Gagal Usaha Ayam Ras, Andi Sukses Budidaya Jamur Tiram

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Selasa, 3 November 2026 | 18:29 WIB
MENJELASKAN: Andi Ariyanto saat menjelaskan proses budi daya jamur tiram yang digelutinya. 
(Foto: M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
MENJELASKAN: Andi Ariyanto saat menjelaskan proses budi daya jamur tiram yang digelutinya.  (Foto: M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Bayangkan sebuah kandang ayam ras yang dulunya riuh oleh suara unggas dan berbau tajam, perlahan menjadi sunyi. Kandang itu bahkan sempat kosong tanpa aktivitas.

    ****

Harga pakan yang terus merangkak naik, sementara harga jual ayam justru anjlok, pernah membuat usaha Andi Ariyanto terpuruk. Ia harus menerima kenyataan pahit ketika usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga tak lagi mampu bertahan.

Namun, Andi tak ingin berlama-lama larut dalam keadaan. Kebutuhan keluarga membuatnya harus mencari jalan lain. Bekas kandang ayam di Rumah Limbah Bonsai Kelapa (Bonkla), Jalan Jolali, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru, itu kemudian disulap menjadi kumbung atau rumah budi daya jamur.

Kini, suasananya jauh berbeda. Udara lembap menyelimuti ruangan seluas 200 meter persegi tersebut. Ratusan baglog atau media tanam berbentuk silinder tersusun rapi di rak-rak kayu.

Dari lubang-lubang baglog, jamur tiram tumbuh dengan tudung putih menyerupai payung kecil. Komoditas inilah yang kini menjadi sumber penghasilan baru bagi Andi. “Dulu sempat pusing memikirkan harga ayam yang labil. Tapi hidup kan harus terus berjalan, dapur harus tetap mengepul,” kenangnya.

Keputusan beralih membudidayakan jamur tiram sejak 2022 ternyata menjadi titik balik usahanya. Dari yang semula mengurus ternak unggas, kini Andi lebih banyak berkutat dengan serbuk kayu sebagai bahan utama media tanam.

Ia memilih serbuk kayu sengon karena dinilai cocok untuk pertumbuhan jamur. Sebaliknya, kayu yang terlalu keras dan mengandung getah kurang baik karena dapat menghambat pertumbuhan.

Serbuk kayu itu kemudian dicampur dengan kapur, dedak, nutrisi, dan air. Adonan didiamkan semalaman agar proses fermentasi berlangsung dan tingkat keasamannya lebih stabil.

Setelah tercampur merata, adonan dimasukkan ke dalam plastik tahan panas untuk dijadikan baglog. Tahap berikutnya adalah sterilisasi dengan cara dikukus selama 10 hingga 11 jam pada suhu sekitar 100 derajat Celsius.

“Sekali kukus, tungku kami bisa memuat 900 sampai 1.000 baglog,” ujar Andi sambil menunjuk tempat pengukusan.

Dalam sehari, dua pekerjanya mampu mencetak hingga 400 baglog. Namun, proses menuju panen tidak bisa dilakukan secara instan. Sejak pengolahan bahan hingga panen perdana, dibutuhkan waktu sekitar 60 hari.

Kini, kumbung milik Andi memiliki kapasitas hingga 5.000 baglog. Saat kondisi cuaca mendukung, terutama pada musim hujan ketika suhu lebih sejuk, ia bisa memanen 10 hingga 15 kilogram jamur segar setiap hari. 

SUKSES: Proses budi daya jamur tiram yang digeluti Andi Ariyanto. 
(M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
SUKSES: Proses budi daya jamur tiram yang digeluti Andi Ariyanto.  (M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN) 

Kewalahan Layani Permintaan Pasar

Hasil panen jamur tiram yang budi daya Andi tak sulit dipasarkan. Pedagang dari sejumlah pasar tradisional di Banjarbaru, Martapura, hingga Banjarmasin menjadi pelanggan tetapnya.

Jamur tiram dijual Rp30 ribu per kilogram untuk pembelian eceran dan Rp25 ribu per kilogram untuk pengepul.

Tingginya permintaan bahkan membuat Andi belum tertarik memasarkan produknya secara daring. Pasokan yang tersedia saat ini sudah cukup menyita perhatian untuk memenuhi pesanan pelanggan.

“Tanpa online saja kami sudah kalapakan (kewalahan) melayani pesanan pasar. Kalau masuk media sosial, kami khawatir malah mengecewakan karena stoknya tidak cukup,” ungkapnya sambil tertawa.

Meski usahanya terus berkembang, bukan berarti tanpa kendala. Hama seperti gurem, lalat kecil, hingga siput masih kerap mengganggu proses budi daya.

Andi juga membutuhkan satu kumbung tambahan untuk mendukung rotasi produksi dan sterilisasi. Dengan begitu, proses budi daya bisa berjalan lebih berkesinambungan dan pasokan jamur tetap terjaga.

Di balik aktivitas produksi tersebut, ada hal lain yang menjadi perhatian Andi. Usaha jamur tiram yang kini dikembangkan bersama komunitas petani setempat itu juga berupaya meminimalkan limbah.

Baglog yang sudah tidak produktif atau afkir dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos. Sementara sampah plastik bekas media tanam disetorkan ke Bank Sampah Jolali.

Upaya mengembangkan usaha sekaligus mengelola limbah itu menarik perhatian PT PLN. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN memberikan bantuan berupa mesin mixer, ruang inkubasi, serta pelatihan pemasaran.

Dukungan tersebut membantu Andi meningkatkan proses produksi dan mengembangkan usahanya. Bekas kandang ayam yang dahulu menjadi saksi keterpurukan kini justru menjadi tempat tumbuhnya harapan baru. “Kalau satu pintu rezeki tertutup, kita harus berani mendobrak pintu lain,” ucap Andi.

Ia bersyukur usaha yang dirintis dari keterbatasan itu kini tak hanya menopang kebutuhan keluarganya, tetapi juga membuka manfaat bagi masyarakat sekitar.

“Berkat bantuan PLN, serbuk kayu inilah yang sekarang jadi napas keluarga dan bisa memberi manfaat bagi warga sekitar,” pungkasnya. (al/ris)

Editor : Arief M
Berita Banjarbaru UMKM Ternak usaha