Tahulah Pian, Desa Batumandi yang kini menjadi pusat kegiatan dan pemerintahan bagi masyarakat di sekitarnya, ternyata menyimpan sebuah cerita menarik tentang asal usul namanya.
Dahulu, desa ini merupakan sebuah desa induk dengan wilayah sangat luas membawahi desa-desa di sekitarnya. Namun, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat, keinginan untuk memiliki pemerintahan sendiri muncul di kalangan masyarakat.
Keinginan itu akhirnya terwujud setelah proses panjang, dan Desa Batumandi pun dimekarkan menjadi 13 desa mandiri dengan pemerintahan otonomi masing-masing.
Namun, nama Batumandi yang kini dikenal luas, tidak terlepas dari sebuah kisah legenda yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat. Pamong Budaya dari Disdikbud Balangan, Halianur menceritakan dahulu di wilayah Batumandi terdapat sebuah tempat yang dikenal dengan nama Tabur. Di sana mengalir sebuah sungai yang sangat tenang. Dihiasi hamparan batu besar dan kecil yang tersebar di sepanjang tepi maupun aliran sungai.
"Di tempat ini ada sebuah batu besar yang terletak memanjang di tengah sungai. Di atasnya, ada batu lain yang teronggok, seakan tersusun begitu alami. Air mengalir melewati batu-batu ini memberikan pemandangan yang indah dan menenangkan," cerita Halianur.
Namun, keindahan alam ini menyimpan sebuah cerita misterius. Konon, setiap malam, suara kecipak air yang memecah keheningan sering terdengar dari tengah sungai. Suara tersebut seakan menandakan bahwa ada seseorang yang sedang mandi di sana. "Ketika diperiksa, tak ada siapa-siapa di sana, selain batu-batu besar itu," ujar Halianur.
Masyarakat setempat mulai mempercayai bahwa batu-batu besar itu seperti “mandi” setiap kali suara kecipak terdengar. Bahkan, ketika air sungai meluap dan mengalir melewati batu-batu besar itu, suara kecipak semakin sering terdengar. "Jika kita lihat sekilas, posisi batu-batu besar di tengah sungai itu seperti posisi seseorang yang sedang mandi," jelas Halianur.
Kisah tentang batu yang “sedang mandi” ini berkembang menjadi legenda yang dikenal luas. Para penduduk sekitar akhirnya memberi nama situs tersebut dengan sebutan "Batu Mandi," berarti batu yang sedang mandi.
Nama ini pun semakin populer, hingga akhirnya menjadi nama sungai, desa, dan kecamatan di wilayah tersebut, yang dikenal dengan nama Batumandi hingga saat ini.
"Batumandi bukan sekadar nama, tetapi sebuah kenangan dan cerita dari masa lalu yang terus hidup dalam ingatan masyarakat. Cerita ini mengajarkan kita tentang bagaimana alam dan legenda bisa membentuk identitas suatu tempat," tegas Halianur.
Meski Desa Batumandi telah berkembang pesat dan dimekarkan menjadi beberapa desa mandiri, cerita tentang batu yang “sedang mandi” tetap menjadi bagian dari sejarah masyarakat
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief