PJJ Solusi Atau Masalah?

admin • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 17:51 WIB
Rosmilawati, S.Pd.,Gr
Rosmilawati, S.Pd.,Gr
 

Oleh: Rosmilawati, S.Pd.,Gr
Guru SD Negeri Kapar Hulu Kec. Murung Pudak
 

KEGIATAN pembelajaran yang marak kali ini adalah Pembelajaran Jarak jauh (PJJ),dimana situasi ini terjadi karena kondisi alam KARHUTLA yang sedang terjadi. Pembelajaran Jarak Jauh dipilih sebagai alternatif dari sekolah untuk aktifitas belajar mengajar.  Jika sebelumnya proses belajar dilakukan secara langsung tatap muka di kelas, pada Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pembelajaran dilakukan melalui perangkat seperti telepon genggam atau laptop dan menggunakan jaringan internet. Dalam PJJ, kegiatan belajar dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital seperti WhatsApp, Google Classroom, video pembelajaran, atau platform pembelajaran lainnya. PJJ juga dapat dilakukan secara luring melalui pemberian modul, lembar kerja, atau bahan ajar yang dapat dipelajari peserta didik secara mandiri. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) membantu pembelajaran tetap berlangsung ketika guru dan siswa tidak dapat belajar secara langsung dalam satu ruang. Bagi saya sebagai guru, keberadaan PJJ merupakan alternatif yang tetap diperlukan. Namun, dalam pelaksanaannya, saya menyadari bahwa pembelajaran jarak jauh tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan.

Ada satu hal yang terus menjadi perhatian saya: apakah tugas yang dikerjakan siswa benar-benar menunjukkan bahwa mereka memahami materi?

Pertanyaan tersebut muncul karena dalam PJJ, pemahaman siswa dapat menjadi beragam. Ketika guru memberikan materi dan tugas, hasil yang diterima dari siswa belum tentu menggambarkan proses belajar yang sebenarnya. Ada jawaban yang sudah diberikan, ada tugas yang sudah dikerjakan, tetapi guru tetap perlu melihat apakah siswa memahami apa yang mereka kerjakan.

Bagi saya, di sinilah salah satu tantangan terbesar PJJ. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi dan memberikan tugas. Guru juga perlu memastikan bahwa pembelajaran yang diberikan benar-benar dipahami oleh siswa. Saya sendiri merasa belum optimal dalam memastikan hal tersebut.

Saya melihat bahwa tugas dan pemahaman merupakan dua hal yang perlu dibedakan. Tugas yang selesai memang menunjukkan bahwa siswa telah mengerjakan sesuatu. Namun, tugas yang selesai belum tentu menunjukkan bahwa siswa memahami materi yang menjadi dasar dari tugas tersebut.

Persoalan ini menjadi perhatian saya karena pemahaman siswa tidak selalu sama. Dalam pembelajaran, ada perbedaan dalam cara siswa menerima dan memahami materi. Ketika pembelajaran dilakukan melalui PJJ, saya merasa lebih sulit memastikan perbedaan tersebut secara langsung.

Karena itu, saya tidak ingin melihat keberhasilan pembelajaran hanya dari tugas yang telah dikumpulkan. Bagi saya, yang lebih penting adalah mengetahui apakah siswa memahami apa yang telah dipelajarinya. Jika siswa dapat memberikan jawaban, saya tetap ingin mengetahui apakah jawaban tersebut benar-benar dipahami oleh siswa.

Persoalan tersebut kemudian menjadi semakin menarik ketika siswa menggunakan bantuan AI. Penggunaan AI menjadi salah satu hal yang perlu saya perhatikan dalam proses pembelajaran. Jawaban yang diperoleh siswa melalui bantuan AI belum tentu menunjukkan proses pemahaman mereka terhadap materi.

Saya tidak ingin persoalan penggunaan AI hanya dilihat dari boleh atau tidak bolehnya siswa menggunakan teknologi tersebut. Bagi saya sebagai guru, pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi pada proses belajar siswa ketika mereka mendapatkan bantuan AI.

