Cerpen oleh: Muhamad Yusuf
Subuh di Banjarmasin selalu datang dengan bau sungai yang lembap dan suara dayung yang memecah air. Dari rumah kayu kecil di tepi Sungai Martapura, aku terbangun oleh bunyi panci yang saling beradu pelan. Ibu sudah bangun sejak gelap belum benar-benar menyerah. Ia menyiapkan sayur dan buah yang akan dijual di dermaga terapung Siring Tendean. Waktu itu, aku kelas empat. Tubuhku sering menggigil bukan karena dingin, melainkan karena takut kehilangan momen memandang punggung ibu yang sibuk.
Ibu menata ikatan kangkung, terung ungu yang mengilap, pisang talas yang masih hijau, dan jeruk yang wangi. Tangannya cekatan. Telapak tangannya kasar, penuh garis, seperti peta panjang perjalanan hidup. Di telapak tangan itu aku tumbuh, katanya suatu pagi sambil tersenyum tipis.
“Bangun, Nak,” ucapnya lembut. “Air sungai menunggu.”
Aku mengangguk sambil mengucek mata. Ibu selalu mengajakku. Bukan karena tak ada yang menjaga, melainkan karena ia ingin aku melihat hidup dari dekat. Ia ingin aku tahu bahwa rezeki tidak turun dari langit, melainkan dijemput dengan doa dan keringat.
Kami turun ke jukung. Air sungai berkilau memantulkan lampu lampu di tepi siring. Perahu kecil lain mulai bergerak, para pedagang saling menyapa. Suara tawa dan sapaan bercampur dengan riak air. Ibu mendayung dengan irama yang kukenal. Setiap kayuhan seperti detak jantung yang menenangkan.
“Pegang ini,” kata ibu sambil menyerahkan sepotong kain. “Kalau dingin, berselimutlah!”
Aku memeluk kain itu. Wajah ibu diterpa angin sungai. Kerudungnya sederhana, warnanya mulai pudar. Di balik itu ada keteguhan yang tak pernah pudar.
Pasar dermaga terapung Siring Tendean hidup ketika matahari menyingsing. Jukung-jukung saling menyenggol. Ada yang menjual ikan, kue tradisional, sayur, buah. Ibu menyapa pelanggan dengan senyum yang jujur. Ia menimbang dengan hati hati, tidak pernah mengurangi timbangan.
“Berapa sekilo terongnya, Bu?” tanya seorang perempuan.
“Tiga ribu, bisa ditawar asal jangan lupa doakan anak saya,” jawab ibu sambil tertawa kecil.
Aku tersipu. Ibu selalu membawa namaku dalam jualannya. Doa menjadi bagian dari transaksi. Aku belajar bahwa nilai hidup tidak selalu bisa dihitung dengan uang.
Hujan turun lebih cepat ketika kami di perjalanan pulang. Angin membuat jukung bergoyang. Aku ketakutan. Ibu meraih tanganku, menggenggam erat.
“Tenang,” katanya. “Kalau kau pegang tangan ibu, kau tidak akan jatuh.”
Aku percaya. Telapak tangannya hangat. Garis garis di sana seperti akar yang mengikatku ke bumi.
***
Waktu berjalan. Aku tumbuh sebuah sekolah menengah, tak jauh dari rumahku. Sekolah menjadi jarak yang mempertemukanku dengan dunia lain. Sepatu hitam yang ibu beli dari hasil jualan sering kebesaran. Aku tahu itu karena ia ingin sepatu itu awet. Aku tidak pernah protes. Aku tahu harga sebuah sepatu adalah satu hari berlama-lama di sungai.
Suatu siang aku pulang dengan wajah murung. Nilai ujianku jelek. Aku takut ibu kecewa. Ia sedang membersihkan terong di dapur.
“Kenapa diam,” tanyanya.
Aku menunduk. “Nilai ulanganku turun.”
Ibu menghentikan pekerjaannya. Ia menatapku lama, lalu tersenyum.
“Seperti air sungai, begitulah ulangan kamu,” katanya. “Jangan patah semangat.”
Aku menangis. Air mata jatuh ke lantai. Ibu memelukku. Pelukannya tidak keras, tetapi cukup untuk menahan dunia agar tidak runtuh.
Hari hari berikutnya ibu semakin sering batuk. Aku melihatnya menahan dada, meneguk air putih sebelum kembali bekerja. Aku menyarankan ia istirahat.
“Kalau ibu tidak turun ke sungai, siapa yang menjajakan jeruk-jeruk ini,” kata ibu sambil tertawa kecil.
Aku ingin memaksa, tetapi aku tahu ibu keras kepala. Ia lebih memilih sakitnya sendiri daripada melihat dapur kami kosong.
