Oleh: Misran, S.Pd.,Gr
Guru SD Negeri 1 Pulau Kuu Kec. Muara Uya
Alumni Pelatihan Menulis untuk Guru, Kerjasama PT Adaro Indonesia & Radar Banjarmasin.
SEBAGAI seorang guru yang sehari-hari berhadapan langsung dengan dinamika di dunia sekolah, saya sering merenungkan kembali hakikat sejati dari profesi yang saya jalani ini. Dalam praktik pendidikan saat ini, tugas guru tidak lagi cukup sebatas mengajar dan menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas. Menjelaskan rumus, merangkum bab pelajaran, atau sekadar mengejar target ketuntasan kurikulum memang bagian dari kewajiban harian kita. Namun, apakah semua itu sudah cukup untuk membekali murid-murid kita dalam menghadapi kehidupan yang sesungguhnya di luar sana? Jawabannya jelas tidak. Hal yang sangat dibutuhkan siswa saat ini adalah pembelajaran bermakna, di mana pembentukan karakter dan akhlak mulia menjadi fokus utama, bukan sekadar penyerapan materi akademik semata.
Kita hidup di era ketika informasi begitu melimpah dan dapat diakses hanya dengan hitungan detik melalui gawai. Pengetahuan akademik kini bisa dicari di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Namun, nilai-nilai etika, kepedulian sosial, rasa hormat, serta integritas tidak bisa diunduh secara instan dari internet. Di sinilah peran krusial seorang pendidik diuji. Guru tidak boleh hanya memosisikan diri sebagai pengtransfer ilmu pengetahuan, melainkan harus hadir sebagai pembentuk jiwa, penuntun nurani, dan pembina karakter siswa.
Realitas di lapangan secara jelas menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak otomatis berbanding lurus dengan keluhuran sikap. Kepintaran akademis tidak pernah menjadi jaminan mutlak bahwa seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang santun, jujur, dan berempati. Pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama adalah: siapa yang bisa menjamin orang pintar pasti memiliki karakter yang baik? Tidak ada satu pun lembaga pendidikan atau tingginya angka di lembar rapor yang sanggup memberikan jaminan tersebut jika aspek pembentukan akhlak dikesampingkan dari proses belajar harian.
Pengalaman sederhana saya saat bertemu dengan dua orang alumni menjadi gambaran yang sangat nyata mengenai ketimpangan ini. Kejadian tersebut meninggalkan kesan mendalam dan terus menjadi bahan refleksi bagi perjalanan mengajar saya. Suatu hari, alumni pertama berpapasan dengan saya di sebuah tempat umum. Namun, ia lewat begitu saja tanpa menyapa, seolah-olah kami tidak pernah saling mengenal di ruang kelas yang sama selama bertahun-tahun. Padahal anak tersebut salah satu siswa berprestasi di kelas. Ada keprihatinan tersendiri yang saya rasakan, bukan karena saya meminta dihormati, melainkan karena melihat betapa lunturnya kebiasaan menyapa dan etika dasar dalam berinteraksi dengan orang tua atau pendidiknya.
Sebaliknya, pengalaman berbeda dan amat menyentuh saya rasakan saat bertemu dengan alumni kedua. Kala itu, saya sedang berada dalam situasi memerlukan bantuan. Tanpa ragu-ragu, alumni kedua ini datang menghampiri dan langsung menolong saya. Sambil ulur tangan membantu, ia dengan sangat santun memperkenalkan diri kembali seraya mengingatkan bahwa ia adalah salah satu murid yang sering di tegur karena sering buat masalah. Tindakan sederhana itu menggetarkan hati saya. Di sana saya menyadari, keberhasilan sejati dari proses pendidikan tidak diukur dari seberapa tinggi gelar atau nilai akademik yang pernah diraih murid, melainkan dari seberapa besar rasa empati, kepedulian, dan akhlak yang terus hidup dalam dirinya.
