Kuda Gepang, Warisan Tradisi Budaya Masyarakat Banjar yang Terancam Hilang

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 00:45 WIB
TERUS LESTARIKAN: Sanggar Raden Sanjaya di Desa Tangkawang Kecamatan Bakarangan terus lestarikan kesenian kuda gepang.
Foto Firman
TERUS LESTARIKAN: Sanggar Raden Sanjaya di Desa Tangkawang Kecamatan Bakarangan terus lestarikan kesenian kuda gepang. Foto Firman

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Bagi masyarakat Banjar, Kuda Gepang bukan sekadar hiburan pesta pernikahan. Di balik properti kuda dari anyaman bambu, tersimpan kisah panjang tentang kehidupan kerajaan yang diwariskan turun-temurun.

Sanggar Raden Sanjaya di Desa Tangkawang, Kecamatan Bakarangan menjadi salah satu penjaga tradisi itu. Memastikan alur cerita kerajaan tetap hidup di panggung rakyat.

Setiap pementasan disusun layaknya teater rakyat. Ada raja sebagai pusat kekuasaan, patih yang menjadi panglima sekaligus penasehat, amban atau dayang yang melengkapi kehidupan istana, prajurit, hingga para pemusik. Semua bergerak mengikuti alur cerita yang diwariskan sejak lama.

Ketua Sanggar Raden Sanjaya, Supriadi, menyebut kelompoknya diperkuat 33 personel dengan peran berbeda. “Ada yang menjadi raja, patih, amban, prajurit hingga pemain musik. Semua menyatu dalam satu cerita kerajaan,” ujarnya.

Bagi sanggar ini, menjaga Kuda Gepang bukan sekadar mempertahankan sebuah pertunjukan. Yang dijaga adalah ruh cerita, karakter, dan tata pementasan yang menjadi identitas kesenian. Karena itu, alur kerajaan yang menjadi ciri khas Kuda Gepang tidak pernah diubah meski zaman terus berganti.

Di setiap hentakan musik tradisional, tersimpan pesan kepemimpinan, keberanian, kesetiaan, dan kebersamaan. Nilai-nilai itu diwariskan bukan melalui buku sejarah, melainkan melalui panggung rakyat yang hidup di tengah masyarakat Banjar.

Selama ini, Kuda Gepang Raden Sanjaya rutin tampil di resepsi pernikahan, hajatan masyarakat, hingga festival budaya. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat Tapin.

Namun, tantangan terbesar kini bukan lagi mencari panggung, melainkan memastikan ada generasi penerus yang bersedia mempelajari setiap gerak, irama, dan kisah yang terkandung di dalamnya.

Supriadi berharap perhatian pemerintah daerah dan masyarakat terus diberikan agar regenerasi pelaku seni berjalan. “Kalau generasi muda tidak mau belajar, lama-kelamaan kesenian ini bisa hilang. Padahal Kuda Gepang adalah warisan leluhur yang menyimpan sejarah dan menjadi kebanggaan masyarakat Banjar, khususnya di Tapin,” tutupnya. (dly/mof)

 

Editor : Arief
seni Tari Budaya Tapin