Suatu siang, sepulang sekolah, aku mendapati ibu belum pulang. Matahari sudah tinggi. Jantungku berdebar. Aku berlari ke tepi sungai. Seorang tetangga mengatakan keadaaan ibu.
“Ibumu tadi pusing,” katanya. “Dia beristirahat sebentar di siring.”
Aku berlari walau jaraknya cukup jauh. Ibu duduk di bangku, wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Aku memegang telapak tangannya. Dingin.
“Kita pulang,” kataku.
Ibu menggeleng pelan. “Sebentar lagi.”
Aku tidak mengerti mengapa ibu selalu menunda dirinya sendiri. Mengapa tubuhnya selalu nomor dua. Aku ingin berteriak, tetapi suara itu tertahan di tenggorokan.
Malamnya ibu demam. Aku duduk di sampingnya, mengompres dahi. Ia membuka mata. “Kau sudah makan,” tanyanya.
Aku mengangguk walau sebenarnya belum. Ia tersenyum lega. “Besok kau sekolah,” kata ibu. “Jangan telat.”
Aku ingin berkata bahwa aku ingin ibu sehat saja. Aku ingin ibu tidak ke mana-mana. Tetapi kata kata itu tidak keluar.
Hari itu menjadi titik balik. Ibu benar-benar sakit. Dokter bilang ia harus banyak istirahat. Aku mulai membantu berjualan di depan setelah pulang sekolah. Aku belajar menimbang, menyapa pelanggan. Tanganku mulai kasar. Ibu memandangi telapak tanganku.
“Lihat,” katanya. “Kau tumbuh.”
Aku tersenyum pahit. Aku tumbuh di telapak tangan ibu, tetapi ibu justru semakin menyusut.
Suatu subuh hujan turun deras. Sungai mengamuk. Aku menyarankan ibu tidak berjualan. “Tidak apa,” katanya. “Rezeki tidak suka ditinggal.”
Aku harus ikut. Kami berangkat. Di tengah sungai, angin memukul jukung. Ibu mendadak memegangi dadanya. Dayung terlepas.
“Ibu!” Aku berteriak. Ibu tersenyum lemah. “Pegang tangan ibu.”
Aku menggenggam telapak tangannya. Jukung oleng. Aku berteriak meminta tolong. Pedagang lain mendekat. Kami ditarik ke siring.
Ibu dibawa ke puskesmas. Bau obat menusuk. Aku duduk di luar. Waktu seperti berhenti. Seorang perawat keluar.
“Kamu keluarga Ibu Hayati,” katanya.
Aku mengangguk. Aku dipersilakan masuk. Ibu terbaring. Matanya terpejam. Aku memegang telapak tangannya. Hangatnya berkurang.
“Ibu,” bisikku. “Aku di sini.” Matanya terbuka. Ibu tersenyum.
“Maaf,” katanya pelan. “Ibu sering mengabaikan tubuh sendiri.”
Air mataku jatuh. “Ibu akan sembuh.”
Ibu menggeleng. “Kalau ibu tak sembuh, kau harus kuat. Ingat telapak tangan ini.”
Ibu menutup mata. Nafasnya pelan. Sepi.
***
Pemakaman berlangsung sederhana. Sungai menjadi saksi. Para pedagang datang. Mereka menangis. Ibu ternyata hidup di banyak telapak tangan, bukan hanya milikku.
Hari-hari setelahnya kosong. Aku datang ke pasar tanpa ibu. Jukung terasa berat. Aku menata sayur dan buah. Pelanggan bertanya.
“Ibumu mana?”
Aku tersenyum tipis. “Ibu pulang.”
Mereka mengerti. Mereka membeli lebih banyak. Doa mengalir. Aku belajar berdiri di tempat ibu berdiri.
Suatu pagi aku memandangi telapak tanganku. Garis-garisnya bertambah. Aku mengingat kata-kata ibu. Di telapak tangan ibu, aku melihat ibu membuat jalan ke surga untukku. Kini di telapak tanganku, kenangan itu hidup.
Aku mendayung. Sungai berkilau. Siring Tendean menyambut pagi. Aku menyapa pelanggan dengan senyum ibu. Di setiap timbangan ada doa. Di setiap kayuhan ada air mata yang menjadi tenaga.
“Ibu,” bisikku pada sungai. “Aku tidak jatuh.”
Angin menjawab pelan. Aku tahu, telapak tangan itu masih menggenggamku, meski tak terlihat. (*)
Tentang Penulis:
Muhamad Yusuf adalah seorang cerpenis sekaligus penulis, tinggal di Banjarmasin. Dia juga seorang pengajar Bahasa di SMAN 1 Banjarmasin.
Editor : Arief