Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tentang Janji-Janji Syaifullah Tamliha

M. Syarifuddin • Selasa, 8 Oktober 2024 | 11:47 WIB
RANDU ALAMSYAH
RANDU ALAMSYAH

PASCA viral, video Syaifullah Tamliha memicu perdebatan luas di media sosial. Yang pesimis menganggap bahwa janji-janji ini mustahil ditepati, beberapa mempertanyakan cara mewujudkannya, meski tak sedikit pula yang menganggap bahwa itu hanya sekadar upaya keras beliau untuk menarik pemilih.

       Oleh RANDU ALAMSYAH
       Penulis biografi Syaifullah Tamliha: Kakbah Sejak Pikiran

Sebagai penulis biografi beliau, saya tidak ingin berpretensi bahwa saya netral. Saya tentu saja mendukung Syaifullah Tamliha. Penilaian saya tentang beliau boleh jadi bias, namun saya setuju pendekatan beliau dalam kampanye di Pilkada Banjar. Termasuk ketika beliau membuat serangkaian janji kampanye.

Bagi saya, politisi idealnya harus berani berjanji. Ini adalah norma dalam pemilihan yang berlaku di mana-mana. Di Amerika Serikat misalnya, Anda tak akan mungkin terpilih jika Anda tidak menjanjikan program atau kebijakan politik tertentu. Di Indonesia, janji politik kerap kali dianggap berlawanan dengan intuisi publik.

Entah bagaimana, publik kita menyukai politisi yang santai, jenis anak baik yang "tidak mengumbar janji namun bukti"—meski kebanyakan retorika ini dipakai untuk menutupi kelemahan dalam tekad dan usaha, publik kita lebih menyukainya.

Padahal tak ada janji berarti tak ada juga yang bisa diharap ataupun ditagih. Setelah terpilih, para politisi kita akan merasa tak memiliki utang apapun untuk diwujudkan. Tak ada tekanan publik, tak ada beban politik, tak ada apapun.

Inilah yang membuat para pejabat terpilih kita kerap jatuh pada mediokritas. Memimpin dengan aman, tanpa ambisi, tanpa visi, tanpa mimpi yang tinggi. Urang Banjar punya idiom yang tepat: seadanya.

Dengan para medioker ini tak ada yang bisa diharapkan. Mereka menjadi politisi dan pejabat karena mengaku "diminta dan didorong warga", bukan karena memiliki motivasi untuk membangun daerah dan bangsa. Menjadi politisi bagi mereka hanyalah pekerjaan sampingan.

Medioker tak terlalu peduli dengan apa-apa, mereka merasa cukup dengan aktivisme dalam jabatan.

Gunting pita di sini, meresmikan di sana. Kinerja dan laku mereka teatrikal dan lebih mengutamakan citra. Sesekali mereka tampil di media dengan senyum memegang piala, mengklaim telah mendapatkan penghargaan ini dan itu—memuaskan diri sendiri dengan pencapaian dekoratif, merasa bahwa mereka telah membuat perubahan.

Ini adalah hal yang banyak terjadi di mana-mana. Kepemimpinan kuat yang disetir oleh visi dan ambisi tidak pernah kita dengar lagi. Bahkan kita mulai kurang peduli dengan kompetensi. Siapa saja bisa menjadi politisi dan kandidat kepala daerah asalkan dia bisa membiayai pemilihan.

Karena itulah, saya mengapresiasi para politisi tangguh yang berani berjanji. Mereka berani menyudutkan dirinya sendiri demi kepentingan khalayak luas. Terlepas dari kritik umum bahwa politisi akan mengatakan apa saja yang diperlukan untuk terpilih dan kemudian berubah pikiran setelahnya, riset menunjukkan bahwa kebanyakan politisi yang berjanji, sebenarnya selalu berusaha menepati janji yang mereka buat.

Para politisi sejati mencoba melakukan persis apa yang mereka katakan saat mereka terpilih. Dan ketika mereka tidak melakukannya, biasanya karena kurangnya kerja sama untuk mewujudkannya, bukan karena perubahan sikap atau kurangnya usaha.

Dalam konteks ini, saya setuju dan cenderung percaya dengan janji Syaifullah Tamliha. Saya cukup lama mengenal beliau dan tahu pikiran dan sepak-terjangnya. Tamliha bukan politisi yang suka main aman atau menikmati kenyamanan jabatan. Beliau politisi yang bertungkus lumus dengan permasalahan. Berani untuk berbicara dan berdebat apa saja—tak terlalu mempedulikan citranya—selama itu dianggap membawa kemanfaatan bagi para pemilihnya.

Tidak masalah apakah Tamliha berbicara dalam hal-hal umum yang samar atau mengusulkan gagasan-gagasan khusus yang kontroversial—apa pun itu, beliau saya pikir, cenderung akan menindaklanjuti isu tersebut setelah menjabat. Mari catat, dukung dan buktikan.

Editor : Arief
#Opini #Randu Alamsyah