Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kesaktian Masukkiri Bugis Pagatan

M
Penulis: M. Syarifuddin❯
Photo
Photo
Masukkiri, hanya ada di Bugis Pagatan. Bukan sekadar lantunan sair agama. Tapi juga jadi ajang pembuktian kekuatan batin manusia, jauh di luar nalar.

Ketua Lembaga Ade Ogi Pagatan, Fawahisah Mahabatan kepada Radar Banjarmasin berkisah. Dalam adat Bugis, ada tradisi unik setiap perayaan maulid Nabi Muhammad: pembacaan sair Barzanji. Sair itu dalam bahasa Bugis disebut masukkiri.

Sair dalam Arab itu dilantunkan dalam bahasa Bugis. Diiringi dengan tabuhan rebana. Awalnya biasa saja: iramanya khas langgam melayu. Tapi lama-lama, para pembaca sair dan penabuh rebana larut dalam dimensi lain.

Biasanya, ada dua grup pelantun masukkiri. Di tengah acara mereka menghibur jemaah dengan memperlihatkan kekuatan batin. Rebana dan lirik masukkiri, berubah menjadi senjata pertempuran.

Melalui dua sarana itu perang tenaga dalam pun terjadi. Tepukan rebana bukan lagi sekadar tepukan, tapi sudah diisi dengan tenaga dalam. Begitu juga rapalan sair masukkiri.

Serangan dilancarkan dari dalam batin. Melalui sarana suara dan tabuhan rebana. Entah bagaimana, pihak yang kalah akan merasakan sakit di raganya. Padahal hanya lewat suara.

Bagi pe-masukkiri yang tidak tahan kekuatan serangan lawannya, biasanya akan pingsan. Atau terduduk lemas. "Seperti adu ilmu kanuragan," kata Fawa.

Puluhan tahun silam, masukkiri menjadi hiburan bermagnet besar tiap tahunnya. Sekarang sudah jauh berkurang. Penerus hampir tidak ada.

"Tapi masih ada yang tua-tuanya. Di kampung saya sampai sekarang masih ada. Ini rencana mau kami kembangkan, sama dimasukkan ke hak cipta," lanjut Fawa.

Bagaimana sejarahnya ilmu kanuragan masukkiri itu? Kata Fawa, Ilmu itu berasal dari leluhur Bugis sejak zaman dulu. Ilmu yang dipakai para jago dalam Sigajang Laleng Lipa (Tarung Sarung).

Sederhana ilmunya: percaya Tuhan. Kemudian teknisnya, berupa latihan pernafasan. "Tarikan nafas. Perlu waktu lama melatih itu," jelas Fawa. Mirip Taichi dari Tiongkok.

Cicit Raja Pagatan Andi Satria Jaya menjelaskan, masukkiri dibawa keluarga raja-raja Pagatan. Sepulang dari berdagang kopra di Singapura. Sekitar abad ke 19.

Hiburan adu kanuragan itu selain disajikan saat hari agama, juga biasa dipertontonkan ketika hajatan kawinan.

"Kegiatan itu merupakan kesenian asli dari Pagatan," bebernya.

Dia pun berharap, pemerintah bisa melestarikan warisan budaya itu. Dan bisa dikenal hingga manca negara. (zal)

Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Mengenal Asal-usul Lambang Kotabaru, dari Lima Tokoh hingga Semboyan Sa-Ijaan

Mengenal Asal-usul Lambang Kotabaru, dari Lima Tokoh hingga Semboyan Sa-Ijaan

Bagi Kabupaten Kotabaru, lambang daerah menjadi simbol identitas masyarakat yang dikenal dengan semboyan Sa-Ijaan.

Dulu Dihuni Banyak Beruk Liar, Begini Asal-usul Nama Desa Warukin Tabalong

Dulu Dihuni Banyak Beruk Liar, Begini Asal-usul Nama Desa Warukin Tabalong

Weruken. Begitulah ejaan yang benar untuk nama salah satu desa di Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong.

Ternyata, Bangunan Tua di Jalan RE Martadinata Banjarmasin adalah Gudang Perusahaan Belanda

Ternyata, Bangunan Tua di Jalan RE Martadinata Banjarmasin adalah Gudang Perusahaan Belanda

bekas kantor Jacobson van den Berg & Co. atau yang lebih dikenal sebagai Jacoberg, perusahaan dagang asal Belanda yang pernah memiliki peran

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer