Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini Metropolis: Mahasiswa Neo Fasis

M
Penulis: M. Syarifuddin❯
Warga Rohingya
Warga Rohingya

BERGIDIK ngeri ketika melihat mahasiswa Aceh mengusir pengungsi Rohingya. Perempuan dan anak kecil menangis ketakutan. Dikepung pendemo berjaket almameter.


Advertisement

       Oleh MUHAMMAD SYARAFUDDIN
       Redaktur di Radar Banjarmasin

Padahal mahasiswa adalah golongan intelektual. Mereka mestinya skeptis. Tidak menelan mentah-mentah konten TikTok yang mendemonisasi pengungsi Rohingya.

Ingat baik-baik nama kampus asal bibit-bibit fasis ini. Mereka datang dari Al-Washliyah, Universitas Abulyatama, dan Bina Bangsa Getsempena.

Advertisement

Korlap Muhammad Khalis membela aksi rasis itu dengan menyatakan sudah ada tersangka kasus penyelundupan manusia yang diusut Polresta Banda Aceh.

Argumen itu terdengar tolol karena tidak bisa memisahkan antara satu kasus pidana dengan isu kemanusiaan yang lebih besar.

Bikin malu. Apalagi pengusiran itu diliput media asing. Mata masyarakat dunia telah menontonnya.

Advertisement

Memang tak bisa disangkal. Ada segelintir pengungsi yang berperilaku tak tahu berterima kasih.

Tapi begitulah kerumunan manusia, apapun etnis dan agamanya. Dalam kumpulan seratus manusia, pasti ditemukan satu dua orang berwatak kriminal.

Mahasiswa juga harus banyak membaca sejarah. Supaya berhenti membenci UNHCR, badan pengungsi di bawah PBB.

Mereka lupa. Ketika status darurat militer diberlakukan pada 2003, ada tujuh ribu pengungsi Aceh yang diurusi UNHCR. Sebagian besar mengungsi ke Malaysia.

Gelombang pengungsi muncul akibat trauma. Sebab operasi TNI tak bisa membedakan mana warga sipil dan mana kombatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Ketika bencana tsunami, UNHCR juga turut membantu Aceh. Orang Indonesia seharusnya yang paling memahami makna utang budi.

Di media sosial, saya juga menangkap kekhawatiran berlebihan. Katanya Rohingya bakal menganeksasi tanah Indonesia. Narasi irasional itu disebarkan influencer tak bertanggung jawab.

Ayolah! 278,8 juta penduduk Indonesia tidak perlu mencemaskan 1.543 pengungsi—data UNHCR, jumlah pengungsi yang tiba di Aceh sejak pertengahan November 2023 sampai 10 Desember.

Para influencer itu harus diingatkan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Saya juga berharap, ketiga calon presiden lebih berhati-hati ketika diwawancara atau berkampanye. Jangan mengompori.

Beberapa jam sebelum aksi mahasiswa barbar itu, Prabowo Subianto mengunjungi Aceh.

Menyatakan tidak fair bila RI menampung pengungsi, sementara rakyat sendiri masih susah.

Disclaimer: saya tidak bermaksud mengait-ngaitkan antara aksi mahasiswa dengan kunjungan Prabowo. Cuma, alangkah baiknya berhati-hati. Biar bagaimana pun Prabowo adalah Menteri Pertahanan RI.

Dan sampailah kita pada pertanyaan utama, mengapa menolong Rohingya?

Secara historis, Rohingya adalah minoritas Muslim yang ditindas junta Myanmar, pemerintah yang dikuasai mayoritas Buddhis.

Orang Rohingya dilewatkan dari sensus kependudukan, hak pilihnya di pemilu dicabut, berdekade-dekade menghadapi represi militer. Dalam situasi itu, Rohingya mencari suaka.

Jika kita bisa berempati kepada Palestina yang dijajah Israel, mengapa menolak Rohingya?
Mungkin inilah cara Tuhan menguji rasa kemanusiaan masyarakat Indonesia.

Advertisement

Artikel Terkait

Siapa yang Menjaga Para Penjaga? Ketika Pengawal Konstitusi Menjadi Pembentuk Undang-Undang

Siapa yang Menjaga Para Penjaga? Ketika Pengawal Konstitusi Menjadi Pembentuk Undang-Undang

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 260/PUU-XXIII/2025 menghadirkan persoalan konstitusional yang jauh lebih besar daripada sekadar perdebatan

Sumpah “Serapah” Pemuda 2026: Saatnya Berhenti Mengeluh, Mulai Merapikan Bangsa

Sumpah “Serapah” Pemuda 2026: Saatnya Berhenti Mengeluh, Mulai Merapikan Bangsa

Setiap 28 Oktober, kita kembali mendengar tiga ikrar yang sudah dihafal sejak sekolah: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Bunyinya se

Ketika AI Berpikir, Apakah Pelajar Masih Belajar?

Ketika AI Berpikir, Apakah Pelajar Masih Belajar?

Seorang siswa mendapat tugas menulis esai dari gurunya. Alih-alih membaca buku, memahami persoalan, lalu merangkai gagasan dengan pikirannya

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer