Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Rumah Perjuangan Kandangan, Diperkirakan Berusia Melampaui 90 Tahun

M Padil Ihsan • Selasa, 30 Juni 2026 | 10:16 WIB
MENYIMPAN SEJARAH: Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV di Desa Durian Rabung, HSS. (Foto: M. Padil Ihsan/Radar Banjarmasin)
MENYIMPAN SEJARAH: Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV di Desa Durian Rabung, HSS. (Foto: M. Padil Ihsan/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di Desa Durian Rabung, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), berdiri sebuah rumah bersejarah yang menjadi saksi penting perjuangan rakyat Kalimantan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Rumah tersebut dikenal sebagai Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV. Berjarak sekitar delapan kilometer dari pusat Kota Kandangan, bangunan bersejarah ini hingga kini masih berdiri kokoh dengan bentuk aslinya yang tetap terjaga.

Rumah ini merupakan milik salah seorang pejuang, H. Abdul Kadir atau yang akrab disapa Kai Jabus. Pada masa perjuangan, rumah tersebut menjadi salah satu tempat berkumpulnya para pejuang dan lokasi berbagai rapat penting yang menentukan arah perjuangan di Kalimantan.

Bangunan rumah berbentuk panggung dengan ukuran sekitar 18 x 10 meter. Di dalamnya terdapat ruang tamu, tiga kamar tidur, ruang tengah, serta dapur di bagian belakang. Tinggi rumah sekitar satu meter dari permukaan tanah, sementara luas keseluruhan lahannya mencapai 47 x 25 meter.

Juru Pelihara Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV, Rukiah, mengatakan tidak ada catatan pasti mengenai kapan rumah tersebut dibangun. Namun, berdasarkan cerita para tetua kampung, usia rumah diperkirakan telah melampaui 90 tahun.

"Tidak diketahui pasti tahun berapa rumah ini dibangun, tapi yang jelas umurnya sudah lebih dari 90 tahun. Ada tokoh tetua di sini yang mengatakan waktu dia masih kecil sekitar tahun 1935, rumah ini sudah ada," ujarnya.

Menurut Rukiah, rumah tersebut dibangun menggunakan kayu sintuk yang terkenal kuat dan tahan lama. "Rumahnya terbuat dari bahan kayu sintuk. Bentuk bangunannya masih asli, hanya diperbaiki pada bagian-bagian yang rusak saja," tambahnya.

Keaslian arsitektur rumah yang masih bertahan hingga kini menjadi bukti bahwa bangunan bersejarah tersebut dirawat dengan baik sebagai bagian dari warisan perjuangan bangsa.

Rumah milik H. Abdul Kadir memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan di Kalimantan. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, rumah tersebut dimanfaatkan sebagai markas bagi para pejuang yang berupaya mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda.

Memasuki tahun 1949, ketika Kandangan menjadi salah satu pusat perjuangan gerilya di Kalimantan, fungsi rumah ini semakin strategis. Letaknya yang berada di wilayah Hulu Sungai Selatan memudahkan komunikasi dan koordinasi dengan daerah-daerah lain melalui jalur pegunungan.

Sejumlah peristiwa penting pun tercatat berlangsung di rumah tersebut. Pada 7 Januari 1949, para tokoh pejuang menggelar rapat pembentukan Panitia Persiapan Proklamasi Kalimantan.

Dari pertemuan itu ditetapkan H. Aberani Sulaiman sebagai ketua, Gusti Aman sebagai wakil ketua, Hasnan Basuki sebagai sekretaris, serta sejumlah tokoh lainnya sebagai anggota.

Selanjutnya, pada 9 Mei 1949, rumah ini kembali menjadi lokasi rapat pembentukan Pemerintahan Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Salah satu keputusan penting yang dihasilkan adalah penunjukan Brigjen H. Hassan Basry sebagai Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Selain menjadikan rumahnya sebagai markas perjuangan, H. Abdul Kadir bersama keluarganya juga memberikan dukungan penuh kepada para pejuang. Tenaga, harta benda, hingga berbagai kebutuhan perjuangan turut disumbangkan sebagai bentuk pengabdian dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kini, Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV tidak hanya menjadi bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi salah satu tujuan wisata edukasi sejarah di Hulu Sungai Selatan. Rumah tersebut masih rutin dikunjungi berbagai kalangan yang ingin mempelajari jejak perjuangan para pahlawan Kalimantan. “Biasanya yang datang ada dari kalangan mahasiswa jurusan sejarah, siswa-siswa sekolah, para Nanang Galuh, dan lain-lain," tutupnya. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#pahlawan #hulu sungai selatan #Sejarah