Ketua Lembaga Ade Ogi Pagatan, Fawahisah Mahabatan kepada Radar Banjarmasin berkisah. Dalam adat Bugis, ada tradisi unik setiap perayaan maulid Nabi Muhammad: pembacaan sair Barzanji. Sair itu dalam bahasa Bugis disebut masukkiri.
Sair dalam Arab itu dilantunkan dalam bahasa Bugis. Diiringi dengan tabuhan rebana. Awalnya biasa saja: iramanya khas langgam melayu. Tapi lama-lama, para pembaca sair dan penabuh rebana larut dalam dimensi lain.
Biasanya, ada dua grup pelantun masukkiri. Di tengah acara mereka menghibur jemaah dengan memperlihatkan kekuatan batin. Rebana dan lirik masukkiri, berubah menjadi senjata pertempuran.
Melalui dua sarana itu perang tenaga dalam pun terjadi. Tepukan rebana bukan lagi sekadar tepukan, tapi sudah diisi dengan tenaga dalam. Begitu juga rapalan sair masukkiri.
Serangan dilancarkan dari dalam batin. Melalui sarana suara dan tabuhan rebana. Entah bagaimana, pihak yang kalah akan merasakan sakit di raganya. Padahal hanya lewat suara.
Bagi pe-masukkiri yang tidak tahan kekuatan serangan lawannya, biasanya akan pingsan. Atau terduduk lemas. "Seperti adu ilmu kanuragan," kata Fawa.
Puluhan tahun silam, masukkiri menjadi hiburan bermagnet besar tiap tahunnya. Sekarang sudah jauh berkurang. Penerus hampir tidak ada.
"Tapi masih ada yang tua-tuanya. Di kampung saya sampai sekarang masih ada. Ini rencana mau kami kembangkan, sama dimasukkan ke hak cipta," lanjut Fawa.
Bagaimana sejarahnya ilmu kanuragan masukkiri itu? Kata Fawa, Ilmu itu berasal dari leluhur Bugis sejak zaman dulu. Ilmu yang dipakai para jago dalam Sigajang Laleng Lipa (Tarung Sarung).
Sederhana ilmunya: percaya Tuhan. Kemudian teknisnya, berupa latihan pernafasan. "Tarikan nafas. Perlu waktu lama melatih itu," jelas Fawa. Mirip Taichi dari Tiongkok.
Cicit Raja Pagatan Andi Satria Jaya menjelaskan, masukkiri dibawa keluarga raja-raja Pagatan. Sepulang dari berdagang kopra di Singapura. Sekitar abad ke 19.
Hiburan adu kanuragan itu selain disajikan saat hari agama, juga biasa dipertontonkan ketika hajatan kawinan.
"Kegiatan itu merupakan kesenian asli dari Pagatan," bebernya.
Dia pun berharap, pemerintah bisa melestarikan warisan budaya itu. Dan bisa dikenal hingga manca negara. (zal) Editor : Arief