Oleh AGUS SUBANDONO
Sastrawan
Penyadap karet di perkebunan Wikau, Tabalong
Tengkulak dan pasar biasanya ada hanya pada hari Senin dan Jumat. Tengkulak dan anak buahnya yang mengendarai motor dan truk akan berkeliling kampung membeli getah dari penyadap getah. Suara bising dari mesin motor yang hilir-mudik memekakkan telinga.
Orang-orang kampung yang biasanya berada di ladang, sawah atau perkebunan biasanya menampakkan wajahnya. Bila mereka berjumpa akan saling menyapa dan beramah tamah. Walaupun tampak guratan-guratan kelelahan di wajah-wajah mereka, tetapi seulas senyum dari perjuangan, kerja keras beberapa hari akan terbayarkan pada pagi ini.
Sekitar ratusan kepala keluarga menggantungkan penghasilannya dari menyadap getah karet. Walaupun di antara mereka ada juga yang bertani, berladang dan pedagang. Tetapi penghasilan dari getah keretlah yang menjadi penghasilan utamanya.
Pagi-pagi sekali tercium aroma yang khas sekali, menyengat dan kurang sedap. Itulah bau getah karet. Baunya memang tidak enak, tetapi harum dari rupiah membuat bau tersebut terabaikan.
Orang-orang kampung sibuk menyiapkan getah-getah karet yang akan dijual pada tengkulak. Masing-masing menyiapkan getahnya yang dimasukan ke dalam karung-karung. Wajah-wajah gembira, sedih, tegang mengharap penghasilannya bertambah kali ini.
***
Berawal ketika Christopher Columbus menemukan benua Amerika di tahun 1476, ia tercengang melihat orang-orang Indian memainkan bola yang jika jatuh ke bumi bisa memantul. Bola itu terbuat dari campuran akar, kayu, rumput dan bahan lateks yang dipanaskan di api unggun dan dibentuk seperti bola.
Sekitar tahun 1731 banyak ilmuawan yang tertarik dan menyelidiki bahan tersebut. Salah satunya bernama Fresnau, orang Perancis ini melaporkan banyak tanaman yang menghasilkan karet atau lateks di antaranya adalah dari jenis Havea Brasilienssis yang tumbuh di hutan Amazon, Brasil. Kini tanaman tersebut dibudidayakan di Asia Tenggara dan menjadi penghasil karet utama di dunia.
Sedangkan di tahun 1770, seorang ahli kimia berkebangsaan Inggris yang bernama Joseph Preistly menemukan bahwa lateks yang dikeringkan dapat dijadikan bahan untuk menghapus tulisan pensil. Sehingga karet terkenal dengan nama rubber, dari kata to rub yang berarti menghapus. Walau benda elastis (menyerupai karet ini) dulu bernama ilmiah elastomer, tetapi nama rubber lah yang terkenal di kalangan awam.
Di Indonesia sendiri, tanaman karet pertama kali ditanam di Bogor, Jawa Barat tahun 1876. Semai-semainya berasal dari biji-biji karet yang dikumpulkan oleh A Wickman, berkebangsaan Inggris dari Amazon.
Tanaman karet dapat berusia hingga 30 tahun dan dapat menghasilkan lateks menginjak awal tahun ke-6. Secara ekonomis, tanaman karet dapat disadap selama 15-20 tahun.
Penyadapan menggunakan pisau sadap dengan memotong kulit pohon karet sampai batas kambium. Penyadapan sebaiknya dilakukan sebelum matahari terbit atau sekitar jam 5-7 pagi karena pada waktu inilah lateks belum dibawa ke daun-daun untuk proses fotosentesis sehingga lateks yang dihasilkan lebih banyak.
Selain sebagai sumber devisa negara, lateks juga mempunyai banyak manfaat. Lateks dapat digunakan untuk berbagai macam produk. Dari produk topi, wig, karet di dasi, celana, ikat pinggang, hingga sepatu dan sandal. Karet juga digunakan untuk membuat ban kendaraan, belt mesin, conveyor, selang silikon untuk makanan, karet lining, karet finder, karet ebonit, bakelit, karet roll, karet serbuk dan seterusnya.
Ternyata, banyak sekali manfaat dari lateks ini. Tetapi tahukah anda, orang-orang yang bekerja mengumpulkan getah ini?
