RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Kasus perundungan siswa di SMP Muhammadiyah 1 Banjarbaru kembali memantik sorotan tajam. Badan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Selatan menilai insiden tersebut bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan alarm serius bagi mutu pendidikan di daerah.
Kepala BPMP Kalsel, Santoso, menegaskan perundungan dan intoleransi di sekolah tidak bisa lagi dianggap hal biasa. “Kami melihat kondisi ini sebagai alarm keras. Solusinya tidak bisa hanya mengandalkan sekolah, melainkan harus ada tindakan nyata lewat kolaborasi ketat antara guru, orang tua, dan dinas pendidikan setempat,” ujarnya, Rabu (20/5).
Ia menekankan penjaminan mutu pendidikan tidak hanya soal capaian akademik. Rasa aman dan nyaman siswa di sekolah adalah bagian penting dari mutu. “Sekolah tidak akan pernah mencapai mutu sejati sebelum berhasil menyembuhkan iklim lingkungannya terlebih dahulu,” tegasnya.
Data Rapor Pendidikan di Kabupaten Banjar bahkan menunjukkan penurunan indikator iklim keamanan dan kebinekaan di jenjang sekolah dasar. Skor keamanan turun menjadi 73,11, sementara kebinekaan merosot ke angka 65,24.
Menurut Santoso, sekolah yang tidak aman justru dapat mematikan potensi terbaik siswa. Perundungan dan intoleransi dinilai lahir dari ekosistem pendidikan yang belum sehat. Karena itu, penguatan tata kelola sekolah, kode etik, hingga keteladanan guru menjadi langkah mendesak.
BPMP Kalsel juga menekankan penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sesuai Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, dengan melibatkan catur pusat pendidikan: sekolah, orang tua, masyarakat, dan media.
Santoso menambahkan, anggapan bahwa perundungan adalah hal biasa masih menjadi tantangan besar. Ditambah pengaruh media sosial dan pola interaksi anak yang berubah, sekolah dituntut lebih aktif membangun budaya aman dan inklusif.
“Kami berharap sekolah tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga memastikan setiap peserta didik merasa aman dan bahagia selama berada di lingkungan pendidikan,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dugaan perundungan terhadap siswa di SMP Muhammadiyah 1 Banjarmasin, berbuntut panjang. Kedua orang tua siswa saling lapor ke polisi. Saat ini upaya mediasi masih berjalan.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief