Total luas lahan tersebut membuat Kota Banjarbaru menduduki posisi ketiga, di bawah Kabupaten Tanah Laut dengan 9.578,79 hektare lahan yang terbakar, dan Kabupaten Banjar 8.346,35 hektare.
Meski sudah hampir menyentuh angka 2.000 hektare, data penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Banjarbaru terjadi penurunan. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru, dr Juhai Triyanti Agustina mengatakan dibandingkan dengan pekan lalu, saat ini pihaknya mencatat terjadi penurunan jumlah ISPA di Kota Banjarbaru.
Di pekan ke-37, pihaknya mencatat total kasus ISPA sebanyak 881 pasien. Sedangkan di pekan ke-38, total pasien ISPA yang tercatat 846 orang saja.
Jika ditotal sejak Januari 2023, kasus ISPA di Kota Idaman ini sudah mencapai 26.175 orang.
Meski demikian, Juhai mengakui bahwa jumlah tersebut tidak menggambarkan kondisi kasus ISPA sebenarnya di Kota Banjarbaru. "Ini yang tercatat karena mereka berobatnya di puskesmas. Namun di luar sana, kemungkinan bisa lebih banyak dari jumlah tersebut," banding Juhai, Selasa (26/9) siang.
Ia mengakui tidak semua pengidap ISPA di Kota Banjarbaru ini berobat ke puskesmas. "Ada yang ke klinik, praktek dokter mandiri, dan juga berobat sendiri pakai obat dari warung," katanya.
Juhai mengakui bahwa tingginya kasus ini memang disebabkan pekatnya kabut asap akibat karhutla yang semakin marak terjadi di Kota Banjarbaru. Ia mengimbau agar masyarakat bisa disiplin dalam menjaga kesehatannya selama musim kemarau panjang ini belum berakhir. Misalnya dengan mengurangi kegiatan, dan selalu mengenakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, serta rutin mengonsumsi air putih dan makanan bergizi.
"Kalau bisa juga pakai kacamata, karena kabut asap tidak hanya mengganggu jaringan pernapasan saja. Namun, juga bisa membuat iritasi pada mata," ujarnya.
Menurutnya, jika masyarakat ingin mengobati pakai cara herbal juga dipersilakan. Misalnya, jeruk nipis pakai kecap asin, atau dengan mengonsumsi madu juga boleh. "Tapi kalau berlanjut lebih dua hari, harus segera periksakan ke puskesmas terdekat," pesannya.
Selain ISPA, inspeksi saluran pencernaan juga harus diwaspadai selama musim kemarau ini. Zat polutan dari asap karhutla dan debu selama musim kemarau ini, pasti akan menempel di bahan makanan. “Seperti di buah dan sayuran yang kita konsumsi. Jadi harus dicuci sebelum dikonsumsi," ingatnya.
Untuk meminimalkan dampak kabut asap, Juhai menyarankan agar warga maupun relawan yang selalu berkecimpung di tengah kabut bisa membasahi masker dengan air. "Dibasahi sedikit saja, supaya udara yang terhirup bisa lebih tersaring. Karena air di masker itu bisa jadi filter alami," tukasnya.
Masih tingginya angka kasus ISPA menjadi perhatian anggota DPRD Kota Banjarbaru, HR Budiman. Menurutnya, kondisi ini menandakan Kota Banjarbaru sudah darurat akibat bencana ekologi. Tak sedikit warga Kota Banjarbaru yang merasakan dampak akibat karhutla. Bahkan kualitas udara Kota Banjarbaru sempat menduduki terburuk se-Indonesia.
Politisi PDI-P ini menyebut bahwa apa yang diungkapkan Kepala BMKG Kalsel dalam Rakor Penanganan Karhutla, Kabut Asap, dan Kekeringan pada 21 September lalu, memang tampak terjadi. "Kondisi ini akibat minimnya sinergi dari seluruh SKPD terkait. Harusnya kawan-kawan yang berada di bidang penanganan bencana sudah bisa mengantisipasi hal ini dengan mitigasi bencana yang matang," tegasnya.
Menurutnya, upaya mitigasi berupa pengendalian bencana dan antisipasi karhutla di Kota Banjarbaru ini tidak berjalan sesuai harapan. "Buktinya banyak titik-titik api baru yang muncul secara berbarengan. Akibatnya kabut asap di tempat kita jadi semakin pekat," tukasnya. "Bahkan polusi asap di Banjarbaru ini saya lihat semakin parah setiap harinya," bandingnya.
Budiman meminta pemerintah kota harus menunjukkan perannya dalam menangani bencana ini. "Harus benar-benar ada dan hadir dalam setiap upaya penanganan bencana di masyarakat," pintanya. "Perbaiki dan evaluasi penanganan yang ada, dan terus berupaya memenuhi hak rakyat untuk bisa hidup nyaman dan bebas gangguan asap," tuntasnya.(zkr/gr/dye) Editor : Arief