Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pernah Disebut Jalan Sekolah Saat Jaman Belanda, Begini Awal Nama Jalan Hasanuddin HM Banjarmasin

Endang Syarifuddin • Senin, 6 Juli 2026 | 09:06 WIB
TEMPO DULU: Jembatan Dewi yang dulu menjadi ujung Jalan School Weg. (Foto: KTLV)
TEMPO DULU: Jembatan Dewi yang dulu menjadi ujung Jalan School Weg. (Foto: KTLV)

TAHULAH Pian. Masyarakat Banjarmasin tentu tahu Jalan Hasanuddin HM. Namun, belum banyak yang tahu jika kawasan tersebut pada zaman Hindia Belanda dikenal dengan nama School Weg atau Jalan Sekolah.

“Diberi nama itu bukan tanpa alasan. Di kawasan tersebut dulunya berdiri Meisje School, sekolah khusus perempuan pada masa itu. Makanya masyarakat mengenalnya sebagai School Weg,” kata sejarawan Banua, Mansyur.

Jalan Hasanuddin HM sendiri membentang dari Bundaran Air Mancur di Simpang Hasanuddin HM, belakang Kantor BCA KCU Banjarmasin, hingga Jembatan Dewi. Kini kawasan itu menjadi salah satu jalur utama sekaligus pusat aktivitas perdagangan di Kota Banjarmasin.

Berdasarkan peta Banjarmasin tahun 1945, nama jalan tersebut belum dicantumkan secara khusus. Namun, sejumlah bangunan penting sudah diberi penanda, seperti gedung bioskop (theatres), pabrik es (ice plants), dan kantor pos (post office). “Hal itu menunjukkan kawasan tersebut sudah menjadi pusat kegiatan masyarakat sejak puluhan tahun silam,” terangnya.

Ketika memasuki era 1970-an, nama School Weg tidak lagi digunakan. Dalam Peta Kota Besar Bandjarmasin tahun 1970, ruas itu tercatat sebagai Jalan Sukaramai.

Beberapa tahun kemudian, pemerintah menggantinya menjadi Jalan Hasanuddin HM sebagai bentuk penghormatan kepada Hasanuddin HM, pejuang Angkatan 66 asal Banjarmasin yang gugur akibat ditembak saat mengikuti aksi demonstrasi menuntut pelaksanaan Tritura pada 10 Februari 1966 silam.

Pada dekade 1980-an, Jalan Hasanuddin HM menjelma menjadi salah satu pusat perdagangan paling ramai di Banjarmasin. Deretan toko berdiri di sepanjang jalan termasuk Bioskop Ria yang sebelumnya bernama Bioskop Rex.

Di sepanjang trotoar di kawasan itu dipenuhi para pedagang. Mulai pedagang buku, majalah, surat kabar hingga berbagai barang kebutuhan lainnya.

Posisinya yang berdekatan dengan Pasar Baru dan Pasar Sudimampir membuat kawasan ini tidak pernah sepi. Namun, ramainya aktivitas ekonomi juga menghadirkan persoalan. “Banyak pedagang memanfaatkan trotoar sehingga ruang pejalan kaki semakin sempit,” terangnya.

Kala itu, Jalan Hasanuddin HM juga masih berfungsi sebagai jalan dua arah. Lebar jalan yang terbatas membuat arus kendaraan kerap tersendat, terutama pada jam-jam sibuk. Di ujung jalan berdiri Bioskop Dewi, tepat di sisi Jembatan Dewi atau Jembatan A. Yani yang melintasi Sungai Martapura.

Jembatan yang mulai difungsikan pada awal Pelita III sekitar tahun 1974 itu menjadi penghubung penting dan membantu mengurai kepadatan lalu lintas di pusat Kota Banjarmasin.

Kini wajah kawasan itu memang telah banyak berubah. Bioskop berganti fungsi, pertokoan terus berkembang, dan arus kendaraan semakin padat. “Namun, nama School Weg yang pernah melekat di ruas jalan tersebut menjadi pengingat bahwa Jalan Hasanuddin HM menyimpan jejak sejarah perkembangan Kota Banjarmasin, dari masa Belanda hingga sekarang,” tutup Mansyur. (gmp/mof)

Editor : Arief
#asal usul #banjarmasin #Sejarah