas dan koin lawas, mulai dari terbitan era 1950-an hingga koin peninggalan zaman kolonial.
Bagi Fahruraji, uang kuno bukan sekadar alat transaksi yang sudah tak berlaku. Setiap lembar dan kepingnya menyimpan cerita masa lalu yang membuatnya tertarik untuk terus berburu koleksi.
Selama lebih dari satu dekade, ia mengumpulkan berbagai jenis uang kuno melalui pertukaran dengan sesama kolektor hingga pembelian secara daring. Harga yang harus dikeluarkan pun bervariasi, bergantung pada jenis uang yang diburu.
“Sebagian hasil bertukar dengan teman, ada juga yang saya beli secara online. Harga belinya bermacam-macam, ada yang Rp50 ribu, Rp100 ribu, sampai Rp150 ribu per lembarnya,” ujar Fahruraji, Jumat (9/10/2026).
Tak Sengaja Menemukan Uang Kuno Bernilai Puluhan Juta
Di antara berbagai koleksi yang dimilikinya, Fahruraji memiliki pengalaman yang sulit dilupakan. Ia pernah menemukan selembar uang kertas kuno di bagian plafon sebuah rumah tua peninggalan keluarga.
Uang tersebut bukan koleksi biasa. Menurut Fahruraji, nilainya ditaksir bisa mencapai Rp30 juta.
“Ada satu lembar yang nilainya ditaksir bisa sampai Rp30 juta, yaitu uang bergambar Imam Bonjol keluaran tahun 1952. Uang itu saya temukan di plafon rumah tua peninggalan bahari,” ungkapnya.
Temuan tersebut menjadi salah satu pengalaman menarik dalam perjalanan Fahruraji sebagai kolektor. Uang yang tersimpan di tempat tak terduga itu memperlihatkan bahwa benda-benda lama terkadang menyimpan nilai yang jauh melampaui nominal yang tertera di atasnya.
Meski demikian, nilai uang kuno tidak selalu sama. Kondisi fisik, keaslian, kelangkaan, dan minat kolektor dapat memengaruhi harga di pasaran.
Harus Jeli, Uang Kuno Palsu Juga Beredar
Menekuni numismatik atau hobi mengoleksi mata uang membuat Fahruraji harus semakin teliti. Ia mengaku tidak semua uang kuno yang beredar di pasaran merupakan barang asli.
Uang palsu maupun replika bisa menjadi tantangan bagi kolektor, terutama ketika berburu jenis uang yang dianggap langka dan bernilai tinggi.
Karena itu, pemeriksaan detail fisik menjadi hal penting sebelum memutuskan menambah koleksi. Ketelitian diperlukan agar kolektor tidak keliru membeli uang yang hanya menyerupai mata uang keluaran lama.
Pengalaman selama belasan tahun membuat Fahruraji memahami bahwa mengoleksi uang kuno bukan hanya soal mengumpulkan sebanyak mungkin lembaran atau kepingan, tetapi juga mengenali keaslian dan nilai sejarahnya.
Koleksi Bisa Dilihat Langsung di Pasar Paringin
Meski telah mengumpulkan berbagai uang kuno selama bertahun-tahun, Fahruraji tidak menutup kemungkinan melepas koleksinya kepada pihak lain.
Warga maupun sesama kolektor yang tertarik dapat datang langsung ke tokonya di kawasan Pasar Paringin, Kabupaten Balangan, untuk melihat koleksi yang dimilikinya.
Bagi penggemar numismatik, koleksi Fahruraji menawarkan kesempatan untuk melihat beragam mata uang dari masa lalu. Sementara bagi masyarakat umum, uang-uang tersebut menjadi pengingat bahwa benda yang pernah digunakan untuk bertransaksi juga dapat menyimpan kisah sejarah yang menarik untuk ditelusuri.
Editor : Eddy Hardiyanto