Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Scabies Menyerang Siswa SD dan Warga Banjarmasin

Muhammad Helmi • Kamis, 17 November 2022 | 12:04 WIB
MULAI MENGERING: Didampingi gurunya, siswa SDN Alalak Utara 3 memperlihatkan scabies yang menyasar bagian jari-jari lengannya. FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
MULAI MENGERING: Didampingi gurunya, siswa SDN Alalak Utara 3 memperlihatkan scabies yang menyasar bagian jari-jari lengannya. FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
Perih di kaki, sepatu sekolah itu dijinjingnya. Scabies rupanya tidak hanya menimbulkan gatal-gatal. Tapi, juga menimbulkan luka di bagian kulit.

Meski tampak tersenyum, Aqli masih menahan perih. Penyakit kulit berupa bentol-bentol kecil dan gatal itu masih menggerogoti telapak bagian atas, juga di sela-sela jari kaki dan tangannya.

Beberapa tampak masih terkelupas, hingga menjadi luka. Luka terparah Aqli persis di bagian atas telapak dan sela-sela jari kaki. Kondisi itu yang kemudian membuatnya kerap melepas sepatu sekolahnya. "Ini lukanya sudah mulai mengering, karena dikasih salep dan minum obat," ungkap siswa Kelas VI SDN Alalak Utara 3 itu, kemarin (16/11).

Kondisi serupa juga dialami Fadil. Siswa kelas IV itu mengaku scabies menyerang kulitnya sudah dua pekan. Bedanya, kini ia sudah bisa mengenakan sepatu sekolah. "Kalau bentol-bentol di sela jari kaki ini pecah, pasti berair. Sakit bila mengenakan sepatu," ujarnya. "Teman-teman saya juga banyak yang mengalaminya. Malah sampai ada yang tidak bisa menulis gara-gara bentol di jari tangan pecah, luka, dan perih," tambahnya.

Kepala SDN Alalak Utara 3, Nurul Fajriah menjelaskan bahwa kondisi tersebut sudah dialami para siswanya sejak dua bulan yang lalu. Awalnya, hanya dialami beberapa siswa di kelas IV dan VI.

Gejalanya mulai dari ruam merah, diiringi kemunculan bentol-bentol kecil menimbulkan gatal. Posisinya berada di sela-sela jari kaki dan tangan. Hingga telapak bagian atas kaki dan tangan. "Saat itu, belum bisa dipastikan apakah scabies atau bukan," tuturnya, kemarin.

Ketika ada pemeriksaan ulang bersama pihak puskesmas pada Selasa (15/11) tadi, ternyata ada puluhan siswa yang terpapar. Melalui pemeriksaan ulang itu akhirnya bisa dipastikan bahwa penyakit yang dialami siswa adalah scabies. "Dari total 186 siswa, yang terpapar itu jumlahnya kini ada sebanyak 36 siswa," ungkapnya. "Paling banyak siswa kelas IV dan siswa kelas V. Dari kelas VI ada beberapa. Kelas 1 juga ada beberapa," jelasnya.

Pihak puskesmas yang datang lantas melakukan pemeriksaan dan pengobatan gratis. Selain dikasih obat telan, juga dikasih obat oles atau salep, hingga obat tabur seperti bedak.

Nurul membenarkan bahwa ada siswanya yang kesulitan mengenakan sepatu sekolah, hingga memegang pensil atau pulpen. "Bentol kecil itu mengakibatkan gatal. Kalau sudah parah, bisa bernanah, kemudian pecah. Ini yang membuat siswa kesulitan mengenakan sepatu," ungkapnya.

"Ada pula yang kesulitan menggenggam pulpen atau pensil. Ada sekitar 6 siswa yang sempat mengalami hal ini. Makan pun juga susah," tambahnya.

Nurul tidak mengetahui pasti apa yang menjadi pemicu penyakit gatal-gatal tersebut. Berdasarkan keterangan pihak puskesmas, penyebabnya tak lain karena kurang disiplin dalam penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). "Scabies ini katanya dari kutu atau tungau," ujarnya.

Nurul mengaku masih khawatir akan ada banyak siswanya yang tertular. Ia berharap para siswanya bisa lekas sembuh, dan tak ada lagi kasus scabies.

"Mayoritas warga sini dari ekonomi menengah ke bawah. Jadi adanya pengobatan gratis itu sangat membantu, dan sangat kami harapkan. Karena bila di apotek harga obatnya bisa Rp60 ribu sampai Rp80 ribu," bandingnya. "Anak-anak masih masuk sekolah. Rata-rata tinggal penyembuhan. Tapi sekali lagi, kami tetap khawatir akan adanya penularan," tuntasnya.(war/gr/dye)
Editor : Muhammad Helmi
#banjarmasin #Banua Kesehatan