RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di tepian sungai yang membelah Kota Banjarmasin, sebuah tradisi tua masih bertahan hingga kini. Malabuh, ritual masyarakat Banjar ini sarat makna spiritual dan diwariskan turun-temurun.
Meski kerap dikaitkan dengan nuansa mistis, malabuh sesungguhnya merupakan warisan budaya yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dalam kepercayaan masyarakat Banjar batang banyu, ritual ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada buaya gaib, makhluk yang diyakini sebagai penghuni sungai dan memiliki kaitan dengan sosok sufi, Nabi Khidir.
Tradisi malabuh ditandai dengan melarungkan sesaji ke sungai. Sesaji yang digunakan antara lain ketan kuning, telur ayam kampung, kembang barenteng, dan pisang. Sebelum sesaji dihanyutkan, tokoh adat atau orang yang dituakan membacakan mantra sakral.
Mantra tersebutmenjadi simbol permohonan izin sekaligus penghormatan kepada penghuni gaib sungai. Sejarawan UIN Antasari Banjarmasin, Mursalin, dalam tesisnya Buaya Gaib dalam Perspektif Urang Banjar Batang Banyu (2016), menegaskan bahwa kepercayaan terhadap buaya gaib bukan sekadar mitos. Ia telah menjadi bagian dari sistem budaya yang diwariskan lintas generasi.
Menurutnya, buaya gaib diyakini sebagai anak buah Nabi Khidir. Karena itu, malabuh dilakukan dengan penuh penghormatan sebagai sarana komunikasi spiritual sekaligus wujud kearifan lokal.
“Ritual malabuh adalah bentuk kearifan lokal yang menunjukkan bagaimana masyarakat memahami relasi antara yang tampak dan yang tak tampak. Ini adalah warisan budaya yang harus dihargai,” ujarnya.
Tradisi malabuh juga mencerminkan akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam, khususnya nilai-nilai tasawuf. Meski identik dengan nuansa mistis, ritual ini tetap hidup berdampingan dengan keyakinan masyarakat Banjar yang mayoritas Muslim.
Mursalin menekankan pentingnya pelestarian tradisi malabuh agar tidak hilang ditelan zaman. “Tujuannya agar nilai-nilai spiritual, sejarah, dan budaya yang terkandung dalam tradisi malabuh tetap terjaga,” pungkasnya. '
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief