Membaca Sekaligus Membangun Interaksi, Menumbuhkan Cinta Baca dari Suara Nyaring

Hari itu, tema yang diangkat adalah tumbuhan. Setelah membaca, kegiatan berlanjut ke praktik sederhana membuat ecoprint dari daun dan ranting.
****
Suara tawa anak-anak sesekali pecah di salah satu ruang kelas SDN Guntung Manggis 1. Mata mereka tertuju pada sebuah buku cerita yang dibacakan dengan penuh ekspresi. Tak sekadar mendengar, mereka ikut menebak alur cerita, bahkan berebut menyampaikan pendapat.
Pagi itu, ruang kelas di SDN Guntung Manggis 1 tak sekadar jadi tempat belajar. Namun juga berubah menjadi ruang cerita. Di depan kelas, relawan dari Read Aloud Kalimantan Selatan membacakan buku dengan intonasi naik turun.
Sesekali mereka berhenti, melempar pertanyaan, memancing rasa penasaran. Anak-anak pun larut bukan hanya mendengar, tetapi ikut masuk ke dalam cerita.
Di situlah metode membaca nyaring atau read aloud menemukan kekuatannya. Bukan sekadar membacakan teks, melainkan membangun interaksi. “Kira-kira seperti itulah gambaran kegiatan kami,” ungkap Ketua komunitas, Eka Rahmawati.
Ia menyebut, inti dari metode ini ada pada keterlibatan anak. “Read aloud itu membaca dengan menciptakan interaksi. Jadi tidak hanya menambah kosa kata, tapi juga membantu anak-anak berpikir kritis,” ujarnya.
Sesi membaca menjadi pintu masuk. Setelah itu, anak-anak diajak bergerak. Buku ditutup, kegiatan berlanjut ke praktik sederhana membuat ecoprint dari daun dan ranting.
Tangan-tangan kecil itu sibuk menyusun daun, menekan, lalu melihat hasilnya muncul di atas kertas.
Belajar tak lagi terasa seperti kewajiban. Namun berubah jadi pengalaman. “Metode seperti ini memang dirancang seperti itu,” ungkap Eka.



