Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

ULM Perkuat Riset Lahan Basah Lewat Konferensi Internasional ICWSDGs 2026

Nurhidayat • Rabu, 8 Juli 2026 | 12:25 WIB
MOMEN: Head of LPPM ULM, Prof. Ir. Muthia Elma, Ketua Steering Committee Prof. Dr. Sunardi, Asisten I Setda Kalsel Dr. Ir. Hj. Galuh Tantri Narindra, bersama narasumber dan peserta berfoto bersama pada pembukaan The 3rd ICWSDGs 2026 di Fugo Hotel Banjarmasin, Selasa (7/7/2026).
MOMEN: Head of LPPM ULM, Prof. Ir. Muthia Elma, Ketua Steering Committee Prof. Dr. Sunardi, Asisten I Setda Kalsel Dr. Ir. Hj. Galuh Tantri Narindra, bersama narasumber dan peserta berfoto bersama pada pembukaan The 3rd ICWSDGs 2026 di Fugo Hotel Banjarmasin, Selasa (7/7/2026).

BANJARMASIN – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) kembali menggelar The 3rd International Conference on Wetland for Sustainable Development Goals (ICWSDGs) dan Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah (SNLLB) yang dirangkaikan dengan International Symposium on Sustainable Buildings, Cities, and Communities (SBCC) 2026. Mengangkat tema "Blue-Green Futures: Advancing Wetlands and Green Buildings for the 2030 SDGs Agenda", acara berlangsung di Ballroom Fugo Hotel Banjarmasin, Selasa (7/7/2026).

Konferensi internasional tersebut menjadi forum kolaborasi akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah, dan mitra internasional untuk membahas pengelolaan lahan basah, pembangunan berkelanjutan, serta implementasi hasil riset dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, penampilan tari selamat datang, opening speech oleh Head of LPPM ULM, Prof Muthia Elma, dilanjutkan sambutan Ketua Steering Committee Prof Sunardi, serta sesi pleno dihadiri Ditjen Risbang Kemdiktisaintek, Dr Fauzan Adziman ST MEng secara daring.

Konferensi menghadirkan delapan keynote speaker dari dalam dan luar negeri. Mereka adalah Prof. Dr. Andreas Matzarakis dari University of Freiburg, Jerman; Prof. Bao-Jie He dari Chongqing University, Tiongkok; Bipin Shah (President Win-Build Inc., USA); Dr. Eng. Beta Paramita, S.T., M.T. dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI); Prof. Dr. Ir. Eko Setiawan, S.T., M.T., Ph.D. dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS); Winny Setyonugroho, S.Ked., M.T., Ph.D. dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY); Dr. Eng. Mochamad Donny Koerniawan, S.T., M.T. dari Institut Teknologi Bandung (ITB); serta Dr. Ir. Yuslena Sari, S.Kom., M.Kom. dari ULM.

Ketua Steering Committee ICWSDGs 2026, Prof Sunardi, mengatakan konferensi ini merupakan seminar internasional ketiga yang diselenggarakan LPPM ULM. Tahun ini, ULM berkolaborasi dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung untuk memperkuat jejaring riset terkait lahan basah dan pembangunan berkelanjutan.

"Tahun ini kami berkolaborasi dengan UPI Bandung. Alhamdulillah hadir narasumber dari Jerman, Tiongkok, Amerika Serikat, serta akademisi dari UPI, UMY, UMS, dan ULM untuk bersama-sama membahas implementasi hasil-hasil riset terkait lahan basah dan keberlanjutan dalam mendukung SDGs," ujarnya.

Dijelaskannya lagi, lahan basah selama ini kerap dipandang sebagai kawasan yang kurang produktif. Padahal, kawasan tersebut menyimpan potensi besar yang dapat dikembangkan melalui riset dan inovasi.

PLENO DARING: Ditjen Risbang Kemdiktisaintek, Dr Fauzan Adziman ST MEng, menyampaikan paparan secara daring sebagai plenary speaker pada The 3rd ICWSDGs 2026 di Fugo Hotel Banjarmasin, Selasa (7/7/2026).
PLENO DARING: Ditjen Risbang Kemdiktisaintek, Dr Fauzan Adziman ST MEng, menyampaikan paparan secara daring sebagai plenary speaker pada The 3rd ICWSDGs 2026 di Fugo Hotel Banjarmasin, Selasa (7/7/2026).

"Seperti yang disampaikan Pak Dirjen, lahan basah merupakan potensi besar. Di balik kondisi yang sering tergenang atau rawan kebakaran, terdapat sumber daya yang luar biasa untuk dikembangkan. Potensi galam, karbon, hingga mangrove dapat memberikan manfaat besar, bahkan menjadi bagian dari perdagangan karbon di masa depan. Inilah yang terus dikembangkan ULM melalui berbagai penelitian," jelasnya.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Galuh Tantri Narindra mengapresiasi penyelenggaraan konferensi yang dinilai mampu menghadirkan solusi berbasis riset terhadap karakteristik geografis Kalimantan Selatan.

Menurutnya, sejumlah penelitian yang dipresentasikan tidak hanya membahas lahan basah, tetapi juga tantangan perubahan iklim serta pengembangan teknologi bangunan yang aman, nyaman, hemat biaya, dan mampu beradaptasi dengan kondisi geografis daerah. 

"Harapannya hasil riset ini dapat diterapkan di Kalimantan Selatan sehingga mampu membantu menyelesaikan persoalan penyediaan rumah layak bagi masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah," katanya.

Salah satu keynote speaker dari UPI, Dr Eng Beta Paramita ST MT mengatakan kolaborasi antara UPI dan ULM telah dimulai sejak 2025. Menurutnya, konferensi ini menjadi wadah untuk mengintegrasikan kajian lahan basah dengan konsep Sustainable Buildings, Cities, and Communities sehingga hasil riset akademisi dapat diimplementasikan bersama dunia industri dan masyarakat.

"Kami memiliki semangat yang sama, bagaimana konsep pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan di kawasan lahan basah. Konferensi ini menjadi ruang untuk menghubungkan hasil riset akademisi, kebutuhan industri, dan implementasinya di masyarakat," ujarnya.

Editor : Nurhidayat
#sdgs #ULM Banjarmasin #seminar internasional #Lahan basah