Mereka bekerja keras dengan susah payah mengharap dari tetes demi tetes getah yang keluar dan jatuh ke dalam wadah. Rezeki mereka berada di tetes demi tetes getah dan lelah. Mereka rata-rata bermandikan keringat, kotor, bau dan letih sekali. Karena untuk menghasilkan lateks yang banyak maka juga dibutuhkan lahan yang luas juga. Demikian juga, bila pekerja penyadap ingin mendapatkan penghasilan yang lumayan, maka mereka harus bekerja pada lahan yang lumayan luas juga.
Rata-rata penyadap getah bekerja pada lahan seluas satu hektare, dua atau tiga hektare. Dan tidak seperti dalam teori bekerja, hanya dari jam 5 hingga jam 7 pagi, kenyataannya banyak di antara mereka yang bekerja dimulai pada jam 2 atau 3 pagi hingga selesai di waktu subuh. Tentu ada juga yang bekerja ketika matahari telah terbit. Untuk menyelesaikan penyadapan dengan lahan seluas satu ha dibutuhkan rata-rata dua jam lebih. Sehingga jika menyadap dua ha maka membutuhkan waktu sekitar empat jam lebih.
Menyadap karet memang pekerjaan yang cukup melelahkan dan penuh risiko. Lingkupan kerjanya juga penuh dengan tantangan. Kewaspadaan, keberanian, kekuatan stamina, keterampilan dibalut dengan kesabaran dalam menjalani pekerjaan ini. Selain faktor cuaca, segi keamanan juga perlu diperhatikan. Bila hujan, maka getah yang disadap dapat rusak bahkan pekerjaan kita menjadi sia-sia. Begitu juga gangguan hewan-hewan liar, gigitan serangga-serangga, terkena pisau sadap bahkan tertimpa dengan batang kayu. Maka nyawalah jadi taruhannya.
Setelah bekerja, mereka berharap getah yang keluar banyak. Tetapi banyak juga yang kecewa karena hasilnya kurang dari harapan dan perkiraan. Hal ini disebabkan karena faktor kesalahan penyadapan atau teknis lainnya. Bahkan bisa juga, setelah bekerja beberapa hari, getah yang telah terkumpul di dalam wadah dicuri orang. Maka, pupuslah harapan.
***
Bilakah cinta diumpamakan seperti getah karet, semakin lama semakin melekat dan lengket maka banyak yang akan mencari getah karet dan bahagia. Hidup akan menjadi indah.
Akan tetapi sungguh sayang disayang, nasib penoreh getah karet tidaklah seindah cinta tadi karena harga getah karet sedang turun. Kini harga getah karet di Kalsel per kilogram di pengumpul sekitar Rp8.000 dan tidak naik-naik. Harga per kg turun sejak bulan Oktober 2022 hingga sekarang. Bahkan di bulan November 2021, per kg harganya Rp7.700. Turun drastis. Harga sebelumnya per kg berkisar Rp10.000 dan tiba-tiba turun.
Biasanya getah yang terkumpul dalam seminggu untuk sehektar yang berisi kira-kira 500 batang pohon dan rata-rata menghasilkan 30 kg per minggu, sehingga 30 x Rp8.000 = Rp240.000. Jika sebulan, maka 4 x Rp240.000 = Rp960.000. Jadi pendapatan sebulan sangat minim sekali.
Walaupun banyak di antara penoreh getah karet yang juga bertani, berkebun, dan beternak, tetapi banyak juga yang hanya mengandalkan dari pendapatan getah karetnya. Lebih menyedihkan lagi banyak penoreh getah yang mengumpulkan getah karet di kebun orang lain sehingga harus berbagi pendapatan dengan pemilik lahan.
Sungguh ironi memang, di kala gaji naik atau UMP (Upah Minimun Provinsi) di Kalimantan Selatan naik menjadi Rp3.149.977 bahkan mereka juga mendapatkan BSU (Bantuan Subsidi Upah) sebesar Rp600.000, harga BBM ikut naik, harga telur juga naik, dan seterusnya tetapi malah harga karet malah melorot.
Seharusnya pengorbanan dari mengumpulkan getah karet dapat mengembalikan harga karet menjadi Rp10.000 atau bahkan menjadi Rp15.000 per kg. Perjuangan dari penyadap karet juga telah berjasa mengisi kemerdekaan ini, walau banyak di antara mereka yang dijerat dengan kemiskinan.
Penyadap getah karet, oh nasibmu kini.... (fud) Editor : Arief