
BANJARMASIN - Hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tak hanya mengancam kelompok lanjut usia. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin menyoroti munculnya kasus hipertensi pada kelompok usia lebih muda, termasuk remaja.
Perubahan gaya hidup dinilai menjadi salah satu pemicu. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, kurang beraktivitas fisik, hingga minim istirahat membuat risiko tekanan darah tinggi semakin perlu diwaspadai sejak dini.
Kepala Dinkes Banjarmasin, Yanuar Diansyah mengatakan pola konsumsi makanan yang tidak sehat turut memengaruhi meningkatnya risiko hipertensi pada usia muda. “Sekarang remaja pun sudah terkena hipertensi akibat pola konsumsi makanan yang keliru. Makanan siap saji itu sangat memengaruhi,” ujarnya di sela Rapat Koordinasi Advokasi dan Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kamis (4/11/2026).
Menurut Yanuar, hipertensi termasuk salah satu penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di Banjarmasin. Persoalan serupa juga menjadi perhatian secara nasional.
Selain pola makan, kurang olahraga dan waktu istirahat yang tidak mencukupi turut menjadi faktor risiko. Karena itu, pencegahan perlu dimulai sejak usia muda agar tekanan darah tinggi tidak berkembang menjadi masalah kesehatan serius.
Untuk memperkuat upaya tersebut, Pemko Banjarmasin menyiapkan anggaran sekitar Rp800 juta dari APBD 2027 untuk program pencegahan dan pengendalian hipertensi. Anggaran itu direncanakan mendukung kegiatan promotif dan preventif melalui puskesmas, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga tekanan darah.
Salah satu upaya yang terus didorong adalah program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui pemeriksaan ini, masyarakat diharapkan dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal, termasuk mendeteksi hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit degeneratif lainnya. “Cek kesehatan gratis itu merupakan kegiatan promotif dan preventif supaya hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit-penyakit yang sifatnya degeneratif bisa ditekan sejak dini,” jelas Yanuar.
Hasil pemeriksaan nantinya menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut medis. Warga yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan akan diarahkan mendapatkan penanganan di puskesmas maupun rumah sakit rujukan sesuai kondisi masing-masing.
Tak hanya hipertensi, masyarakat juga diminta mewaspadai diabetes melitus. Kedua penyakit tersebut membutuhkan pengendalian faktor risiko melalui pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, serta pemeriksaan kesehatan berkala.



