Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Hasrat Mencaplok Kerajaan Sebamban

M. Syarifuddin • Jumat, 28 Juli 2023 | 12:16 WIB
DEKAT: Masjid Habib Pangeran Syarif Ali Alaydrus diambil dari nama pendiri Kerajaan Sebamban. Lokasi makam sang raja persis berada di samping masjid. ZULQARNAIN MAKAM: Di sini bersemayam pendiri Kerajaan Sebamban, Syarif Ali Alaydrus. Lokasinya di Desa Se
DEKAT: Masjid Habib Pangeran Syarif Ali Alaydrus diambil dari nama pendiri Kerajaan Sebamban. Lokasi makam sang raja persis berada di samping masjid. ZULQARNAIN MAKAM: Di sini bersemayam pendiri Kerajaan Sebamban, Syarif Ali Alaydrus. Lokasinya di Desa Se
AWAL abad ke-18, di daerah pesisir tenggara pulau Kalimantan, pernah berdiri Kerajaan Sebamban.  Kini, wilayah kerajaan itu menjadi Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu.

Kerajaan yang didirikan Pangeran Syarif Ali Alaydrus itu menjadi incaran kolonial Belanda.

Sebelum membahas itu, perlu diketahui Syarif Ali merupakan putra Syarif Abdurrahman Alaydrus. Seorang ulama sekaligus putra Syarif Idrus Alaydrus, Raja Kubu pertama di Kalimantan Barat.

Secara genealogi, mereka adalah keturunan Husain atau putra dari pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan putri Nabi Muhammad, Fatimah az-Zahra.

Syarif Ali yang merupakan cucu Raja Kubu, awalnya menetap di Kubu. Akibat konflik keluarga, Syarif Ali memutuskan hijrah ke Kalimantan Selatan.

Wakil Ketua DPRD Tanah Bumbu yang masih keturunan Syarif Ali, Said Ismail Kholil Alydrus enggan berkomentar lebih jauh ihwal konflik tersebut.

"Ya biasalah ada perebutan kekuasaan di internal kerajaan," katanya kepada Radar Banjarmasin, Senin (24/7).

Namun, dalam Ekspedisi Islam Pesisir yang pernah diterbitkan koran ini pada 2016 lalu, dijelaskan Kerajaan Kubu menjalin hubungan baik dengan pemerintah Inggris.

Photo
Photo


Kedekatan ini memicu rasa tak senang rivalnya. Belanda kemudian menekan kerajaan dengan memanfaatkan konflik internal.

"Beliau (Syarif Ali) pindah untuk menghindari konflik," kata juru kunci makam Syarif Ali, Suddin waktu itu.

Kembali ke Kerajaan Sebamban. Syarif Ali mendirikan Kerajaan Sebamban bersamaan dengan masa pemerintahan Sultan Adam, Raja Banjar ke-12 yang memerintah pada 1825-1857.

Keberadaan Kerajaan Sebamban membuat daerah itu menjadi ramai dan makmur. Pedagang dari luar daerah mulai berdatangan.



Said Ismail mengatakan, Kerajaan Sebamban termasuk salah satu incaran kolonial Belanda.

Ia tidak menjelaskan alasan spesifik di balik hasrat kuat pencaplokan itu.

"Wilayah kita di Indonesia kan dikuasai kolonial. Ya mungkin karena itu Kerajaan Sebamban dibekukan," ujarnya.

Merujuk penelitian Nia Marniati Etie Fajari dari Balai Arkeologi Kalsel pada 2016, ada penjelasan yang lebih jelas. Dikatakan, Pagatan dan Sebamban berhubungan langsung dengan Selat Makassar.

Jadi, secara geografis memang strategis. Selain itu, Sebamban juga terkenal sebagai daerah penghasil emas dan intan.

Sementara Pagatan berkembang menjadi pusat Pagatan. Walaupun Kerajaan Kusan Hulu yang juga berada di Tanah Bumbu, lebih dahulu berkembang dibanding kedua kerajaan itu. (dza/gr/fud) Editor : Arief
#Sejarah Kalsel #Sejarah Banua