Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Amplang ke Pasar Dunia, Kalsel Kini Punya Jembatan Devisa

admin • Kamis, 25 Juni 2026 | 20:42 WIB
R. K. Ariyandi
R. K. Ariyandi

Oleh: R. K. Ariyandi
Praktisi Perbankan

Bank devisa adalah capaian penting yang memperkuat jembatan ekonomi daerah: potensi lokal semakin mudah terhubung dengan pasar global, lalu kembali sebagai nilai tambah, pekerjaan, dan kesejahteraan bagi masyarakat.

    ****

Ibu Siti menjual amplang di kios kecilnya di Pasar Sudimampir Banjarmasin sejak dua puluh tahun lalu. Produknya laris, pelanggannya setia. Belakangan, pembeli dari Malaysia dan Brunei mulai bertanya lewat layar ponselnya. Peluang itu nyata — tapi satu pertanyaan selalu mengganggunya: bagaimana memastikan pembayaran dari luar negeri itu benar-benar aman sampai ke tangannya?

Di Pelaihari, Pak Ibnu merasakan kegelisahan yang berbeda. Belakangan, harga karet di tingkat petani meningkat tajam seiring membaiknya permintaan. Kabar itu tentu membawa harapan. Namun bagi Pak Ibnu, kenaikan harga saja belum cukup jika ia tetap tidak memahami ke mana karetnya bergerak setelah dijual, siapa yang menentukan harga, dan bagaimana peluang itu bisa memberi nilai lebih besar bagi petani. Ia menjual hasil kebunnya, tetapi rantai pasar setelah itu sering kali masih terasa jauh dari jangkauannya.

Dua kisah ini tampak jauh dari dunia perbankan. Namun keduanya bertemu pada satu titik yang sama: bagaimana sistem keuangan daerah mampu menjembatani potensi lokal dengan pasar yang semakin terbuka. Di sinilah bank devisa menjadi relevan — bukan hanya bagi bankir atau pengusaha besar, tetapi juga bagi UMKM, petani, pengrajin, dan masyarakat daerah.

Bank Devisa dalam Bahasa Sehari-hari

Secara sederhana, bank devisa adalah bank yang memiliki izin untuk bertransaksi dalam mata uang asing — dolar, ringgit, yen, euro, dan lainnya. Ia bisa membantu nasabah mengirim atau menerima uang dari luar negeri, menukar valuta asing, memfasilitasi pembayaran ekspor-impor, hingga memberikan pembiayaan untuk kegiatan perdagangan internasional.

Tapi maknanya lebih sederhana dari semua definisi itu: bank devisa adalah penghubung yang membuat pelaku ekonomi daerah tidak berjalan sendiri dalam arus perdagangan dunia. Bagi UMKM seperti Ibu Siti, layanan ini membantu pembayaran dari pembeli luar negeri diterima melalui jalur perbankan yang lebih aman, transparan, dan mudah ditelusuri. Bagi pelaku komoditas seperti Pak Ibnu dan ribuan petani lainnya, kehadiran bank devisa di daerah membuka harapan agar akses terhadap informasi pasar, pembiayaan, dan rantai ekspor tidak lagi terasa jauh dari kehidupan mereka.

Kalsel Sudah Ada di Dalam Arus Itu

Kalimantan Selatan sejak lama terhubung dengan perdagangan global. Berdasarkan rilis BPS Kalsel yang dipublikasikan awal Februari 2026, nilai ekspor barang asal Kalsel pada Desember 2025 mencapai US$996,76 juta. Ekspor tersebut masih didominasi bahan bakar mineral, disusul lemak dan minyak hewani/nabati, serta kayu dan produk turunannya. Angka ini menyampaikan satu pesan yang jelas: Kalsel bukan daerah yang berdiri di pinggir ekonomi dunia — ia sudah berada di dalamnya.

Pertanyaan yang lebih penting kemudian adalah: sejauh mana arus ini benar-benar menyentuh pelaku usaha kecil di daerah? Banyak potensi lokal — batubara, kelapa sawit, karet, hasil perikanan, rotan, sasirangan, hingga makanan khas — memiliki peluang pasar yang luas. Agar manfaatnya semakin terasa, yang dibutuhkan bukan hanya kualitas produk, tetapi juga akses: akses informasi, pembiayaan, pembayaran, dan sistem yang dipercaya pembeli. Di sanalah layanan bank devisa yang mudah dijangkau memainkan perannya.

Ketika Manfaatnya Mulai Terasa

Kembali ke Ibu Siti. Dengan layanan bank devisa yang mudah dipahami, ia bisa menerima pembayaran dari pembeli luar negeri melalui jalur perbankan yang aman, mengetahui kurs yang digunakan, dan tampil lebih profesional di mata pembeli internasional. Karena kualitas produk membuka pintu, sementara sistem pembayaran yang terpercaya menjaga pintu itu tetap terbuka.

Bagi Pak Ibnu, pintu itu berbeda bentuknya. Ketika harga karet meningkat karena permintaan membaik, yang dibutuhkan petani bukan hanya kabar bahwa harga sedang naik, tetapi juga pemahaman mengapa harga naik, bagaimana rantai pasarnya bekerja, dan bagaimana kualitas hasil kebunnya bisa masuk ke jalur perdagangan yang lebih bernilai. Di sinilah ekosistem keuangan daerah yang lebih terbuka menjadi penting. Bank devisa memang tidak serta-merta menentukan harga karet di kebun, tetapi kehadirannya dapat memperkuat jembatan antara komoditas lokal, pembiayaan, informasi pasar, dan perdagangan internasional. Dari jembatan itulah posisi tawar pelaku ekonomi daerah perlahan bisa dibangun.

Dampaknya pun tidak berhenti pada dua nama itu. Ketika UMKM dan pelaku usaha lokal tumbuh, kebutuhan tenaga kerja ikut meningkat. Produksi bergerak, distribusi meluas, dan kesempatan kerja terbuka bagi lebih banyak tangan. Ketika semakin banyak transaksi dapat dilayani dari daerah sendiri, sebagian nilai ekonomi memiliki peluang lebih besar untuk tetap berputar di daerah, baik melalui pendapatan usaha, investasi, maupun geliat ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Agar Potensi Daerah Semakin Bernilai

Status bank devisa bukanlah tujuan akhir. Yang lebih menentukan adalah seberapa mudah manfaatnya dirasakan oleh orang-orang seperti Ibu Siti dan Pak Ibnu. Bagi pelaku UMKM yang mulai mendapat peluang dari pembeli luar negeri, langkah awalnya bisa dibuat sederhana: datang ke bank dan bertanya tentang layanan transaksi valas. Pahami biaya dan kurs yang digunakan, lalu minta penjelasan dalam bahasa yang mudah dimengerti. Tidak perlu langsung paham semuanya — yang penting pintunya sudah terbuka dan ada yang memandunya masuk.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah daerah tidak hanya diukur dari besarnya sumber daya alam atau tingginya angka ekspor. Kekuatan daerah juga diukur dari kemampuannya memastikan nilai dari semua potensi itu kembali memperkuat masyarakatnya sendiri. Dalam konteks itu, bank devisa bukan sekadar status administratif perbankan. Ia adalah infrastruktur kepercayaan: jembatan agar amplang, karet, rotan, sasirangan, perikanan, dan komoditas Kalsel lainnya tidak hanya punya peluang dikenal dunia, tetapi juga memberi manfaat lebih besar bagi orang-orang yang menghasilkannya. (*)

Editor : Arief
#Opini #UMKM #Ekspor Impor