Fenomena ketidakseimbangan antara kepintaran dan akhlak ini ternyata tidak hanya terjadi dalam konteks hubungan personal harian, tetapi juga tercermin dalam skala yang jauh lebih luas di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita semua sering menyaksikan fenomena memprihatinkan ketika oknum pejabat yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan kecerdasan intelektual di atas rata-rata, justru gagal menjaga amanah rakyat. Mereka tanpa rasa canggung menyalahgunakan uang negara hasil pajak masyarakat demi kepentingan pribadi maupun kelompoknya.
Kenyataan pahit ini menegaskan kembali bahwa kecerdasan intelektual saja sama sekali tidak menjamin seseorang akan berkarakter mulia. Ketika kepintaran berdiri tanpa dipagari oleh keluhuran akhlak, kecerdasan itu justru berpotensi menjadi instrumen yang merugikan banyak orang. Realitas ini makin memperkuat pendapat utama saya mengenai betapa mendesaknya kita untuk mengedepankan pembentukan akhlak di atas penyerapan materi semata.
Oleh karena itu, sebagai langkah konkret ke depan, guru perlu membenahi implementasi pendidikan, khususnya pada tingkat sekolah dasar (SD) sebagai fondasi awal pembentukan kepribadian siswa. Usia sekolah dasar merupakan masa-masa emas di mana kebiasaan, emosi, empati, dan nilai moral anak sedang dibentuk secara mendasar. Jika fondasi karakter di tingkat sekolah dasar ini keropos, maka setinggi apa pun bangunan akademis yang didirikan di atasnya kelak akan rentan roboh oleh godaan moral.
Untuk membenahi implementasi pendidikan karakter di tingkat SD secara nyata, ada beberapa langkah praktis yang dapat dijalankan di sekolah Seperti : “Kantin Kejujuran dan Jurnal Kebaikan”, Siswa bertransaksi mandiri tanpa pengawasan langsung untuk melatih integritas sejak dini. Setiap pekan, siswa mencatat tindakan terpuji di jurnal harian untuk membangun kesadaran diri dan tanggung jawab. “Program Kakak Asuh Antarkelas”, Siswa kelas tinggi mendampingi siswa kelas rendah dalam kegiatan harian, seperti makan bersama, ibadah rutin, atau kerja bakti lingkungan. Praktik ini menumbuhkan empati dan kepemimpinan pada siswa senior, serta memberikan rasa aman bagi siswa baru. “Lingkaran Pagi dan Refleksi Moral Interaktif” Kegiatan singkat selama 10 menit sebelum pelajaran dimulai, guru menyampaikan cerita moral sehari-hari. Siswa diajak berdiskusi singkat mengenai nilai kebaikan cerita tersebut dan berkomitmen menerapkan perilaku santun hari itu.
Tentu saja, pembenahan ini tidak bisa dibebankan kepada guru di sekolah semata. Diperlukan sinergi yang erat antara guru, orang tua di rumah, dan siswa itu sendiri. Anak-anak di tingkat SD meniru apa yang mereka lihat setiap hari di lingkungan sekitarnya. Ketika orang tua dan guru memberikan teladan akhlak yang sejalan, maka nilai-nilai karakter tersebut akan tertanam kuat dan menjadi kompas moral siswa hingga mereka tumbuh dewasa.
Sebagai penutup, mari kita jadikan perenungan ini sebagai momentum bersama bagi para guru, orang tua, dan murid-murid di satuan pendidikan. Pendidikan sejati bukanlah ajang mencetak manusia-manusia yang hanya pintar berhitung dan berteori, melainkan proses membentuk manusia yang utuh-berakal cerdas sekaligus berakhlak mulia. Jangan hanya bangga ketika anak-anak kita meraih angka tinggi dalam lembar ujian, tetapi banggalah ketika mereka mampu bersikap jujur, santun, dan peduli kepada sesama dalam kehidupan nyata. Sebab pada akhirnya, kepintaran mungkin bisa membukakan pintu kesempatan, tetapi karakter dan akhlak mulialah yang akan menentukan sejauh mana seseorang dapat menjaga martabat dirinya dan bermanfaat bagi sesama. (*)
Editor : Arief M