Oleh: Erwan Setyanoor
Akademisi Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan,
Prodi Ekonomi Syariah
Dunia hari ini sedang menyaksikan sebuah lompatan teknologi yang paradoks. Di satu sisi, kehadiran Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan memberikan kemudahan luar biasa dalam memproses data. Di sisi lain, teknologi ini juga melahirkan apa yang bisa kita sebut sebagai "kecerdasan imitasi." Mesin-mesin ini mampu meniru gaya tulisan manusia, menyusun argumen yang tampak logis, bahkan memproduksi karya seni dan disinformasi berskala massal yang sangat meyakinkan.
Tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan banjir informasi yang kehilangan substansi. Ketika mesin bisa berpikir secara mekanis untuk manusia, di manakah posisi literasi kita? Menghadapi gempuran kecerdasan imitasi ini, dunia pendidikan dan sosial membutuhkan reorientasi total. Kita tidak bisa lagi memandang literasi sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus berevolusi menjadi sebuah kesadaran kritis, yang jika kita gali lebih dalam, akarnya telah tertanam kuat dalam tradisi epistemologi Islam melalui panduan Al-Qur'an.
Kecerdasan imitasi bekerja berdasarkan pola statistik dari data masa lalu. Ketika seseorang meminta chatbot AI untuk merangkum sebuah isu, mesin akan memberikan jawaban yang instan, rapi, dan meyakinkan. Bahayanya, kemudahan ini menciptakan "ilusi pengetahuan." Manusia merasa telah memahami suatu hal hanya karena mereka memegang teks rangkumannya. Ini adalah bentuk kedangkalan berpikir yang sistematis. Proses literasi yang autentik yaitu membaca lambat, merenung, berdialektika, dan mengalami pergulatan batin saat mencerna ide kini terancam digantikan oleh budaya copy-paste mekanis.
Jika kita merujuk pada cetak biru literasi Islam, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dimulai dengan perintah yang sangat monumental: “Iqra’” (Bacalah!) dalam Surah Al-Alaq ayat 1. Membaca dalam konteks Iqra’ bukan sekadar mengeja huruf atau mengumpulkan data seperti yang dilakukan oleh algoritma AI. Iqra’ adalah sebuah perintah untuk meneliti, mendalami, dan memahami hakikat realitas di bawah kesadaran ketuhanan.
Di era kecerdasan imitasi, merawat perintah Iqra’ berarti menolak untuk menjadi konsumen informasi yang pasif. Manusia yang literat secara Qur’ani tidak akan puas dengan secangkir informasi instan hasil racikan mesin. Mereka akan terdorong untuk melatih akal budinya, membaca sumber-sumber primer, dan memahami konteks secara utuh demi menemukan kebenaran yang autentik.
Salah satu ancaman terbesar dari maraknya kecerdasan imitasi adalah fenomena "halusinasi AI" sebuah kondisi di mana mesin membuat data, kutipan, atau referensi palsu namun disajikan dengan gaya bahasa yang sangat otoritatif dan meyakinkan. Ditambah lagi dengan maraknya deepfake dan artikel buatan mesin yang sengaja dirancang untuk memanipulasi emosi publik demi umpan klik (clickbait). Di titik inilah literasi evaluatif menjadi harga mati.
Al-Qur'an telah mengantisipasi kerentanan informasi ini melalui konsep Tabayyun (verifikasi silang) yang termaktub dalam Surah Al-Hujurat ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan...”
Jika di masa lalu istilah "fasik" merujuk pada individu dengan moralitas buruk, di era digital hari ini, kefasikan informasi bisa berwujud algoritma yang bias, bot penyebar hoaks, atau kecerdasan buatan yang memproduksi teks tanpa tanggung jawab moral. Mengaplikasikan prinsip Tabayyun di era AI berarti membangun benteng pertahanan intelektual. Setiap data, dalil, atau analisis yang disodorkan oleh AI wajib diperiksa ulang kesahihannya menggunakan otoritas ilmu yang valid, jurnal ilmiah, riset lapangan, atau kitab-kitab asli yang memiliki kejelasan sanad (mata rantai keilmuan).
Kita juga perlu mengingat batasan eksistensial antara manusia dan mesin. AI sering kali didewakan seolah-olah mengetahui segala hal (omnisains). Namun, Al-Qur'an mengingatkan kita dalam Surah Al-Isra' ayat 85 bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia itu sangat sedikit. Jika ilmu penciptanya (manusia) saja terbatas, maka ilmu mahluk buatannya (AI) jauh lebih terbatas.
AI boleh jadi memiliki memori data yang tak terbatas, namun ia tidak memiliki qalb (hati nurani), bashirah (intuisi), maupun hikmah (kebijaksanaan). Al-Qur'an secara tegas membedakan antara sekadar penumpukan informasi dengan kepemilikan hikmah (QS. Al-Baqarah: 269). AI bisa mengombinasikan kata-kata bijak dari ribuan filsuf dalam satu detik, tetapi AI tidak pernah "mengalami" rasa sakit, empati, keadilan, atau keimanan yang melahirkan kebijaksanaan tersebut. Literasi yang kita perjuangkan di tengah maraknya kecerdasan imitasi adalah literasi yang mengejar hikmah, bukan sekadar kecakapan memanipulasi data teks.
Lalu, bagaimana kita menerapkan kesadaran ini secara konkret? Langkah pertama harus dimulai dari institusi pendidikan. Kita harus berani mengubah model evaluasi belajar. Tugas-tugas akademik yang hanya menuntut hafalan, rangkuman, atau pembuatan makalah deskriptif harus dikurangi, karena semua itu sangat mudah didelegasikan pada AI. Dunia pendidikan harus beralih ke ujian lisan, debat argumen, analisis studi kasus nyata, dan refleksi pengalaman pribadi. Kita harus menilai proses berpikirnya, bukan sekadar hasil akhirnya.
Selain itu, di lingkungan keluarga dan komunitas, ruang-ruang diskusi harus dihidupkan kembali. Perpustakaan tidak boleh lagi sekadar menjadi gudang buku yang sunyi, melainkan harus bertransformasi menjadi laboratorium ide di mana manusia saling berinteraksi secara autentik. Interaksi antarpikiran manusia inilah yang melahirkan kedalaman emosi dan ketajaman analisis yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh mesin sesempurna apa pun algoritma yang menopangnya.
Kecerdasan imitasi tidak perlu ditakuti secara berlebihan, juga tidak boleh diadopsi secara buta. Al-Qur'an melalui rangkaian pertanyaannya yang retoris seperti "Afala Ta'qilun" (Apakah kamu tidak menggunakan akal?) menantang manusia untuk selalu mengaktifkan potensi intelektualnya.
Di tengah banjir kecerdasan imitasi, meningkatkan literasi adalah sebuah jihad intelektual untuk mempertahankan martabat kemanusiaan kita. Dengan memadukan semangat Iqra’ yang kritis dan komitmen Tabayyun yang ketat, kita tidak hanya akan selamat dari arus disinformasi digital, tetapi juga mampu mengembalikan fungsi akal dan hati manusia ke tempat yang paling mulia: sebagai pembawa kebijaksanaan di muka bumi. (*)
Editor : Arief