Pelajaran Empati dari Buku yang Direbut

admin • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 16:41 WIB
Herni, S.Pd.
Herni, S.Pd.

Oleh: Herni, S.Pd.
Guru kelas 4 SDN Pamarangan Kanan

Suatu hari di kelas 4 SDN Pamarangan Kanan, sebuah keributan kecil terjadi di tengah jam pelajaran. Salah seorang murid lupa membawa buku paketnya. Tanpa berpikir panjang, murid lain tiba-tiba merebut buku milik temannya agar pembelajaran bisa tetap berjalan. Suasana kelas yang tadinya tenang seketika berubah menjadi riuh penuh kekesalan.

Bagi sebagian orang, tindakan merebut buku mungkin tampak sebagai perilaku egois atau bahkan “nakal”. Namun, bertahun-tahun mendampingi anak-anak di sekolah dasar mengajarkan saya untuk tidak terburu-buru memberi label.

Hari itu, alih-alih langsung memberikan teguran keras atau hukuman di depan kelas, saya memilih memanggil kedua murid tersebut secara pribadi.

Saya bertanya dengan tenang kepada anak yang merebut, mendengarkan alasannya, serta mengajak mereka berdua memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dari percakapan sederhana itu, terungkap bahwa anak tersebut tidak bermaksud jahat atau berniat menyakiti temannya.

Ia hanya belum memahami batas hak milik serta cara berkomunikasi dan menyelesaikan masalah yang benar. Ia bertindak spontan tanpa menyadari bahwa perbuatannya merugikan orang lain.

Kejadian perebutan buku ini adalah cermin dari realitas tumbuh kembang anak. Anak-anak usia kelas 4, sekitar 9–10 tahun, masih mengembangkan pemahaman moral. Mereka mulai belajar mandiri, tetapi masih membutuhkan bimbingan untuk mempertimbangkan tindakan dan akibatnya.

Di mata seorang anak, tindakan merebut bisa jadi hanya dianggap solusi cepat atas sebuah masalah. Meskipun sudah mengenal benar dan salah, anak belum selalu mampu menerapkan pemahaman tersebut atau mempertimbangkan dampak emosional tindakannya bagi orang lain.

Di sinilah peran penting kita sebagai pendidik dan orang tua. Pendidikan karakter tidak bisa diajarkan sekadar lewat hafalan definisi di buku pelajaran atau aturan kaku yang dipaksakan. Karakter baik justru ditanamkan dalam momen-momen krusial seperti peristiwa di kelas hari itu.

Tugas guru bukan sekadar menjadi “hakim” yang menentukan siapa yang salah dan memberikan hukuman, melainkan menjadi penengah dan pembimbing.

Ketika kita mengambil waktu untuk mengajak anak berdialog—menanyakan mengapa mereka melakukannya dan membantu mereka merefleksikan perasaan temannya—kita sedang menanamkan benih empati dan kesadaran moral dari dalam diri mereka.

Menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak didik memang membutuhkan kesabaran ekstra dan rentang waktu yang tidak singkat. Hasilnya tidak akan terlihat dalam semalam.

Namun, setiap kali kita memilih untuk mendengarkan dan membimbing ketimbang menghakimi, kita sedang membantu mereka membangun kompas moral yang akan mereka bawa hingga dewasa kelak.

Sebelum kita terburu-buru melabeli seorang anak dengan kata “nakal”, mari kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita membimbing mereka memahami alasan di balik aturan, atau kita hanya menuntut mereka untuk selalu patuh? (*)

Editor : Arief M
Opini Opini Guru