Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

PHK Startup Ruangguru: Antara Bisnis dan Kultur Pendidikan

Arief • Senin, 17 April 2023 | 09:35 WIB
REINDY THEDJA SUKMANA, Guru ekonomi MAN 3 Banjarmasin
REINDY THEDJA SUKMANA, Guru ekonomi MAN 3 Banjarmasin
GELOMBANG pemutusan hubungan kerja (PHK) pada startup masih belum berakhir. Setelah Goto, Shopee, Zenius, dan JD.ID melakukan PHK besar-besaran, kali ini Ruangguru menyusul melakukan PHK massal.

Oleh: REINDY THEDJA SUKMANA
Guru ekonomi MAN 3 Banjarmasin


Pendiri sekaligus CEO Ruangguru, Belva Devara angkat bicara melalui akun instagramnya @belvadevara terkait PHK massal yang terjadi di Ruangguru. Menurut Belva, keputusan PHK adalah keputusan berat yang harus diambil perusahaannya. Keputusan ini harus diambil karena memburuknya ekonomi global yang menyebabkan kenaikan inflasi dan tingkat suku bunga dan memperburuk iklim investasi. Selain karena faktor eksternal (memburuknya ekonomi global), keputusan PHK harus diambil karena Ruangguru terlanjur melakukan rekrutmen besar-besaran pada saat pandemi covid.

Model Bisnis Ruangguru


Ruangguru adalah aplikasi layanan belajar online interaktif. Pengguna Ruangguru harus berlangganan agar dapat memilih berbagai macam kelas pelatihan yang disediakan. Paket produk layanan pembelajaran online yang disediakan terdiri dari berbagai macam jenjang pendidikan, dari tingkatan PAUD sampai UTBK/SNMPTN. Apabila pembelajaran tatap muka dibatasi oleh ruang dan waktu, maka pada pembelajaran online pengguna dapat belajar di mana saja dan kapan saja.

Apabila kita ingin mencari aplikasi yang menyediakan (di antaranya) video-video pembelajaran, paling mudah kita dapat menemukan YouTube. Perbedaan Ruangguru dengan YouTube secara konten adalah, Ruangguru adalah aplikasi pembelajaran online yang memang didesain khusus untuk pembelajaran. Sehingga saat kita masuk ke dalam aplikasinya, maka isi kontennya fokus hanya tentang pembelajaran. Berbeda dengan YouTube yang isi kontennya sangat beragam.

Selain konten tentang pendidikan, kita pada saat yang bersamaan juga dapat menemukan bermacam-macam konten lainnya. Perbedaan lain antara Ruangguru dengan YouTube adalah, apabila Ruangguru berbayar sedangkan YouTube gratis. Ruangguru berbayar hal ini dapat dipahami, karena Ruangguru harus membayar para tutor yang bekerja untuk aplikasinya dan membayar biaya-biaya promosi. Berbeda dengan YouTube yang dapat ditonton video-vieonya secara cuma-cuma.

Sekalipun YouTube gratis, namun pada faktanya dengan luasnya isi konten di dalam YouTube kita nyaris dapat menemukan hampir semua topik pembelajaran untuk semua jenjang pendidikan didalam YouTube. Tanpa perlu berlangganan, cukup mencari melalui kata kunci kita juga dapat menenmukan berbagai macam video-video pembelajaran.
Dapat kita lihat bahwa model bisnis Ruangguru tidaklah terlalu unik sehingga karena keunikannya penggunanya sulit mencari opsi pilihan lain. Apabila kita dapat mengkases yang serupa secara cuma-cuma, kenapa kita harus membayar?

Kultur Belajar Masyarakat


Aplikasi belajar online semacam Ruangguru mendapatkan berkah besar pada saat pandemi corona melanda Indonesia. Pagebluk menjadikan aktivitas sosial terpaksa dilakukan dari rumah. Termasuk dalam bidang pendidikan. Para murid terpaksa untuk belajar secara daring. Agar pembelajaran dari rumah dapat berjalan dengan lebih baik, maka aplikasi pembelajaran online seperti Ruangguru menjadi pilihan. Berkah karena pandemi ini pun diakui oleh CEO Ruangguru, bahwa dalam dua tahun terakhir sejak Covid-19 melanda, Ruangguru melakukan rekrutmen karyawan besar-besaran.

Siswa sebagai pengguna pembelajaran online, maka penting bagi kita mengetahui bagaimana respons mereka terhadap pembelajaran online? Penelitian yang dilakukan oleh Haris Nursyah Arifin menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak menyenangi pembelajaran online. Siswa merasa kesulitan dalam belajar karena tidak dapat berinteraktsi langsung dengan guru. Dalam proses belajar, siswa tidak hanya menjadi objek pasif penerima informasi satu arah. Namun dalam proses belajar idealnya ada proses interaktif antara siswa dan guru. Sentuhan belajar interaktif inilah yang sulit didapatkan dalam proses belajar online.

Masih berdasarkan hasil penelitian Haris Nursyah Arifin, dalam pembelajaran online siswa merasa tidak dapat belajar secara bersama-sama dengan teman-temannya. Siswa selama ini terbiasa belajar bersama-sama dengan temannya namun pada saat pembelajaran online siswa merasa kesepian dan harus belajar sendiri. Penggunaan aplikasi seperti Ruangguru memang tetap dapat mengumpulkan siswa yang sedang belajar dalam sebuah aplikasi. Namun tetap saja, bagi siswa tidak dapat menggantikan suasana belajar bersama temannya di dalam kelas.

Pendidikan di Indonesia selama ini berlangsung secara tatap muka. Siswa dan guru selama ini sudah sangat terbiasa, belajar secara tatap muka di dalam kelas dan hal ini menjadi kultur dunia pendidikan Indonesia. Pada saat pandemi, pembelajaran sesaat beralih kedunia online. Namun pada saat keadaan sudah normal, maka proses pembelajaran kembali seperti sedia kala: kepada pembelajaran tatap muka. Pandemi hanya mengalihkan sementara proses belajar, namun tidak akan merubah kultur pembelajaran yang sudah ada.

Kembalinya murid pada kultur pembelajarannya menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu model bisnis seperti yang dijalankan Ruangguru. Booming belajar online hanyalah musim sesaat. Pada saat keadaan normal, maka murid kembali memilih pembelajaran melalui tatap muka.

Kesimpulan


Keberadaan aplikasi pembelajaran seperti Rungguru dapat menjadi salah satu pilihan siswa untuk menambah pembelajarannya. Belajar melalui aplikasi juga dapat mengakrabkan siswa dengan dunia teknologi. Keberadaan aplikasi seperti Ruangguru sangat baik untuk membantu dunia pendidikan.

Namun sebagai sebuah perusahaan, Ruangguru perlu memikirkan apa keunikan layanannya sehingga siswa yang menjadi penggunanya tetap memilih berlangganan aplikasi Ruangguru pada saat dunia pembelajaran kembali normal. (al/fud) Editor : Arief
#Opini Guru