Ketika siswa memperoleh sebuah jawaban, guru dapat menjadi lebih sulit mengetahui bagaimana siswa sampai pada jawaban tersebut. Apakah siswa memahami materi yang diberikan, atau apakah mereka hanya memperoleh jawaban yang dapat digunakan untuk menyelesaikan tugas? Bagi saya, pertanyaan itu penting karena tujuan pembelajaran bukan sekadar mendapatkan jawaban.

Hal ini juga berkaitan dengan pengalaman saya ketika pembelajaran tatap muka terbatas dilakukan. Saya melihat bahwa siswa terkadang dapat mengerjakan atau memberikan jawaban, tetapi belum tentu memahami jawaban tersebut. Pengalaman itu membuat saya semakin menyadari bahwa kemampuan memberikan jawaban dan kemampuan memahami jawaban bukanlah sesuatu yang selalu sama.

Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa guru perlu lebih memperhatikan proses pemahaman siswa. Tugas seharusnya tidak berhenti pada hasil yang dikumpulkan. Guru perlu memberikan umpan balik yang sesuai dengan pemahaman siswa. Bagi saya, umpan balik menjadi penting karena siswa memiliki pemahaman yang beragam.

Hal ini juga menjadi refleksi bagi saya sendiri. Saya tidak ingin hanya merasa bahwa pembelajaran sudah selesai karena materi telah disampaikan dan tugas telah diberikan. Saya perlu melihat kembali apakah siswa benar-benar memperoleh pemahaman dari pembelajaran tersebut.

PJJ memang memiliki keterbatasan. Namun, bagi saya, keterbatasan tersebut tidak seharusnya membuat perhatian terhadap pemahaman siswa menjadi berkurang. Justru karena guru tidak selalu dapat berinteraksi secara langsung dengan siswa, pemahaman terhadap proses belajar perlu menjadi perhatian.

Orang tua juga perlu memahami persoalan ini ketika mendampingi anak dalam PJJ. Bagi saya, yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah anak sudah mengerjakan tugas, tetapi juga apakah anak memahami apa yang sedang dikerjakannya. Pendampingan dalam proses belajar menjadi penting agar tugas tidak hanya menjadi sesuatu yang harus diselesaikan.

Saya juga menyadari bahwa guru tidak dapat mengharapkan kondisi pemahaman yang sama dari setiap siswa. Setiap siswa dapat memiliki tingkat pemahaman yang berbeda. Karena itu, saya merasa bahwa memberikan umpan balik yang sesuai menjadi salah satu bagian yang perlu terus saya perhatikan dalam pembelajaran

Penggunaan AI pun perlu ditempatkan dalam perhatian yang sama. Teknologi dapat memberikan jawaban, tetapi bagi saya sebagai guru, jawaban tersebut belum cukup untuk menunjukkan bahwa proses belajar telah terjadi. Yang ingin saya lihat adalah pemahaman siswa terhadap apa yang mereka kerjakan.

Pada akhirnya, saya tetap memandang PJJ sebagai alternatif yang membantu pembelajaran tetap berlangsung. Namun, pengalaman tersebut juga membuat saya semakin menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran tidak cukup dilihat dari tugas yang selesai.

Bagi saya, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah siswa benar-benar memahami materi yang telah diberikan?

Pertanyaan sederhana tersebut menjadi refleksi bagi saya sebagai guru. Tugas dapat selesai, jawaban dapat diberikan, bahkan bantuan teknologi dapat digunakan. Namun, semua itu belum tentu menunjukkan bahwa siswa telah memahami apa yang dipelajarinya.

Karena itu, dalam menjalankan PJJ, saya ingin terus memperhatikan bukan hanya hasil pekerjaan siswa, tetapi juga pemahaman yang ada di balik pekerjaan tersebut. Sebab, pada akhirnya, yang ingin dicapai dari pembelajaran bukan sekadar tugas yang selesai, melainkan siswa yang benar-benar memahami apa yang telah dipelajarinya.

Editor : Arief M
Opini Pendidikan Opini Guru