Oleh: Bihman Rio Pratama, S.Ag
Guru di MTsN 3 Tanah Bumbu
Dalam rangka membangun semangat kolaborasi dan transformasi digital di tengah-tengah masyarakat saat ini harus ada terobosan untuk memperkuat pondasi literasi digital dan mengembangkan kewirausahaan yang berbasis teknologi.
Untuk menuju ke titik pencapaian tersebut perlu adanya komitmen yang berkelanjutan dan terarah dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) digital yang tangguh dan inklusif dengan berwawasan nusantara yang berlandaskan ke –bhinneka-an Indonesia melalui program-program strategis.
Transformasi digital yang sedang berkembang dalam teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini tidak hanya menitikberatkan pada pengelolaan infrastrukturnya akan tetapi mengarahkan pada pembentukan karakter dan pembiasaan melek digital pada segenap jenjang masyarakat sehingga mampu menjawab tantangan masa depan yang begitu kompleks.
Diharapkan dengan memasyarakatnya literasi digital pada semua lapisan masyarakat maka akan menjadi sebuah momen untuk menciptakan solusi agar masyarakat memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang pada gilirannya tentu akan menjadi sebuah jalan dalam pencapaian kehidupan yang lebih baik.
Membangun semangat literasi digital guna menumbuhkan inovasi untuk menuju masyarakat Indonesia yang cerdas harus dimulai dari kalangan paling bawah yakni, anak-anak yang masih duduk di bangku Taman Kana-Kanak dan Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah. Pada fase inilah mereka diperkenalkan literasi, baik melalui buku-buku cetak maupun elektronik. Mereka diberikan bimbingan untuk belajar menyimak dan memahami setiap apa yang mereka baca.
Fenomena kecil telah terjadi di lingkungan kita dimana sebagian besar generasi muda Indonesia hari ini dikelilingi oleh informasi tanpa batas akan tetapi tidak semua dari mereka siap dan mampu mengelola arus informasi tersebut secara baik dan bijak. Betapa banyak di antara mereka akhirnya justru tersesat jalan akibat informasi tersebut.
Kita tidak bisa menghindari kalau generasi muda saat ini adalah generasi digital natives. Mereka tumbuhkembang bersama gawai, media sosial dan internet yang pesat dan gencar menghantam kehidupan harian mereka. Mereka bisa berinteraksi dalam berbagai platform akan tetapi tidak dibarengi dengan kemampuan menerapkan literasi digital tersebut secara optimal.
Dasar literasi digital tidak semata-mata mampu menggunakan perangkat akan tetapi pada hakikatnya adalah kemampuan seseorang untuk menyimak, menyaring dan mengevaluasi serta kemampuan untuk memahami resiko keamanan siber dengan ditopang oleh etika tanggung jawab akan kebenaran informasi yang disajikan. Bila konsep ini tertanam maka penggunaan teknologi tentu dijadikan sebagai alat untuk belajar, berinovasi dalam berbagai karya nyata.
Akan tetapi nyatanya kecepatan generasi muda dalam berinteraksi dengan dunia digital seringkali berdampak negatif akibat frekuensi adaptasi mereka lebih tinggi ketimbang memahami akibat yang ditimbulkan oleh informasi tersebut.
Di era transformasi digital dewasa ini literasi digital tidak lagi sebagai pelengkap akan tetapi sudah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari, bahkan levelnya telah berganti menjadi fondasi dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana dari karakter literasi digital ini akan memunculkan pembangunan integritas, nalar kritis dan kesadaran yang berkesinambungan di kalangan generasi muda sehingga batas antara realita fisik dengan dunia digital itu menjadi samar-samar.
Meluasnya akses digital ini tidak sertemerta dibarengi dengan kecakapan digital masyarakat. Mereka mapan secara teknis akan tetapi begitu rapuh dalam aspek digital safety, digital culture maupun digital etic. Kita bisa melihat betapa anak balita sudah mahir menggunakan dawai namun kemampuan teknis digital tidak berhenti begitu saja. Kita perlu literasi digital secara utuh agar bisa dimanfaatkan dengan cerdas dan bijak yang akhirnya menciptakan produktivitas dan nilai-nilai sosial, bukan sebaliknya.
Oleh sebab itu setiap generasi muda tetap menjadikan literasi digital sebagai wadah membangun semangat inovasi guna mencapai sasaran sebagai generasi yang cerdas menuju Indonesia Emas. Lewat literasi digital inilah akan bermunculan ide-ide kreatif dan terbaik di berbagai bidang dan kesempatan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat.
Memang diakui bahwa dunia digital memiliki peluang besar bagi perubahan pola dan tatanan kehidupan masyarakat namun sekaligus dunia ini juga punya resiko yang sangat besar. Banyak kasus mengenai kurangnya literasi yang berakibat terjerumusnya anak-anak ke dalam kawah disinformasi yang menyebabkan terjadinya perundungan siber, unggahan impulsif, video hoaks jejak digital negatif ataupun terjadinya pencurian data. Misinformasi tersebut sangat berpengaruh terhadap masa depan pendidikan dan karier.
Oleh sebab itu setiap generasi muda memang cerdas, cermat dan tanggap dalam menyikapi setiap informasi. Mereka wajib membutuhkan kemampuan dan kesadaran untuk berhenti sesaat guna memeriksa dan menganalisa setiap informasi yang diterima sebelum memvonis percaya ataupun berkeinginan untuk memberikan informasi tersebut.
Penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab bisa memunculkan permasalahan serius untuk masa depan seseorang.. hal ini perlu disadari oleh setiap generasi muda Indonesia. Betapa banyak lulusan perguruan tinggi dengan IPK sempurna akan tetapi mereka gagal bersaing untuk mendapatkan lapangan pekerjaan. Hal itu terjadi bukan karena mereka tidak pintar akan tetapi adanya jejak digital mereka yang kelam dengan karakter tidak beretika sehingga jadi bumerang.
Untuk menjadikan peran literasi digital sebagai wadah pembentukan karakter cerdas bagi generasi mendatang maka perlu di bangun konsep literasi yang direkomendasikan dengan program strategis sebagai panduan bsgi semua stakeholder yang berkepentingan.
Membangun Literasi Digital yang Aman
Membangun literasi digital dan semangat inovasi bagi generasi muda Indonesia adalah sebuah fondasi utama dalam membentuk masyarakat yang berpikir kritis, cakap teknologi, dan berdaya saing global demi mewujudkan Indonesia cerdas. Untuk itu diperlukan adanya pilar penopang yang kuat, yaitu mengembangkan penerapan budaya digital dengan memanfaatkan ruang digital yang ada dengan tetap berada di koridor nilai-nilai Pancasila dan Agama serta menunjukkan kepribadian identitas bangsa yang berbudaya dan beretika.
Kedua memiliki kepekaan menjunjung tinggi nilai-nilai etika sebagai landasan bermedia sosial sehingga akan tercipta saling menghargai. Melalui pilar ini setiap orang dituntut untuk menjadi pribadi yang cerdas, memahami kaidah-kaidah berkomunikasi dengan selalu melakukan penyaringan informasi (tabayyun) menghindari penyebaran berita atau hal-hal yang tidak benar (cek dan ricek) serta menjamin hak cipta orang lain.
Ketiga mengembangkan kemampuan atau skill individu dalam penggunaan perangkat keras ataupun perangkat lunaknya. Bila seseorang memahami secara baik terhadap unsur-unsur ini maka dipastikan penggunaan literasi digital ini akan berjalan sesuai dengan prosedur formalnya.
Penggunaan seluruh fitur yang ada di literasi digital ini tentu akan menjadi bahan yang positif yang sangat bermanfaat bagi diri secara individu maupun bagi masyarakat luas. Kondisi seperti ini perlu disampaikan kepada generasi muda, khususnya anak-anak didik di setiap lembaga pendidikan yang notabenenya sebagai lahan penanaman karakter ini agar mereka tumbuh menjadi generasi yang produktif dan bermanfaat.
Dengan mengembangkan konsep tersebut diharapkan generasi muda Indonesia semakin semangat dalam berliterasi yang menjadikan mereka lebih cerdas dan unggul guna meraih masa depan gemilang. (*)
Editor : Arief